Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Malu!


__ADS_3

Dari jarak sepuluh langkah Fazila dan Refal terlihat saling melempar senyuman. Refal terlalu bahagia saat melihat kedatangan Fazila. Dia bahkan ingin segera meninggalkan Pak Mentri yang terus saja mengatakan omong kosong. Omong kosong tentang menjodohkannya dengan putrinya.


"Sudah sampai? Syukurlah. Aku menunggu sejak tadi!" Ucap Refal begitu ia berdiri di depan Fazila. Senyuman menawannya menghipnotis Fazila.


Bukannya menjawab ucapan Refal, Fazila malah menangkup wajah Refal dengan jemari lembutnya. Ia menatap tajam kearah sekumpulan gadis yang berpakaian kurang bahan itu. Tatapan tajamnya seolah mengabarkan, 'Dia priaku jadi jangan pernah mengatakan omong-kosong tentang dirinya' tanpa mengalihkan tatapannya Fazila langsung berbisik di telinga Refal.


"Apa pak Gubernur melihat sekumpulan wanita yang berdiri di dekatku?" Tanya Fazila tetap dalam posisi berdiri tegap dan berbisik.


Tidak ada balasan dari Refal selain anggukan kepala pelan.


"Pak Gubernur percaya padaku, kan?"


Lagi-lagi Refal hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala pelan.


"Baiklah. Jika Pak Gubernur percaya padaku maka jangan katakan apa pun." Ucap Fazila dengan suara lembut.


Sedetik kemudian tidak ada lagi percakapan, tanpa aba-aba Fazila langsung menempelkan bibir tipisnya di bibir lembut Refal. Ratusan pasang mata. Ahhh tidak, ribuan pasang mata menatap mereka dengan tatapan terkejut. Tak terkecuali sekumpulan gadis yang sejak tadi mengatai Refal dengan ucapan yang berhasil memancing kekesalan Fazila.


"Ahhh tidak, siapa wanita itu? Berani sekali dia mencuri ciuman Pak Gubernur? Iihh aku kesal." Gerutu wanita dengan gaun merah menyala. Tatapannya setajam belati seolah ingin menguliti Fazila hidup-hidup.


Sementara Refal?


Tubuhnya terasa tegang, dadanya berdebar sangat kencang, tidak ada yang tahu kalau ia sedang tidak baik-baik saja, mendapat perlakuan manis dari Fazila membuatnya merasa seperti berada di taman Surga. Bibirnya bahkan mengukir senyuman. Sungguh, perasaan bahagia ini tidak dapat di ungkapkan walau dengan sekedar kata-kata. Semuanya terlalu indah.

__ADS_1


Menyadari semua gadis yang ada di Ballroom hotel malam ini menatapnya dengan tatapan kesal Fazila mulai menarik diri.


"Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Aku sendiri tidak tahu kapan perasaan ini mulai muncul. Mungkin setelah akad nikah kita? Atau bisa saja setelah kita tinggal dikamar yang sama? Atau mungkin saja saat Pak Gubernur jujur padaku tentang masa lalumu dengan Nona Hilya? Atau mungkin saja cinta ini mulai menelusup masuk kedalam rongga dadaku setelah aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di rumah Mama.


Aku tidak tahu apa pendapatmu tentang diriku. Tapi, jujur! Aku tidak bisa jauh darimu." Ucap Fazila dengan nada suara lemah lembut.


Glekkk!


Refal menelan saliva, tidak tahu harus berkata apa. Pengakuan cinta Fazila yang begitu tiba-tiba dan di depan semua orang membuat Refal seolah terbang keangkasa. Saat Refal bersiap akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Fazila, yakni mengungkapkan perasaanya di hadapan semua orang, namun ia sudah di dahului oleh tepukan tangan yang terdengar menggema di indra pendengarannya.


Prokkk.Pokkk.Prokkk.


"Aisttt! Ternyata Pak Gubernur sudah menikah. Menyebalkan." Gerutu gadis bergaun merah menyala itu lagi.


Refal dan Fazila! Mereka saling lirik menyadari semua mata menatapnya dengan tatapan penasaran. Seolah malam ini mereka berdualah yang menjadi Raja dan ratunya. Kemeriahan pesta pernikahan putri Pak Mentri tergantikan oleh rasa penasaran tamu undangan tentang wanita muda yang mengaku sebagai istri Gubernur yang selama ini selalu menjadi tanda tanya.


Kali ini giliran Pak Mentri yang bertepuk tangan, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihat dan di dengarnya. Dua puluh menit yang lalu ia bahkan membangga-banggakan putrinya yang bernama Milea, berharap Refal akan menikahi putrinya. Sekarang dia malu mengingat ucapannya, seolah ucapannya yang ingin menjodohkan Refal menjadi tamparan yang menyakitkan. Dia kecewa, kecewa karena kehilangan kesempatan mendapatkan menantu luar biasa sekelas Refal Mahendra Shekar.


"Pak Gubernur sudah menikah? Apa saya tidak salah dengar?" Pak Menteri bertanya dengan wajah heran.


"Iya. Kami sudah menikah." Balas Refal sambil meraih jemari Fazila dan menggenggamnya sangat erat.


"Walau saya kecewa karena tidak bisa menjadi mertua Pak Gubernur, dari lubuk hati saya yang terdalam saya ucapkan selamat untuk pernikahan kalian." Ucap Pak Mentri, kali ini ia menyodorkan pergelangan tangannya ingin menjabat tangan Refal.

__ADS_1


"Haha! Pak Mentri tidak perlu mengatakan itu. Nona Milea gadis yang cantik, saya yakin dia akan menemukan belahan jiwanya sama seperti saya menemukan belahan jiwa saya.


Perkenalkan, dia istri saya, Pak. Dia seorang Dosen sekaligus putri pemilik Hotel ini. Kami baru saja menikah, dan pesta pernikahannya akan di adakan dua hari lagi dan di tempat ini.


Besok, Asisten saya akan datang secara langsung kekantor Pak Mentri untuk menyerahkan surat undangan. Saya berharap Pak Mentri dan keluarga bisa hadir dalam moment bahagia kami." Ucap Refal tanpa melepas senyuman dari wajah tampannya.


Sementara Fazila? Ia hanya bisa menangkupkan kedua tangan di depan dada untuk mengekspresikan rasa hormatnya.


"Nona Fazila, anda sangat beruntung. Saya punya tiga putri yang coba saya jodohkan dengan Pak Gubernur. Dan buruknya, tiga-tiganya di tolak oleh Pak Refal." Keluh Pak Mentri, dan itu memang kebenarannya.


Putri pertama Pak Mentri berhubungan baik dengan mendiang tunangan Refal, Hilya. Setelah Hilya tiada Pak Mentri mencoba usaha terbaiknya untuk menjodohkan putri pertamanya, putus asa karena tidak ada tanggapan dari Refal dia pun kembali mencoba peruntungan dengan menjodohkan putri keduanya, semuanya gagal karena Refal terus saja membuat alasan. Dan sekarang Milea yang baru saja pulang dari Kanada pun gagal karena Refal sudah ada yang punya.


Sejatinya, sekeras apa pun usaha seseorang untuk menyatukan dua hati yang tidak di takdirkan Tuhan maka dia tidak akan pernah bertemu.


"Terima kasih. Saya anggap apa yang Pak Mentri katakan sebagai sanjungan. Saya berharap putri Pak Mentri juga bahagia." Balas Fazila sambil membungkukkan kepala penuh hormat.


Sedetik kemudian Pak Mentri mulai meninggalkan Refal dan Fazila karena Bodyguard-nya mengatakan ada hal penting yang harus beliau selesaikan.


"Hmm! Aku harus apa? Semua gadis yang ada di tempat ini menatap ku dengan tatapan sedih. Aku rasa para gadis itu sedih karena mereka tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk mendekati ku. Entah kau sadari atau tidak, aku calon sempurna." Ucap Refal membanggakan dirinya di depan Fazila yang terlihat malu-malu.


"Aku lapar. Apa kita bisa makan terlebih dahulu?" Fazila yang bodoh, dia hanya ingin mengalihkan pembicaraan agar Refal tidak menanyakan alasan di balik sikap agresifnya yang mencium Refal di hadapan ribuan pasang mata.


"Dia benar-benar manis." Celoteh Refal sembari mengikuti langkah Fazila dari belakang.

__ADS_1


Pak Gubernur benar-benar menyebalkan. Aku menyelamatkannya dari ucapan buruk gadis-gadis itu, dan sekarang dia malah membanggakan dirinya. Ku akui dia memang tidak ada duanya. Kau yang bodoh Fazila, kenapa kau menciumnya di depan semua orang. Ini benar-benar memalukan. Batin Fazila sambil berkelit, ia keluar tanpa memakan apa pun.


...***...


__ADS_2