Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Di Kantor (Refal)


__ADS_3

"Assalamu'alaikum... Pak Rektor bilang anda mencari saya? Ada apa?" Ucap Fazila setelah ia berdiri jarak sepulu langkah dari posisi Refal berdiri.


Untuk sesaat Refal dan Fazila sama-sama terdiam.


Entah kenapa bibir Refal tertutup rapat, padahal sebelumnya ia memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya. Entah kemana semua pertanyaan ia pergi, Refal yang tidak tahu harus berkata apa hanya bisa tertunduk lesu.


Untuk pertama kalinya!


Ya, ini untuk pertama kalinya seorang Gubernur sekelas Refal yang di kenal tegas, percaya diri dan berdedikasi tinggi harus merunduk di depan lawan bicaranya.


Semenit, dua menit, tiga menit bahkan hingga menit kelima Refal masih terdiam tanpa berani menatap lawan bicaranya.


"Apa ada hal yang penting? Jika tidak ada sebaiknya saya pergi saja." Ujar Fazila karena merasa tidak nyaman.


"Pertama-tama saya mau minta maaf karena tanpa sepengetahuan anda saya telah berani memanggil anda Singa Betina." Ucap Refal pelan begitu ia membuka mulutnya.


Singa betina?


Mendengar dua kata itu membuat Fazila mengerutkan keningnya, ia tidak percaya sosok intelektual yang berdiri di depannya berani meledeknya seperti itu di belakangnya. Rasanya Fazila ingin marah, namun marah pun tiada akan berguna.


"Singa betina? Ku akui anda lumayan keterlaluan, tapi tidak apa-apa aku bisa memaklumi itu.


Kita bertemu dengan cara yang tidak biasa, karena ada kemarahan dalam pertemuan pertama itu." Ucap Fazila pelan, kepalanya tertunduk. Ia berpikir lebih baik mengalihkan pandangannya dari pada menatap pria rupawan di depannya terlalu sering.


"Ini." Refal menyodorkan benda pipih yang sudah ia bungkus dengan plastik kecil.


Netra Fazila membulat, tatapan yang tadi mengarah ke lantai kini berpindah pada wajah tampan milik seorang Gubernur tampan, Refal Mahendra Sekar.


"Bukankah aku sudah bilang tidak akan menerima hadiah dari siapa pun? Aku rasa anda sudah lupa dengan apa yang ku ucapkan." Celoteh Fazila sambil melipat kedua lengan di depan dada.


"Aku rasa Nona Fazila tipe gadis pemarah. Belum apa-apa anda sudah mulai marah. Ini bukan milik ku. Asisten ku menemukan ini saat anda terjatuh tadi."

__ADS_1


"Apa ini?"


"Lihat saja sendiri!" Balas Refal masih dalam keadaan menyodorkan benda yang ada di tangan kanannya.


"Po-ponsel? Kapan aku menjatuhkannya? Aku pikir aku meninggalkannya di kantor!" Ujar Fazila masih dengan mata membulat, tak percaya.


"Aku rasa benda ini terjatuh saat anda terjatuh tadi. Layar tidak hanya tergores, tapi pecah. Jika anda mau aku bisa meminta asisten ku memperbaikinya."


"Tidak perlu pak Gubernur, aku bisa melakukannya sendiri. Terima kasih."


"Baiklah, karena urusan saya sudah selesai di tempat ini maka saya akan kembali ke kantor. Walau anda bilang tidak ingin bertemu dengan saya lagi, saya berharap kita bisa bertemu dengan suasana berbeda." Ucap Refal sambil menyodorkan tangannya hendak menjabat tangan Fazila.


"Terima kasih. Dan hati-hati di jalan." Balas Fazila sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.


Melihat reaksi spontan Fazila membuat Refal salah tingkah, tangan yang tadinya terjulur kini beralih ke kepala, apa lagi yang bisa Gubernur tampan itu lakukan selain salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya ada wanita yang berani menolak uluran tangannya.


"Assalamu'alaikum..."


Akhirnya mereka berpisah sambil membalas senyuman, dan berjalan menuju tujuan masing-masing.


...***...


Empat jam telah berlau sejak Refal dan Fazila berpisah. Kini Refal kembali berkutat dengan pekerjaan yang masih menumpuk di atas meja kerjanya. Tidak ada keluhan sedikipun dari hati dan pikirannya karena ia sangat mencintai pekerjaannya.


"Anda tidak boleh masuk, pak Gubernur sedang sibuk. Jika anda ingin bicara datang besok saja."


Refal menghentikan aktivitasnya sambil menatap tajam kearah daun pintu yang masih tertutup rapat. Ia yakin Asistennya sedang berdebat dengan seseorang yang tidak ia kenal.


"Pak, tolong biarkan saya bertemu dengan Pak Gubernur. Saya punya masalah yang harus di selesaikan dengan beliau. Saya ingin menuntut keadilan."


Lagi-lagi Refal hanya bisa mendengar suara gaduh dari luar kantornya. Ia bahkan mendengar suara mengiba dari seorang wanita.

__ADS_1


Apa si payah itu sedang bertengkar? Kenapa dia bertengkar dengan wanita? Siapa yang ingin mereka temui? Aku bahkan tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas. Gumam Refal di dalam hatinya.


Sedetik kemudian dia mulai meraih telpon yang ada di dekat tangan kirinya.


"Ada apa di luar? Apa kalian akan menjadikan kantor ku sebagai ajang tempat adu mulut? Hentikan kegaduhan itu." Bentak Refal dari sambungan telpon.


"Ada apa di luar? Kenapa aku mendengar suara orang menangis?" Sambung Refal lagi sebelum dia benar-benar menutup panggilannya.


"A-da se-seorang wanita separuh baya yang ingin bertemu dengan Pak Gubernur." Ucap seseorang di luar kantor Refal dengan suara gugup.


"Lalu apa masalahnya? Bukankah aku ada disini? Suruh dia masuk atau aku yang akan keluar. Klik." Refal memutus panggilannya, ia mulai kesal karena pegawainya berani mencegah rakyatnya bertemu dengannya.


Dua menit kemudian seorang wanita separuh baya dengan baju lusuh masuk ke dalam kantor Refal sambil menenteng tas kecil di tangan kirinya. Wajah wanita itu terlihat kelelahan. Entah apa yang di pikirkan oleh Asisten Refal sampai tega mengusir wanita separuh baya itu bahkan sebelum ia bertemu dengan pemimpinnya.


"Silahkan duduk Bu!" Ucap Refal sambil tersenyum tipis.


"Katakan apa pun yang ingin Ibu sampaikan, tidak perlu takut." Sambung Refal lagi.


"Se-selamat sore pak. Nama saya Rada. Saya datang untuk mengeluhkan ini." Ucap wanita separuh baya yang duduk di kursi depan Refal. Wanita separuh baya itu mulai menyodorkan kertas berukuran sebesar telapak tangan.


"Pak Gubernur, tolong periksa ini. Saya termasuk orang miskin yang masuk dalam daftar penerima bantuan yang di adakan oleh pemerintah.


Biasanya setiap bulan saya selalu menerima bantuan, sudah empat bulan ini tidak ada bantuan apa pun. Saya hanya ingin tahu, apa orang miskin seperti saya tidak akan menerima bantuan lagi? Saat saya bertanya pada petugas yang biasanya memberi sumbangan, mereka bilang Gubernur sudah menghentikan bantuan untuk saya.


Pak Gubernur, saya hanya wanita tua yang tinggal dengan kedua cucu saya. Tolong kasihani saya dan jangan hapus nama saya dari daftar penerima bantuan." Ucap wanita separuh baya sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.


Untuk sesaat Refal menatap Asistennya dengan tatapan tajam. Ia benar-benar kesal mendengar laporan warganya, bukan kesal pada wanita separuh baya itu, tapi kesal kepada Bima yang tidak memberikan lapornya secara terperinci.


"Ibu pulang saja. Insya Allah, saya akan menyelesaikan masalah ini besok. Tinggalkan alamat Ibu pada Asisten saya, dan jangan ceritakan apa pun pada siapa pun tentang pertemuan kita hari ini." Ucap Refal sambil bangun dari kursi kebesarannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2