Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Pertemuan (Fazila&Matthew)


__ADS_3

Fazila mulai menepis tangan pria itu dari jemarinya dengan kasar, netranya memerah karena kesal.


Plakkk!


Sedetik kemudian!


Plakkk!


Sebelum pria itu menatap Fazila dengan benar, satu tamparan kembali mendarat dan mengenai wajah tampannya. Nerta Fazila dan pria itu kembali saling beradu seolah dari tatapan itu akan keluar api untuk saling membakar.


"Aku tidak pernah melihat pria mesum selain dirimu. Berani sekali kau melakukan aksi tidak terpuji di depan umum. Apa kau tidak punya rasa malu? Bukan hanya itu, kau juga berani mengancam akan melaporkan gadis itu pada atasannya agar dia di pecat." Ucap Fazila dengan nada suara tinggi. Sedetik pun dia tidak pernah mengalihkan tatapannya dari pria menjijikkan yang masih berdiri mematung di depannya.


"Aku adalah pelanggan disini, kau bilang akan mengadukan gadis itu, kan? Justru sebaliknya, aku yang akan mengadukan mu. Aku akan memanjat setinggi apa pun agar bisa bertemu dengan pemilik bangunan ini, akan ku pastikan kau tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki mu di tempat ini lagi." Gerutu Fazila masih dengan amarah yang masih membuncah.


"Haha! Kau sangat manis, sayang sekali setiap ucapan yang keluar dari mulut mu terdengar bagaikan racun yang mematikan. Dan...." Pria itu menggantung kalimatnya sembari melipat kedua lengan di depan dada. Wajah yang tadinya memamerkan senyuman berubah masam.


"Aku bukan orang yang mudah." Sambungnya, ia berusaha mengangkat tangan hendak menampar Fazila.


Tanpa di duga, kali ini seseorang menarik lengan Fazila untuk mundur beberapa langkah ke belakang kemudian sosok misterius itu meraih lengan kurang ajar yang mencoba menyakiti Fazila.


Gdebukkk!


Satu tendangan mendarat di perut pria itu, dorongan keras berhasil membuat tubuh kekarnya membentur meja sampai akhirnya tersungkur kelantai.


Sebelum masalah semakin melebar, dua Sekuriti bertubuh kekar datang untuk mengamankan situasi yang hampir saja tak terkendali.


Pria mesum? Fazila menyebutnya seperti itu, wajahnya cukup tampan namun sayang etika yang ia perlihatkan tak lebih dari hewan buas yang hanya bisa menindas orang yang lemah. Apa yang harus di banggakan saat kekuatan mu berhasil membuat orang lemah semakin tak berdaya? Kepuasan apa yang kamu dapatkan? Sejatinya masalah dalam hidup mu, kamu sendiri yang mengundangnya, sama seperti saat ini, saat pria mesum itu melakukan aksi tidak bermoralnya, maka sejatinya dia sedang mengundang masalahnya sendiri dengan mencari musuh dari orang-orang tidak terduga.


Di sisi berbeda dua rekan wanita Fazila langsung menarik lengannya untuk meninggalkan kerumunan. Mau bagaimana lagi, dua wanita itu terlalu takut melihat Fazila terluka sampai akhirnya ia mengabaikan orang-orang di sekitarnya yang sejak tadi menatap mereka dengan tatapan selidik.

__ADS_1


...***...


Parkiran Hotel!


"Pokoknya aku kapok ngajak kamu, Zii. Gara-gara ulah mu makan siang semua orang jadi terganggu." Gerutu wanita muda yang berdiri di depan Fazila. Ia terlalu kesal sampai tidak menghiraukan apa pun.


"Menurut kalian, aku harus apa? Apa aku harus diam saat melihat seorang wanita di lecehkan? Jika itu aku, aku pasti akan mematahkan tangan yang berani menyentuh tubuh ku tanpa seizin dariku." Balas Fazila pada kedua rekannya.


"Pria mesum itu secara sengaja menyentuh paha gadis itu, Bukannya meminta maaf, dia malah mengancam akan melapor pada Abiiiiii." Fazila keceplosan, tanpa sengaja dia sudah memberitahukan kalau bangunan tempatnya berdiri dan makan siang tadi adalah Hotel yang di kepalai oleh Abinya sendiri, Alan Wijaya.


Untuk sesaat Fazila menggigit bibir bawahnya, karena kesal ia bahkan membuka rahasianya sendiri. Padahal dua jam yang lalu kedua rekan wanitanya mengatakan kalau putri pemilik Hotel tempatnya makan siang tak pernah di lihat oleh siapa pun.


"Maksud ku, apa kalian tidak lihat gadis itu, dia terlihat ketakutan?" Fazila melanjutkan kalimatnya, berusaha mengalihkan pembicaraan agar kedua rekan wanitanya tidak curiga.


"Ya sudah, terserah kau saja. Kami akan kembali ke kampus, apa kau akan ikut bersama kami?"


"Baiklah, sampai jumpa di kampus."


"Iya, sampai jumpa di kampus!" Balas Fazila singkat, setelah melambaikan tangan, mobil yang di kendarai dua rekan Fazila itu berjalan pelan meninggalkan area parkir lantai dasar.


Senyap!


Itu lah yang Fazila rasakan untuk sekian detik saja, di detik berikutnya sosok sok akrab mendekatinya dengan lagak layaknya pahlawan kesiangan. Bukannya senang, Fazila malah terlihat menghela nafas kasar sembari memakai helm di kepalanya yang masih tertutup rapi oleh pasmina.


"Hay jagoan." Sosok sok akrab itu mulai menyapa Fazila, wajah tampannya mengukir senyuman terbaiknya.


Jagoan!


Satu kata itu terasa berputar di memori otak Fazila, sontak kepalanya menolah kearah kiri, kanan, dan juga belakang. Berusaha mencari apa ada orang lain selain mereka berdua.

__ADS_1


"Aku." Ucap Fazila sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, tentu saja, kamu. Siapa lagi? Hanya ada kita berdua di tempat ini." Balas Pria asing itu dengan santainya.


"Aku mencarimu di semua sisi Hotel ini, kamu menghilang bagai di telan Bumi. Tak bisakah kamu pergi setelah mengucapkan terima kasih?"


Fazila menggaruk keningnya yang tidak gatal menggunakan jari telunjuk, sebenarnya dia hanya berusaha mengalihkan perhatian pria itu dan mencoba mengingat kejadian apa yang mengaitkan dirinya dengan pria rupawan yang saat ini berdiri di depannya dengan berjuta-juta pesona indahnya.


"Maaf, aku tidak terlalu memperhatikan apa pun di dalam sana. Fokus ku hanya pada pria kurang ajar yang ada di depan ku. Karena terburu-buru aku malah lupa mengucapkan ucapan terpenting dalam peristiwa itu. Sekali lagi Maafff dan terima kasih." Celoteh Fazila sembari menangkup kedua tangan di depan dada.


Hahaha!


"Aku hanya bercanda. Tidak perlu seserius itu, lagi pula aku bukan penggemar kata 'Maaf dan Terima kasih' jadi tanpa kamu mengatakannya aku sudah menerima ucapan mu." Sambung pria yang berdiri di depan Fazila. Jarak mereka terpisah sekitar lima langkah.


"Nama ku Matthew, kalau kamu?"


Sejujurnya Fazila merasa sedikit risih dengan kehadiran pria yang berdiri di depannya, dia bersikap sok akrab, dan dia juga bicara dengan bahasa non formal, seolah mereka sudah lama saling mengenal.


Baru saja Fazila akan memberitahukan namanya, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan mengagetkannya. Untuk sesaat Matthew yang berdiri di depan Fazila hanya bisa pasrah dan meminta Fazila menerima panggilan yang di tujukan untuknya dengan segera.


"Assalamu'alaikum, Bi. Ada apa?" Fazila bicara dengan suara hati-hati. Ia terlalu takut Abinya akan memarahinya lantara kekacauan yang terjadi di Restorant beberapa jam yang lalu.


"Wa'alaikumsalam. Nak, apa kau baik-baik saja? Apa pria kurang ajar itu menyakiti mu? Apa kau sudah makan? Kau ada di mana? Cepat ke kantor Abi, sekarang! Tut.Tut.Tut." Belum sempat Fazila mengatakan apa pun, namun Abinya sudah mematikan sambungan telpon. Fazila bisa merasakan rasa takut dan kekhawatiran yang di alami Abinya.


"Ada apa? Apa pacar mu marah-marah? Katakan padanya kau bertemu pria baik sepertiku, jadi walau pun seribu pria mesum yang mencoba mengganggumu, aku akan menjadi perisai mu! Aku akan berdiri di garda terdepan. Hanya untuk mu" Celoteh Matthew sambil menepuk pundaknya sendiri.


Jujur, rasanya Fazila ingin muntah mendengar ucapan Matthew yang bersikap sok segalanya. Sok keren, sok akrab, sok ramah, sok tampan! Aits, tunggu dulu, jika di pikir-pikir Matthew memang tampan walau di lihat dari sudut mana pun. Bahkan penampilannya siang ini berhasil membuat Fazila takjub. Buruknya, Fazila tidak akan berani mengatakan apa pun di depan sosok rupawan yang saat ini masih berdiri di depannya tanpa melepas senyuman seindah purnama milik seorang Matthew Adyamarta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2