
"Terima kasih atas sambutan hangat yang Tuan dan Nyonya Alan berikan. Saya merasa kita tidak saling mengenal malam ini saja, tapi saya merasa kita sudah saling mengenal sudah sejak lama." Ucap Nyonya Asa sambil menggenggam jemari Bu Fatimah.
"Nyonya Asa tidak perlu memanggil saya Nyonya, saya kurang nyaman dengan panggilan itu. Sebaliknya, saya lebih suka jika Nyonya Asa memanggil saya dengan panggilan Ummi Fazila saja." Balas Bu Fatimah sambil mempersilahkan Nyonya Asa kembali duduk di Sofa.
Dua menit kemudian Tuan Alan dan Tuan Anton pun duduk di samping istri mereka masing-masing.
Pembicaraan serius?
Tidak terlihat dari keempat orang itu kalo mereka akan terlibat pembicaraan serius. Bahkan Nyonya Asa yang sejak tadi terlihat tidak sabaran kini mulai merasa nyaman. Sikap ramah tamah yang di tunjukan Tuan Alan dan Bu Fatimah membuatnya merasa nyaman.
Bagi Bu Fatimah, tamu adalah raja. Ia tidak akan bersikap semena-mena sekecil apa pun kemungkinannya.
"Tuan Alan, Ummi Fazila, seperti yang anda ketahui kedatangan kami kemari hanya untuk bersilaturrahmi dan bertemu dengan Fazila.
Saya belum bertemu dengan putri anda tapi saya sudah jatuh cinta pada pesona indahnya. Saya merasa kalo putri Tuan Alan dan Ummi Fazila lah calon yang saya butuhkan untuk Refal.
Saya tahu putra saya tidak lah sempurna. Terdapat banyak luka di hatinya, tapi satu hal yang bisa saya pastikan dan janjikan untuk Tuan Alan dan Ummi Fazila, putri kalian tidak akan ke kurangan apa pun. Kami akan memperlakukannya seperti putri kami sendiri.
Bahkan jika Refal berani menyakitinya kami sendiri yang akan menjadi pelindungnya." Ucap Nyonya Asa panjang kali lebar.
Selama ini Bu Fatimah selalu berdoa agar putri berharganya mendapatkan mertua sebaik mertuanya, mendengar penjelasan Nyonya Asa membuatnya merasa tenang. Sungguh, ketenangan terasa memenuhi seluruh pori-pori tubuhnya. Tanpa di duga Bu Fatimah berjalan mendekati Nyonya Asa dan memeluk tubuh wanita separuh baya itu. Ia tersenyum sangat lebar sabagai bentuk rasa bahagianya.
"Ummi yakin Ummi setuju dengan hubungan ini?" Tuan Alan bertanya sambil menggenggam jemari lentik istrinya.
__ADS_1
"Ummi tidak perlu memaksakan diri, jika Ummi keberatan Abi janji tidak akan melakukan perjodohan ini." Sambung Tuan Alan lagi.
"Yang di ucapkan Tuan Alan itu benar. Kita tidak perlu melakukan perjodohan ini jika Ummi Fazila tidak setuju." Kali ini Tuan Anton yang angkat bicara.
"Saya tidak keberatan dengan hubungan ini. Setelah melihat sikap Tuan dan Nyonya Sekar saya sakin putra kalian juga tidak jauh berbeda.
Yang jadi masalahnya, hanya Fazila! Saya takut dia akan menolak tanpa perlu mendengar penjelasan." Ujar Bu Fatimah mengurai resahnya.
Untuk sesaat ruang tengah Mansion Tuan Alan terasa sunyi. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan keempat orang tua hebat itu.
"Ummi Fazila tidak perlu meresahkan hal itu. Aku akan mengurusnya, akan ku pastikan kedua anak kita duduk di pelaminan entah usaha ini akan membutuhkan waktu satu, dua, bahkan tiga tahun lamanya." Celoteh Nyonya Asa sambil mengepalkan tangannya, ia sangat yakin segalanya akan berjalan lancar tanpa ada kendala.
Sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya Nyonya Asa merasakan kekhawatiran mendalam. Kenapa ia khawatir? Karena ia sangat mengenal sikap keras kepala putranya, sikap keras saat menolak wanita yang hadir dalam hidupnya selain mendiang tunangan berharganya.
"Tuan Alan, maafkan istri saya. Dalam hal ini dia sangat terburu-buru. Saya bisa memahami resahnya karena saya juga mengalami hal yang sama." Sambung Tuan Anton membela istrinya.
"Hahaha. Tuan dan Nyonya Sekar tidak perlu mengatakan itu, istri saya juga mengalami hal yang sama. Hanya saja dia tidak mengeluh di depan Fazila." Celoteh Tuan Alan sambil terkekeh.
"Fazila keluar sore ini, dia bilang ada masalah di rumah Tahfiz-nya. Mau tidak mau dia harus kesana untuk menyelesaikan surat izinnya. Dia akan datang, sebentar lagi. Saat saya menghubunginya dia bilang dia ada di jalan." Ucap Bu Fatimah sambil meletakkan kue yang di berikan ART-nya di atas meja.
"Nona Muda, tolong maafkan Rasyid. Nona muda boleh menghukumnya karena saya tahu dia anak yang nakal."
Netra Tuan Alan, Bu Fatimah, Pak Anton dan Nyonya Asa tertuju pada pintu masuk. Mendengar suara memelas dari seorang wanita, sontak hal itu mencuri perhatian mereka.
__ADS_1
"Jika Nona memecat saya, saya juga tidak akan berontak apa lagi sampai keberatan karena saya tahu Rasyid sangat keterlaluan."
Untuk sesaat tidak ada suara yang terdengar dari arah pintu depan.
"Apa ada masalah? Kenapa suara wanita itu terdengar sangat ketakutan?" Nyonya Asa bangun dari posisi duduknya di ikuti oleh suaminya, dan juga Tuan Alan dan Bu Fatimah.
"Tidak apa-apa Bi Ajeng. Rasyid hanya anak kecil. Bi Ajeng tidak boleh memarahinya. Lagi pula anak manis itu tidak melakukannya secara sengaja.
Baju kotor ini bisa di cuci kembali. Tapi, jika Bi Ajeng sampai memarahi anak manis itu, itu akan meninggalkan luka di hatinya. Bersikap baiklah padanya karena Allah suka pada hambanya yang bersikap baik terhadap orang lain, lebih-lebih terhadap anaknya sendiri." Celoteh Fazila tanpa menyadari semua mata menatapnya dengan tatapan heran.
Subhanallah... Inikah Bidadari surga itu? Ucapannya terdengar sangat menenangkan, tapi ada apa dengan wajahnya? Nyonya Asa bergumam di dalam hatinya, ia sangat terkejut melihat penampilan Fazila. Wajah dan baju gadis manis ini di penuhi warna hitam.
"Ckckck... Fazila, nak. Ada apa dengan wajah dan pakaian mu? Kau bermain dimana?" Bu Fatimah bertanya sambil melipat kedua lengan di depan dada.
"Ummi..."
"Nyonya, maafkan saya. Ini semua karena Rasyid. Anak nakal itu tanpa sengaja menyiram bubuk warna dan mengenai Nona Muda. Saya sangat menyesal." Ucap Bi Ajeng menyela ucapan Fazila.
"Bi Ajeng boleh pergi, mandikan Rasyid. Saya yakin anak manis itu pasti sangat ketakutan karena tadi Bibi memarahinya. Saya tidak apa-apa." Ujar Fazila lagi, kali ini ia memegang pundak ART separuh bayanya. Wajah cantik itu memamerkan senyuman menawan, sayangnya senyuman itu tersembunyi di balik pekatnya warna yang menutupi wajah cantiknya.
"Ada tamu rupanya? Maafkan saya, saya tidak bisa berada disini terlalu lama, saya harus membersihkan diri." Sambung Fazila lagi.
Sedetik kemudian Fazila berjalan meninggalkan ruang tengah yang kemudian di ikuti oleh Bu Fatimah di belakangnya. Sungguh, dalam hatinya Tuan Anton dan Nyonya Asa sangat yakin pada pilihannya untuk menjodohkan Refal, yang tersisa tinggal melihat seperti apa kecantikan wajah yang tersembunyi di balik warna yang menutupi wajah cantik itu.
__ADS_1
...***...