Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Penolakan?


__ADS_3

"Seharusnya aku tidak perlu melakukan itu! Aku benar-benar bodoh." Ucap Fazila sambil membuka pintu kamar.


Ia berjalan pelan menuju meja rias sembari membuka peniti yang tersemat di beberapa bagian pasmina merah mudanya. Refal yang melihat Fazila terus menggerutu hanya bisa tersenyum penuh kemenangan. Ia tahu saat ini Fazila sedang malu mengingat kejadian di pesta lima jam yang lalu, namun tetap saja Refal menggoda Fazila agar ia bisa melihat sisi manis istrinya.


"Kenapa harus malu? Aku bahkan sangat bahagia." Ucap Refal sambil menarik lengan Fazila hingga membentur dadanya.


"Aaa-aku!"


"Aku apa?" Tanya Refal memotong ucapan Fazila. Tatapan matanya menembus lubuk hati terdalam Fazila, dan hal itu membuat Fazila mulai salah tingkah.


Hampir sebulan mereka menikah namun Fazila masih saja merasakan dadanya berdebar sangat cepat. Darahnya serasa mengalir sepuluh kali lebih cepat. Ucapannya tidak bisa keluar, padahal ada banyak hal yang ingin ia ucapkan. Menatap netra teduh Refal membuatnya seolah terpenjara disana.


"Jangan menghindar lagi! Aku sudah tidak tahan lagi, berada di ruang yang sama dengan wanita tercantik di dunia membuat jantungku tidak mau mendengarkanku. Ia terus saja berdetak sangat cepat seolah malam ini malam terakhirnya berde..." Ucapan Refal tertahan di tenggorokannya karena Fazila dengan cepat menutup bibir Refal dengan jemari lentiknya.


Sedetik kemudian tidak ada percakapan dari kedua anak manusia yang saat ini sedang di mabuk cinta itu. Mereka saling menatap dalam diam, namun tatapan mereka menjelaskan betapa besar cinta yang tersimpan di lubuk hati mereka.


"Jangan katakan itu! Aku ingin kita tetap menjadi pasangan hingga maut memisahkan. Aku juga ingin menua bersamamu.


Seumur hidupku, aku akan selalu bersyukur pada Rabb ku karena menganugrahkan pendamping seperti dirimu. Aku tidak punya keluhan." Ucap Fazila dengan nada suara lemah lembut.


Tidak ada balasan dari Refal selain senyuman menawan yang coba ia tunjukan. Ucapan Fazila berhasil membuatnya berjingkrak- jingkrak kegirangan. Dan tentu saja itu hanya ada dalam pikirannya.


"Yang ku dengar di pesta itu, apa itu sungguh datang dari lubuk hatimu? Maksudku ucapan yang mengatakan kau sangat mencintaiku, apa itu benar?" Kali ini Refal bertanya sembari menangkup wajah cantik Fazila, cahaya temaram yang bersumber dari lampu balkon membuat suasana kamar yang Refal tempati sejak dua tahun lalu terasa sangat menegangkan.


"Katakan sejujur-jujurnya." Sambung Refal lagi, dengan suara pelan namun menuntut jawaban cepat dan tepat.


"Jika itu tidak benar, apa yang akan Pak Gubernur lakukan?" Fazila bertanya namun bibirnya mengukir senyuman, senyuman yang coba ia tampakkan untuk menutupi kegugupannya.


Refal terlihat berpikir, ia menatap wajah serius Fazila tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sedetik kemudian, ia mulai mencium hidung bangir Fazila, dan itu hanya untuk sekian detik saja.

__ADS_1


"Jika itu tidak benar, maka aku akan berusaha lebih keras untuk menggodamu sehingga kau tidak punya pilihan lain selain jatuh cinta padaku." Balas Refal dengan nada suara menggoda.


"Apa saat ini Pak Gubernur sedang menggodaku? Biasanya seorang Gubernur tidak mengatakan kata-kata manis di depan lawannya."


"Kenapa? Apa kau tidak suka? Jika Nona Fazila saja berani menciumku di hadapan ribuan pasang mata. Lalu, apa menurutmu aku tidak bisa melakukan itu saat kita berdua?"


Uhuk.Uhuk.Uhuk.


Fazila tersedak salivanya, ucapan Refal yang mencoba mengingatkannya tentang kejadian lima jam lalu membuatnya kembali terlihat menahan malu.


"Apa kau tidak apa-apa? Maafkan aku!" Ucap Refal sembari menjewer kedua telinganya.


"Tidak.Tidak. Aku tidak apa-apa." Ucap Fazila sembari melepaskan tangan Refal dari telinganya.


Kamar yang Fazila dan Refal tempati kembali senyap. Refal duduk di sisi kanan ranjang yang kemudian di ikuti oleh Fazila yang duduk di samping kanannya. Refal berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan Fazila. Refleks, jemari lentik Fazila mulai bergerak naik turun membelai rambut hitam sang Gubernur tampan yang saat ini tersenyum penuh kemenangan.


"Jujur, tadi itu aku sangat terkejut. Apa semua Hafizah akan bersikap manis jika berada di pesta? Maksudku mencium suaminya agar semua orang tahu kalau dia sudah menikah?" Refal pura-pura bertanya hanya untuk memancing Fazila saja.


"Haha! Manis sekali. Aku berharap semua gadis akan mengataiku seperti itu agar istriku yang pemalu ini memberiku ciumannya setiap hari."


Bukannya berikap manis, Fazila malah mencubit perut Refal. Merasa geli, Refal langsung bangun dari pangkuan Fazila. Mereka saling menatap dan saling melempar senyuman. Bukankah ini sangat menakjubkan? Refal terkeleh di dalam hatinya.


"Aku bersungguh-sungguh saat mengatakannya. Aku suka dan aku bahagia saat kau tiba-tiba bersikap manis seperti tadi."


Alih-alih membalas Refal dengan ucapan, Fazila malah semakin mendekatkan diri kemudian kembali melayangkan kecupannya di bibir lembut Refal.


Tubuh Refal kembali menegang, setiap kali Fazila mendekatinya dadanya berdebar sangat kencang.


Dan akhirnya aku jatuh cinta lagi, pada dia gadis cantik bermata jeli. Batin Refal sembari perlahan menutup mata merasakan bibir manis Fazila di bibir lembutnya.

__ADS_1


Baru saja Fazila akan menarik diri namun Refal refleks menahan tengkuknya. Fazila yang memulainya dan Refal lah yang akan mengakhirinya, setidaknya itulah yang Refal pikirkan. Malam ini terlalu indah untuk di biarkan berlalu begitu saja.


Hhhhh! Hhhhh!


Nafas Refal dan Fazila saling bersahutan, mereka kembali saling menatap dalam diam.


Muach.


Tanpa berucap sepatah kata pun Refal melayangkan kecupan singkatnya di kelopat mata kanan Fazila.


"Mata indah ini tidak boleh melihat pria lain selain diriku." Ucap Refal dengan nafas memburu.


Muach.


Kali in Refal kembali melayangkan kecupannya di mata kiri Fazila, kemudian beralih menuju kening mulus Fazila. Dan terakhir, ia kembali memiringkan kepalanya hendak melayangkan kecupan hangatnya di bibir tipis milik Fazila yang kini menjadi candu baru baginya.


Refal tercengang, tanpa ia sangka dan tanpa ia duga Fazila menghentikan aksinya dengan cara menutup bibir dengan tangan kanannya.


"Aku tidak bisa melakukan ini."


Glekkkk!


Refal menelan saliva, mendengar ucapan Fazila yang jelas-jelas menolak membuat jiwanya merasakan kecewa.


"Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan? Bukankah aku berhak atas mata ini, hidung ini, bibir ini dan semua yang ada dalam dirimu?" Refal bertanya masih dalam keadaan menangkup wajah cantik Fazila.


"Iya, Pak Gubernur berhak atas diriku. Namun dalam hubungan ini ada satu hal yang masih mengganggu pikiranku." Ujar Fazila tanpa melepas pandangannya dari wajah tampan Refal.


Di saat yang bersamaan, dentuman jam di dinding kamar Refal dan Fazila menggema, mengabarkan pukul 22.00 yang baru tiba. Refal berdesir kaget bersamaan ribuan pertanyaan yang menghampiri tentang penolakan Fazila.

__ADS_1


Ada apa sebenarnya?


...***...


__ADS_2