
Dua jam sebelum kedatangan Refal.
Di sebuah rumah megah berlantai tiga, duduk seorang pria tampan sambil menikmati makan malamnya. Dari jauh Ia tampak seperti lukisan indah yang tak ternilai harganya. Kesempurnaan fisik dan kekayaan yang Ia punya menambah nilai sempurna untuk dirinya. Sayangnya, Ia terlalu tertutup. Tak ada yang pernah bertemu dengannya kecuali rekan bisnis yang benar-benar dekat dengannya. Ia terlalu membatasi diri dari orang lain yang menurutnya tidak membawa pengaruh bagi hidup dan bisnisnya. Tak perlu menyalahkannya, karena selama ini Ia selalu beranggapan tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain Uang. Apakah Ia salah? Semuanya tergantung dari bagaimana seseorang ingin menjalani kehidupannya.
"Bos... Ada kabar baik, putri Alan Wijaya sudah ada dalam kendali kita. Sekarang, anak buah kita sedang menyekapnya di gudang tak jauh dari tempat ini!" Lapor Sky sambil meletakkan tablet disamping kiri Abbas.
"Apa kita akan kegudang itu malam ini atau besok? Jika Bos ingin pergi sekarang, saya akan menyiapkan mobilnya." Sambung Sky lagi. Ia bicara dengan percaya diri, namun kepalanya tertunduk sempurna.
"Minta anak buahmu membawanya ketempat rahasia. Aku tidak ingin mengambil resiko. Aku yakin semua anggota keluarganya seperti cacing kepanasan karena mencari keberadaannya." Ujar Abbas sambil tersenyum getir. Ia terlalu bahagia sampai tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
"Bos, langkah apa yang akan kau ambil? Apa kau akan menghabisinya sekarang?" Sky memberanikan diri untuk bertanya, padahal sebenarnya hatinya merasakan takut, Ia takut Abbas akan menghajarnya seperti dulu.
"Akan ku pikirkan, dan kita akan menemuinya besok. Apa ada informasi penting menyangkut investasi di Jepang?"
"Iya, Bos. Semuanya ada di E-mail. Bos bisa memeriksanya, jika Bos setuju, akan ku kirimkan balasan untuk mereka." Lapor Sky, kali ini Ia berjalan mendekati Abbas. Berdiri di samping kiri pria itu sambil menunggu perintah selanjutnya.
__ADS_1
Netra Abbas membulat sempurna, Ia menatap tajam kearah layar tablet yang ada di tangannya. Wajah yang sejak tadi terlihat serius tiba-tiba menerbitkan senyuman menawan. Sky yang tampak bingung tidak berani bertanya.
"Sky, siapkan mobil. Kita akan menjemput wanita itu." Ucap Abbas menegaskan. Tidak ada bantahan dari Sky, Ia langsung berjalan menuju bagasi sembari membawa kebingungan yang memenuhi rongga dadanya.
Disisi lain, ada orang yang merasakan bahagia. Dan disisi lain pula, ada Fazila yang sedang merasakan derita. Untuk pertama kali dalam hidup Ia merasakan ketakutan sebesar ini. Suaranya terdengar serak, sejak tadi Ia berteriak, memohon agar di bebaskan. Tak ada yang mendengar jeritannya. Semakin kuat Fazila menjerit, semakin besar pula suara tawa yang meledeknya dari balik daun pintu.
"Lepaskan aku!" Fazila berteriak untuk kesekian kalinya, tenggorokannya terasa sakit.
"Kalian semua pengecut! Jika kalian berani, buka ikatan tangan dan kakiku, kita buktikan siapa yang jadi pemenangnya." Ucap Fazila sambil menendang pintu yang terbuat dari kayu. Iya, saat ini Fazila duduk di dekat pintu. Ia sengaja duduk disana karena Ia berpikir tidak ada yang mendengar jeritannya sehingga tidak ada yang datang membantunya.
Untuk sesaat, Fazila menatap mata pria paruh baya itu. Matanya memerah, dan tubuh jangkungnya mengeluarkan bau minuman yang sangat kuat. Rasanya Fazila ingin muntah, Ia merinding, Ia menyadari sedang berhadapan dengan Manusia yang buas.
Ya Allah... Apa yang harus ku lakukan? Tangan dan kakiku terikat, aku tidak akan bisa melindungi diriku sendiri walaupun aku menginginkannya. Batin Fazila sambil beringsut mundur hingga membentur dinding.
"Bukankah kau ingin membuktikan kau sangat pandai berduel? Sekarang mari kita buktikan." Ucap pria itu dengan nada suara tinggi. Ia berjalan mendekati Fazila, karena mabuk pria itu bahkan tidak bisa berdiri tegak.
__ADS_1
"Ahhhh! Lepassss!" Fazila berteriak, Ia yang sejak tadi bertekad tidak akan menangis akhirnya menangis juga saat gamis biru yang membungkus tubuh rampingnya di sobek di bagian lengan kanan. Tubuh Fazila terasa mati rasa.
"Hiks.Hiks. Lepaskan aku!" Fazila berontak dengan sisa tenaga yang Ia punya.
"Bukankah kau seorang jagoan? Sekarang tunjukkan betapa kuat dirimu saat berada di bawahku!" Ucap pria kurang ajar itu sambil menampar Fazila.
Fazila yang malang, tidak ada yang bisa Ia lakukan dengan tangan dan kaki terikat. Hanya Tuhan yang tahu betapa besar ketakutan yang saat ini memenuhi rongga dadanya.
Ya Allah... Di saat aku merasakan takut sebesar ini, tidak ada yang bisa ku andalkan untuk membantuku selain dirimu. Jika aku pernah melakukan kebaikan sekecil apapun kebaikan itu, aku mohon bantu aku keluar dari musibah ini dengan sebab kebaikan itu.
Ya Allah... Selama aku berdoa padamu, sekalipun aku tidak pernah merasakan kecewa. Kali ini pun sama. Aku mohon, tunjukkan keajaibanmu, bantu aku. Hiks.Hiks. Tangis Fazila pecah saat pria kurang ajar itu kembali mendekatinya dan merobek lengan baju bagian kirinya. Tubuh kekar itu mendorong Fazila hingga kepalanya membentur dinding cukup keras.
Ya Allah... Jika ini akhir dari kisahku, aku mohon, ampuni dosaku dan berilah kekuatan untuk keluarga yang akan ku tinggalkan.
Ya Allah... Inilah permohonanku, permohonan agar kau menjauhkanku dari musibah ini. Gumam Fazila lagi. Sebelum Ia hilang kesadaran, Ia mendengar suara tembakan cukup keras.
__ADS_1
...***...