
Diskusi panjang yang di lakukan di Mansion Wijaya menyita perhatian Fazila. Pasalnya, dia lah yang menjadi bintang utama pembicaraan serius yang saat ini sedang berlangsung. Wajah cantik Fazila nampak pucat karena ucapan yang ia dengar dari Abinya terlalu tiba-tiba dan sangat mengejutkan.
Dua hari?
Bukankah itu terlau cepat dan terkesan terlalu terburu-buru? Bagaimana jika semua yang mereka lakukan secara terburu-buru berakhir buruk karena terlalu memaksakan diri? Setidaknya hal itu yang sangat mengganggu batin Fazila, ia bahkan tidak bisa menelan air mineral yang sejak tadi berusaha ia telan. Rasanya seolah ada batu besar yang mengganjal di tenggorokannya.
"Bagaimana pendapat mu, Nak? Ummi dan Abi juga berpikir semua ini terlalu buru-buru. Tapi, jika di lihat dari sosok yang datang, Sedikit pun Ummi tidak memiliki keraguan. Ummi percaya Nak Refal bisa di andalkan." Bu Fatimah berucap setelah memikirkannya masak-masak. Fazila yang di tanya hanya diam sambil merunduk pasrah.
"Tante setuju dengan pendapat Ummi mu, sayang. Walau Tante tidak pernah bertemu dengan Refal, Tante yakin dia pria yang baik. Jika dia tidak baik, tidak mungkin ribuan bahkan jutaan jiwa mempercayakan hidup mereka dalam kepemimpinan Gubernur muda sekelas dirinya." Tante Sabina memberikan pendapatnya, pendapat yang menurutnya sangat logis.
"Mama masih terkejut mendengar pengakuanmu, Nak. Walau demikian, entah kenapa Mama juga setuju dengan pendapat Refal." Oma Nani menatap wajah putranya, Tuan Alan. Dengan tatapan penuh keyakinan.
"Araf, bagaimana menurutmu? Apa Alan harus melanjutkan perjodohan ini atau tidak? Mama tahu ini bukan hal sederhana yang bisa di putuskan secara tiba-tiba." Bu Nani bertanya pada menantu tersayangnya sambil menatap dengan tatapan yang di penuhi tanda tanya. Ia berharap akan mendengar jawaban yang bisa menenangkan jiwanya.
"Araf juga setuju dengan pendapat Mama. Maksud Araf, Araf setuju Fazila kita bersanding dengan Pak Gubernur.
Mbak Fatimah juga sudah merestui hubungan ini sejak Refal meminta waktu enam bulan. Lalu, apa masalahnya dengan dua hari jika kita bisa melakukannya?
Tidak ada yang kurang dari Fazila kita, dan dia pantas mendapatkan pria sebaik Pak Refal Mahendra Sekar. Jadi dengan ini Araf sampaikan, kalau Araf sangat-sangat mendukung pernikahan ini." Ucap Araf dengan keyakinan penuh.
"Papa juga setuju, ayo kita lakukan semua persiapannya." Pak Otis yang merupakan Opa Fazila kini ikut nimbrung kedalam diskusi serius yang melibatkan istri dan anak-anaknya.
"Apa lagi yang kau pikirkan, Nak? Apa kau masih ragu? Ummi, Abi, Oma, Opa, Om Araf dan Tante Sabina mu, tidak akan pernah menjerumuskan mu menuju penderitaan. Kami hanya ingin agar kau selalu bahagia.
Dan ummi sangat yakin Nak Refal tidak akan mengikatmu. Dengan artian, dia tidak akan membatasi ruang gerakmu. Ummi yakin bahkan sangat yakin, Nak Refal akan membiarkanmu tetap mengajar di kampus maupun mengajar di rumah Tahfidz."
Fazila yang menjadi bintang malam ini malah masih di penuhi dengan dilema.
Haruskah aku setuju? Atau aku harus menolak? Bagaimana jika dia pria yang kasar? Batin Fazila sambil membuang nafas kasar.
__ADS_1
Bukannya memberikan jawaban dari setiap pertanyaan yang di lontarkan padanya, Fazila malah bangun dari posisi duduknya. Ia bangun sembari mengusap wajahnya kasar.
"Fazila minta maaf. Fazila tidak bisa mengatakan 'Iya' Dan Fazila pun tidak bisa mengatakan 'Tidak'
Seperti Pak Gubernur yang meminta waktu dalam dua hari, maka sekarang berikan Fazila waktu sampai besok pagi. Apa pun keputusan Fazila besok, tolong jangan salah paham. Assalamu'alaikum." Ucap Fazila pelan, kepalanya tertunduk. Ia benar-benar tidak bisa menatap wajah semua anggota keluarganya, sangat menakutkan jika Fazila sampai menatap wajah kecewa Ummi dan Abinya.
Fazila melangkah meninggalkan ruang tengah. Antara takut, sedih, khawatir dan was-was. Entah apa lagi yang ia rasakan saat ini, yang jelas dia, Meyda Noviana Fazila hanya ingin sendiri saja, duduk bersimpuh sambil menghadapkan wajahnya pada dia yang maha memberi kehidupan, Allah.
...***...
Waktu menunjukan pukul 2.30 saat Fazila bangun dari tidur singkatnya. Iya, dia tidur tak lebih dari satu jam. Karena pikirannya terus saja berputar seputaran keinginan Refal dan persetujuan keluarganya untuk menikah dalam dua hari.
Ragu-ragu!
Tentu saja hal itu yang memenuhi benak Fazila. Walau ingin menolak pun ia tak kuasa. Yang bisa ia lakukan hanya bermunajat dan meluapkan segala resahnya di hadapan sang pencipta.
Ya Allah, lima jam yang lalu aku telah melakukan shalat istiharah. Sungguh, aku benar-benar berada dalam keraguan yang nyata. Aku tidak tahu harus berkata apa.
Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadamu dengan ilmu pengetahuan-Mu. Aku memohon kekuasaan mu untuk mengatasi persoalan ku.
Ya Allah, jika menikah dengan Pak Gubernur lebih baik untuk urusan Agama ku dan akibatnya terhadap diriku, maka mudahkan jalannya bagiku.
Fazila duduk bersimpuh dengan derai air mata. Masih dalam keadaan menghadapkan wajahnya seraya mengangkat kedua tangannya.
Ya Allah, jika menikah dengan Pak Gubernur berakibat buruk untuk urusan agamaku, dan berakibat buruk bagi kehidupanku, maka jauhkan aku dari padanya. Takdirkan kebaikan untuk ku dimanapun kebaikan itu berada, Kemudian berilah kerelaan-Mu padaku. Aamiin...
"Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan Sabar dan Salat. Dan Salat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Maha benar Allah dengan segala Firmannya.
Sekarang aku merasa lebih baik, dan aku merasakan ketenangan memenuhi setiap pori-pori tubuh ku." Ujar Fazila sambil melepas mukena yang ia pakai dan menggantinya dengan pasmina yang ia letakkan di dekat Al-Qur'an yang ada di samping kanannya.
__ADS_1
"Aku Harus mulai dari mana? Tidak mungkin langsung menemuinya. Rasanya itu tidak sopan." Fazila mondar-mandir di kamarnya, setelah melaksanakan Salat Tahajud kini pikirannya lebih terbuka.
"Apa sebaiknya aku memintanya datang kekampus, lalu kami akan bicara disana? Ahhh, itu juga tidak mungkin! Semua Mahasiswa, Dosen dan Rektor akan mulai bergosip tentang kami." Celoteh Fazila dengan suara seraknya.
"Hari ini keluarga kami akan bertemu. Tapi sebelum itu, aku harus bicara dengan Pak Gubernur terlebih dahulu." Ujar Fazila lagi. Kali ini ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Menulis pesan singkat, kemudian mengirimnya.
"Aku harus pergi."
Setelah menaruh perlengkapan salatnya di lemari, kini Fazila keluar dari kamarnya, berjalan menuju tangga dan bersiap meninggalkan Mansion Wijaya. Mansion yang ia tempati sejak duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar.
"Nona sudah bangun? Nona mau kemana?" Fazila menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah dapur.
"Mbok ada disini? Mbok sedang apa? Semua orang masih tidur, kenapa Mbok bekerja sepagi ini?" Fazila menatap ART separuh baya yang sudah menghabiskan setengah usianya di Mansion Wijaya.
"Mbok baru saja selesai Salat, Mbok tidak bisa tidur, karena itu Mbok kedapur mengerjakan pekerjaan yang masih tertinggal semalam. Nona mau kemana?"
"Pagi ini aku akan mengajar di rumah Tahfidz. Anak-anak itu butuh semangat agar mereka lebih mencintai Al-Qur'an."
"Apa Nona tidak lelah? Mbok yakin pembicaraan semalam membuat Nona tertekan. Nona juga tidak pamitan dengan Tuan dan Nyonya. Apa Nona marah?"
"Haha! Mbok ini lucu. Apa Fazila pernah marah? Tidak, kan? Semalam Fazila sudah pamitan pada Ummi dan Abi, Fazila bilang Fazila akan kerumah Tahfidz setelah Salat Tahajud.
Maha suci Allah, sekarang Fazila merasa semua beban seolah menguap begitu saja. Karena cahaya Tahajud kini Fazila bisa mengambil keputusan tanpa ragu-ragu." Ucap Fazila sambil tersenyum. Wajah cantiknya memamerkan ketenangan.
Wanita separuh baya yang berdiri di depan Fazila tampak heran. Ia benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran Nona mudanya. Bertanya pun tidak akan ada gunanya karena ia tidak punya hak untuk mencampuri kehidupan pribadi majikannya.
"Mbok, katakan pada Ummi dan Abi. Fazila akan langsung kekampus setelah mengajar di rumah Tahfidz. Suruh Ummi dan Abi bersiap-siap." Ucap Fazila lagi.
Fazila meninggalkan ART-nya yang terlihat bingung karena dia tidak memberikan penjelasan apa pun.
__ADS_1
Bersiap-siap? Untuk apa? Batin ART separuh baya itu sembari menatap Fazila yang saat ini berjalan menuju pintu keluar.
...***...