
Semua anggota keluarga sangat bahagia mendengar kabar dari Refal kalau kondisi Fazila lagi-lagi menunjukkan kemajuan besar. Dan dokter Neti memastikan, Fazila akan segera siuman.
Setelah memeriksa keadaan Fazila kini Dokter Neti beralih menuju kamar tempat Matthew di rawat. Semenjak Tuan dan Nyonya Dewa tiba di Jakarta, tak sedetik pun mereka beralih dan meninggalkan Matthew. Sungguh, kabar Matthew menjadi seorang Mualaf benar-benar menghancurkan jiwa Tuan dan Nyonya Dewa. Mereka marah, mereka murka, dan mereka sangat kesal dengan sikap keras kepala putranya. Dalam diri Nyonya Dewa saat ini, terdapat amarah yang sangat besar, rasanya seperti ada gunung berapi memenuhi rongga dadanya yang siap memuntahkan lahar panasnya kapan saja.
"Tuan dan Nyonya Dewa, kalian pasti marah dengan keputusan Nak Matthew menjadi seorang Mualaf. Jujur, saya juga terkejut. Tapi, satu hal yang harus Tuan dan Nyonya Dewa ketahui. Baik aku ataupun istriku, diantara kami, tidak ada yang memaksa Nak Matthew melakukannya, semuanya murni atas keinginan hatinya." Ucap Tuan Alan sembari menatap pasangan suami istri yang menjadi sahabat sekaligus rekan bisnisnya itu.
"Tidak apa-apa Tuan Alan. Kami tidak marah. Lagi pula, Matthew sudah dewasa, dia berhak menentukan jalannya sendiri." Ujar Tuan Dewa sembari mengusap pundak istrinya. Sebenarnya ia masih kecewa, namun ia tidak mau menunjukkan kekecewaan itu.
Dari raut majah Nyonya Dewa, Ummi Fatimah bisa menangkap aura tidak suka atas keputusan putra semata wayangnya. Memilih meninggalkan keyakinan lama yang sudah mendarah daging untuk sesuatu yang baru menurut Nyonya Dewa bukanlah hal yang sederhana, ia yakin ada yang memprovokasi putra tersayangnya, itulah sebapnya sejak Nyonya Dewa menginjakkan kaki di Jakarta, ada amarah membuncah untuk keluarga Tuan Alan.
__ADS_1
Nyonya Dewa sangat marah sampai-sampai ingin menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Namun buruknya, ia tidak bisa melakukan itu lantaran suami penyabarnya terus saja menggenggam tangannya agar ia tidak membuat ulah.
"Tuan Alan, jujur, saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar, apa Tuan Alan bisa menceritakan kronologi kenapa Matthew sampai memutuskan menjadi seorang Mualaf?"
Bukannya menjawab pertanyaan Tuan Dewa, Tuan Alan malah menyerahkan tablet yang ada di tangannya, memutar rekaman CCTV saat Matthew tiba di Masjit hingga membuat onar saat semua orang sedang khusuk berdoa. Melihat vidio yang ada di tangan suaminya, Nyonya Dewa mulai mengutuk kebodohan putranya dalam hati. Seandainya saat ini Matthew dalam keadaan baik, sudah di pastikan Nyonya Dewa akan mengamuk pada putra tidak bergunanya.
"Tuan Alan..." Baru saja Nyonya Dewa membuka mulut untuk menyalahkan Tuan Alan dan Ummi Fatimah, tanpa di duga, Matthew yang tak sadarkan diri sejak di larikan ke Rumah sakit mulai membuka mata dengan era-ngan menahan sakit.
Matthew tersenyum, ia hanya bisa mengedipkan mata memberikan isyarat kalau dirinya sekarang mulai membaik.
__ADS_1
"Ma. Pa. Jangan salahkan Ummi dan Abi, mereka orang-orang baik. Lagi pula, semua keputusan, ku ambil sendiri tanpa melibatkan siapa pun. Dan ini sudah menjadi keputusanku. Aku merasa bahagia. Benar-benar Bahagia." Matthew memberikan penekanan pada kata bahagia, seolah ucapannya tidak dapat di ganggu-gugat lagi. Nyonya Dewa yang ingin marahpun terpaksa mengalah di depan Tuan Alan dan Ummi Fatimah.
"Ma. Pa. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih karena membesarkan ku dengan baik. Dan Aku minta maaf karena tidak bisa atau belum bisa menjadi putra yang baik untuk kalian." Matthew merasakan kesedihan mendalam sampai tidak bisa menahan lelehan demi lelehan air matanya.
"Ma. Pa. Menjadi putra kalian adalah kebanggaan besar untukku. Jika aku terlahir kembali, aku akan tetap memilih kalian sebagai orang tuaku, tapi aku juga akan tetap mengambil keputusan ini." Matthew menatap kedua orang tuanya dengan intens, sesekali ia juga menatap Ummi Fatimah dan Tuan Alan yang duduk di sofa mendengar ucapannya.
"Menjadi seorang Mualaf adalah keputusan terbesar dalam hidupku, aku melakukannya dengan sadar. Jadi, aku mohon hormati keputusanku, kali ini saja." Matthew menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Papa tidak marah, atau pun keberatan. Tapi, sepertinya Mama-Mu yang keberatan." Tuan Dewa tersenyum tipis, ia menggenggam jemari Matthew, mengabarkan pada putranya kalau ia akan menjadi Ayah yang selalu mendukung keputusannya.
__ADS_1
Merasa bahagia. Itulah yang di rasakan Matthew saat ini. Ia hanya ingin kebahagiaan ini tidak akan pernah meninggalkannya.
...***...