
Setelah selesai sarapan, Refal dan Fazila bergegas menuju Mansion Wijaya. Itu memang janji mereka, janji untuk berangkat bersama Ummi Fatimah menuju Hotel tempat acara Resepsi malam ini.
"Bagaimana perasaanmu? Maksudku, apa kau masih tegang saat berhadapan dengan Abi?" Fazila bertanya sambil menyentuh lengan Refal yang saat ini sibuk berkendara.
Untuk sesaat, Refal terdiam sembari memikirkan pertanyaan singkat Fazila. Iya, selama ini dia memang merasa gugup saat berhadapan dengan Ayah mertuanya. Maklum saja, dia memiliki seribu alasan untuk merasakan tegang walau sebenarnya tidak membuat kesalahan apa pun.
"Menurutku, Ayah mertua itu penuh karisma. Aku juga merasa bangga padanya. Dan yang membuatku semakin menghormatinya, dia pria sukses karena bisa mendidik putri sehebat Fazila ku ini." Jawab Refal sambil tersenyum menatap Fazila yang saat ini duduk di sampingnya. Ia mencium punggung tangan Fazila namun matanya menatap tajam kedepan.
"Kita sampai." Sambung Refal lagi begitu mobilnya berhenti di depan Mansion Wijaya.
"Selamat pagi Tuan. Selamat pagi Nona." Seorang penjaga menyapa Refal dan Fazila sambil tersenyum begitu pagar mulai terbuka lebar.
"Selamat pagi, Pak. Apa kabar?"
"Baik, Non."
"Bapak sendirian? Penjaga yang satunya lagi dimana?"
"Ada kok, Non. Katanya dia mau sarapan. Untuk urusan itu, kami saling bergiliran."
"Ya sudah, kami masuk dulu." Ucap Fazila lagi. Sedetik kemudian mobil yang Refal kendarai memasuki halaman luas Mansion Wijaya. Dari dalam mobilnya Refal bisa melihat ketiga adik laki-laki Fazila sedang bermain Basket.
"Kak, Zii. Kakak ada di sini?"
Pletakkk!
Belum sempat Fazila menjawab pertanyaan Umang, satu sentilan mendarat tepat di puncak kepala Umang. Siapa lagi yang berani melakukan itu selain si jahil Fatih? Yaa, hanya Fatih yang berani melakukan itu karena di bandingkan dengan Umang dan Regan, usia Fatih setahun lebih besar. Dulu, saat ketiganya masi kecil mereka benar-benar tidak bisa di pisahkan karena itulah Fatih memilih menunggu Umang dan Regan untuk masuk di sekolah yang sama. Dan lihatlah sekarang? Walau usia mereka berada di angka berbeda, tetap saja mereka selalu bersama seolah mereka lahir dari rahim yang sama.
"Tentu saja Kak Zii ada disini, ini kan rumahnya! Dasar payah!" Celoteh Fatih sambil memainkan bola Basket yang ada di tangan kanannya.
"Yang membuat ku heran, kenapa kalian selalu menginap disini? Apa Om Araf dan Tante Bi tidak marah?" Kali ini Fatih melempar bola Basket yang ada di tangannya kearah Regan yang kemudian di tanggap olah Refal.
"Kenapa kau selalu mengganggunya? Dia adik kesayanganku!" Fazila menjewer telinga Fatih pelan. Setiap kali bertemu dengan ketiga adik lelakinya, Fazila selalu saja terbawa suasana dan ikut-ikutan menjadi Kakak yang garang, padahal dia tidak pernah bertindak kasar pada siapa pun kecuali pada orang yang berniat jahat padanya.
"Kenapa Kakak pindah haluan? Sebenarnya di antara kami bertiga Kakak lebih sayang siapa?"
__ADS_1
"Di antara kalian bertiga Kakak lebih sayang..." Ucapan Fazila tertahan di tenggorokannya sembari menunjuk ketiga adiknya secara bergantian.
Fazila terseyum.
"Kakak lebih sayang pada Pak Gubernur. Hehe!" Fazila beranjak meninggalkan ketiga adik-adiknya sambil membawa tawanya.
Sementara Refal? Wajah tampannya terlihat bersemu memerah. Ia tampak seperti remaja yang baru mengenal cinta. Sungguh aneh, namun itulah yang terjadi.
Pletak.Pletak.Pletak.
Refal memainkan bola Basket yang ada di tangannya, ia bahkan tidak bisa berhenti tersenyum.
"Kakak curang. Kenapa kakak mudah sekali mengubah haluan." Kali ini Umang yang angkat bicara, ia menatap kecewa kearah punggung kakak perempuannya yang semakin menjauh. Tidak ada balasan dari Fazila selain lambaian tangan tanda ia akan masuk menemui Ummi dan Abinya.
"Lupakan ucapak kakak kalian! Kalian tahu, kan kalau Kakak kalian sedang menggoda kalian?"
"Tentu saja! Karena tidak ada yang mengenal Kak Zii melebihi kami bertiga." Balas Regan mendahului kedua saudaranya.
"Ayo kita bermain." Refal berucap sembari melempar bola Basket pada Fatih yang berdiri di samping Regan.
"Umang, apa kau tidak waras? Jika Kak Zii tahu kau mengatakan taruhan habislah kau!"
"Regan. Ini antara laki-laki. Jika ada yang mengadu pada Kak Zii maka dia perempuan. Yang jelas aku tidak akan melakukan tindakan bunuh diri itu." Balas Umang sok tidak perduli.
"Okay. Deal. Kita taruhan. Jika Kakak menang maka kami janji akan mengatakan satu rahasia Kak Fazila." Kali ini Fatih yang angkat bicara.
"Ya, itu terdengar menguntungkan." Ucap Refal sambil menjulurkan tangan hendak menjabat tangan ketiga adik iparnya.
"Sebagai taruhannya, apa yang akan Kakak berikan jika kami yang menang?" Fatih balas menjabat tangan Refal, ia bertanya namun satu tangannya ia letakkan di bahu kekar Umang.
"Jika kalian yang menang Kakak janji akan menambahkan uang jajan kalian. Double." Jawab Refal penuh penekanan.
"Okay. Kami setuju."
Kini ketiga adik Fazila bertanding melawan Refal seorang diri.
__ADS_1
Sementara itu di tempat berbeda, Bu Fatimah sedang sibuk mengemas beberapa barang berharga dan memasukkannya kedalam koper. Wajahnya mengukir senyuman namun hatinya merasakan hampa.
"Ummi, tolong ambilkan Abi berkas penting di atas nakas. Abi membutuhkannya." Ucap Tuan Alan tanpa melepas tatapannya dari Laptop yang ada di atas meja.
"Ummi, tolong, Abi sangat membutuhkannya." Ucap Tuan Alan lagi, entah pekerjaan sepenting apa yang membuat konsentrasinya teralihkan dari wajah sedih istrinya, dan ini untuk pertama kalinya.
"Ummi tolllll..." Ucapan Tuan Alan tertahan di tenggorokannya begitu melihat Istrinya tidak lagi fokus.
"Ummi, ada apa? Apa Abi melakukan kesalahan? Tolong katakan!" Ucap Tuan Alan lagi, kali ini ia berjalan mendekati Bu Fatimah dan duduk di samping istrinya sambil memegang pundaknya.
"Tidak apa-apa, Bi."
"Tidak apa-apa, apanya? Lihat wajah Ummi, Ummi terlihat khawatir."
Cukup lama Bu Fatimah terdiam. Sementara Tuan Alan? Ia tidak ingin mendesak istrinya.
"Hmm!" Terdengar suara helaan nafas kasar Bu Fatimah, menandakan betapa kekhawatiran ini sangat mengganggu dirinya.
"Bi... Ummi bahagia, sangat bahagia karena putri kita telah berumah tangga dan malam ini adalah malam istimewa. Hanya saja..." Lagi-lagi Bu Fatimah menekan perasaannya, ia bahkan tidak berani menatap wajah Tuan Alan.
"Katakan Ummi, ada apa?"
"Ummi sangat takut, Bi. Ummi takut kebahagiaan ini akan meninggalkan kita."
"Apa maksud Ummi?" Tuan Alan bertanya sambil menggeser koper yang ada di dekatnya.
"Ummi sangat takut kenangan buruk masa kecil Fazila hadir lagi."
"Maksud Ummi?" Kali ini Tuan Alan benar-benar bingung.
"Orang itu datang lagi, Bi. Dia datang!" Air mata Bu Fatimah langsung tumpah.
"Iya, apa yang Abi pikirkan itu memang benar. Orang itu datang lagi. Kali ini dia pun melakukan hal yang sama." Bu Fatimah menyodorkan selembar kertas yang di tulis dengan tinta merah. Fazila yang sejak tadi berdiri di depan pintu hanya bisa menahan tangis mendengar kedua orang tuanya bicara dengan nada kekhawatiran tingkat tinggi.
...***...
__ADS_1