Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Kedatangan Matthew


__ADS_3

Setelah melalui malam penuh cinta, kini Fazila dan Refal kembali kedunia nyata di mana mereka akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Sayang, rasanya Aku tidak ingin bekerja. Aku suka saat kita ada di rumah, berdua tanpa ada gangguan." Ucap Refal dengan malas, Ia mengalungkan kedua lengannya di leher Fazila, bahkan wajah tampannya menjelaskan kalau Ia tidak ingin kebahagiaan ini mendapat gangguan.


"Jika Kau tidak bekerja, lalu bagaimana dengan Ku? Aku bahkan memaksakan diriku untuk pergi walau sebenarnya Aku tidak ingin jauh darimu."


"Apa sebaiknya kita berhenti bekerja?" Ucap Refal tanpa melepas tatapannya dari wajah cantik Fazila. Tentu saja itu hanya omong-kosong. Dan Fazila pun tahu ucapan suaminya tidak berarti apa-apa.


"Nilai seorang pria di lihat dari kerja kerasnya. Aku tidak suka pria pemalas, Aku juga tidak suka pria yang lemah." Ucap Fazila sambil merapikan jas yang di pakai Refal.


"Aku suka kelembutan ini!" Lagi-lagi Refal memeluk tubuh ramping Fazila. Ia tersenyum. Ia bahagia. Ia tersanjung oleh setiap hal sederhana yang di lakukan Fazila untuknya.


"Malam ini Aku akan terlambat pulang. Aku sudah mengabari pihak Radio dan mengatakan pada mereka kalau malam ini malam terakhirku melakukan siaran. Apa tidak apa-apa jika Aku meninggalkanmu sendirian?"


"Istriku tidak akan bisa meninggalkan Ku sendirian! Karena Aku akan mengikutinya kemanapun dia pergi." Ucap Refal sambil melepas pelukannya.


"Aku akan mengantarmu ke kampus setelah itu aku akan pergi ke kantor." Sambung Refal lagi. Ia mengambil tas kerjanya dan tas Fazila di atas tempat tidur. Setelah itu mereka meninggalkan rumah dinas dengan perasaan bahagia.


...***...

__ADS_1


Sementara itu di tempat berbeda, tepatnya di Bandara, berdiri Bagas sambil menenteng papan nama yang terbuat dari kertas. Hal itu Ia lakukan karena hari ini Matthew akan tiba di Ibu Kota.


"Apa Aku membuatmu menunggu terlalu lama? Aku harap tidak." Ujar Matthew begitu Ia berdiri di depan Bagas.


"Tidak, Tuan. Saya baru saja tiba."


"Ya sudah, ayo kita ke kantor Tuan Alan."


"Tidak, Tuan Matthew. Tuan Alan memerintahkan saya untuk mengantar anda ke Apartemen. Karena kali ini anda akan tinggal dalam jangka waktu yang cukup lama, Tuan Alan sudah menyiapkan segalanya." Balas Bagas sambil meraih koper yang ada dalam genggaman Matthew.


Bagas terlihat membungkukkan badan sebagai tanda hormatnya pada pria muda yang ada di depannya, Ia bahkan menunjuk ke arah pintu keluar, berusaha memberikan isyarat agar Matthew berjalan di depannya.


"Bagaimana dengan pestanya? Apa semua orang menikmatinya?" Matthew mulai mengurai tanyanya begitu mobil yang di kendarai Bagas mulai bergerak meninggalkan area parkir Bandara.


"Pesta? Aahhh, iya. Maksud Tuan Matthew pesta pernikahan putri Tuan Alan, iya, kan?"


"Hmm! Tentu saja, masa Aku bertanya tentang pesta pernikahanmu. Jelas-jelas dari wajahmu tertulis kalau Kau seorang jomblo abadi." Guyon Matthew dengan nada suara pelan. Dan tentu saja Bagas mendengarnya dengan jelas.


Tidak ada balasan dari Bagas selain menyebikkan bibirnya pertanda kalau dia merasa tersinggung.

__ADS_1


"Pestanya berjalan dengan lancar, semua orang terlihat bahagia termasuk Nona Muda." Jawab Bagas sambil menatap lurus kedepan.


"Tentu saja Nona Mu bahagia, Dia mendapatkan lotre dengan menikahi Gubernur Kota Ini. Wanita mana pun pasti akan membanggakan dirinya jika berada dalam posisi Nona mu itu." Sangkal Matthew sambil memainkan ponselnya. Nada bicaranya terdengar meremehkan.


"Tuan Matthew salah. Nona Ku tidak seperti itu. Dia adalah berlian yang selalu berkilau dan akan tetap seperti itu. Jika Nona tidak menikah dengan Pak Gubernur, maka Nona Ku pasti akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Pak Gubernur." Bela Bagas sambil menghadirkan wajah secantik purnama milik Nona mudanya.


"Omong kosong. Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Biasanya jika ada orang yang membela wanita mati-matian, itu artinya pria itu tertarik dengan wanita itu. Apa kau tertarik pada Nona Mudamu itu?"


Uhuk.Uhuk.Uhuk.


Bagas tersedak oleh salivanya sendiri, Ia sangat terkejut mendengar pertanyaan yang di lontarkan Matthew padanya.


"Tu-tuan, aku masih mau hidup. Bagaimana Aku berani memikirkan Nona Muda seperti itu. Dia dan keluarganya sangat baik padaku, bahkan jika Aku harus tiada Aku rela demi membela keluarga Nona Muda.


Apa yang Ku katakan bukan sekadar omong-kosong belaka. Jika Tuan Matthew tidak percaya padaku, malam ini tepatnya jam sepuluh malam Tuan Matthew harus mendengarkan Radio. Hanya dengan mendengar suara Nona Muda, Aku berharap Tuan Matthew bisa mengambil kesimpulan kalau beliau orang yang luar biasa." Celoteh Bagas tanpa menghiraukan raut wajah tidak percaya Matthew tentang penuturan singkatnya.


Baiklah. Mari kita lihat dan kita dengarkan, wanita itu terlalu banyak menerima pujian. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, Aku khawatir dia gadis sekelas Kadek, mantan kekasih Ku yang penuh dengan ambisi dan amarah. Gumam Matthew sembari meletakkan ponselnya di dekat tempat duduknya. Ia bahkan tersenyum meremehkan. Seandainya Matthew tahu sosok gadis yang Bagas sanjung-sanjung, akan seperti apa kondisi hatinya? Hanya Tuhan yang tahu bagaimana nantinya Matthew akan menangani hati dan pikirannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2