
Menunggu?
Menunggu itu memang hal yang sangat membosankan. Namun, jika menunggu itu akan membawa kebaikan dan mendatangkan ketenangkan maka tidak ada pilihan lain selain melakukannya dengan kesabaran.
"Tiga puluh menit! Apa itu masih kurang? Ini waktunya makan siang tapi tetap saja Pak Gubernur itu tidak datang. Apa semua orang pingsan di ruang rapat? Ini benar-benar menyebalkan.
Aku rasa karena alasan ini Kakak meminta kita untuk minta maaf, agar kita merasakan bosan sampai di ubun-ubun." Gerutu Umang sambil berjalan mondar-mandir.
"Apa kau tidak bisa diam? Melihatmu mondar-mandir membuat ku kesal. Aku merasa pusing! Aku juga mual, sepertinya aku terlalu lapar. Apa sebaiknya kita pergi dan makan siang terlebih dahulu?" Regan menatap Fatih sambil menyodorkan air mineral yang ia keluarkan dari dalam tasnya.
"Tidak. Aku tidak butuh itu. Kita hanya perlu bertemu pak Gubernur kemudian meninggalkan tempat membosankan ini." Celoteh Fatih sembari mengusap wajahnya kasar. Ia menatap wajah Umang dan Regan dengan tatapan kasihan. Ia kasihan karena ulahnya kedua sepupu kembarnya itu ikut-ikutan berada dalam masalah.
"Aku tidak lapar, jika kalian lapar kalian bisa pergi. Aku akan menunggu disini." Ucap Fatih lagi, kali ini tanpa menatap wajah kedua saudaranya.
Dua menit, tiga menit, hingga menit kesepuluh sejak kepergian Regan dan Umang.
"Selamat siang, Pak Gubernur mengizinkan anda menemuinya, di kantornya."
Seorang pria muda berdiri di depan Fatih sambil menenteng kotak makan siang. Wajahnya terlihat tampan, entah seberat apa beban hidupnya sampai wajah tampan itu hanya memamerkan keseriusan.
"Nama ku Bima, aku Asisten Pribadi Pak Gubernur. Kalau boleh tahu ada urusan apa anda datang kemari, dan sepertinya anda terlihat tidak asing?"
"Pak Bima benar, ini bukan pertemuan pertama kita. Sebelumnya kita pernah bertemu di kampus Kakak.
Aahhh... Maafff. Maksudku, dulu kita pernah bertemu di kampus saat insiden Bu Fazila jatuh dan menimpa pak Gubernur." Ujar Fatih menjelaskan.
Bima terlihat mengerutkan keningnya sembari mengingat kejadian konyol itu. Walau demikian rasanya tidak tepat untuk melontarkan komentar tentang kejadian itu, yang bisa ia lakukan hanya berjalan menuntun Fatih menuju kantor atasannya.
Tak butuh waktu lama untuk Bima dan Fatih sampai di ruang kerja Refal. Kantornya cukup luas, di sisi kanan dekat meja kerja terdapat rak buku yang cukup besar, ribuan buku, bahkan lebih dari itu, berjejer memenuhi rak. Semua jenis buku ada disana kecuali buku Roman, karena Pak Gubernur tidak menyukai buku sejenis itu.
Untuk sesaat Refal menatap tajam kearah pria muda yang duduk di depannya. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana pria itu berlutut dengan air mata yang memenuhi kelopak matanya di depan gadis anggun yang akan di jodohkan dengannya.
Cihh... Bagaimana bisa anak ingusan ini muncul di kantor ku dengan wajah tanpa dosa? Apa dia datang untuk meminta agar aku menjauhi Nona Fazila? Akan ku lihat seberapa keras usahanya dan akan ku buktikan aku lebih unggul darinya. Refal bergumam di dalam hati sambil menatap tajam kearah Pria muda yang masih duduk mematung di hadapannya.
__ADS_1
"Katakan, apa tujuan mu datang ketempat ini? Aku orang yang cukup sibuk." Ucap Refal dengan wajah seriusnya. Untuk pertama kali dalam hidup ia merasa tidak aman di depan pria muda yang seharusnya tidak perlu ia takuti.
"Aku datang kemari untuk..."
"Minta maafff." Ucap Refal memotong ucapan pria muda di depannya.
"Aku tidak semudah itu dalam memberi maaf pada sembarang orang, perkenalkan dulu namamu, setelah itu akan ku putuskan, apa aku akan memaafkanmu atau tidak." Celoteh Refal setelah menelan makan yang masih tersisa di dalam mulutnya.
"Namaku Fatih, aku kuliah di..."
"Aku tahu, jadi kau tidak perlu menjelaskannya. Saat itu, aku melihat mu bersama Nona Fazila. Sekarang katakan, bagaimana pendapatmu tentang dirinya?"
Untuk sesaat, wajah tampan Fatih mengukir senyuman. Ia bahkan menghadirkan wajah cantik Kakak perempuannya dalam benaknya. Namun sayangnya, Refal mengartikan hal lain di balik senyuman itu.
"Kenapa, apa kau sangat mencintai wanita itu? Maksudku, Nona Fazila?" Refal bertanya dengan penuh kehati-hatian, berusaha menggali informasi agar ia bisa menentukan langkah selanjutnya.
"Haha! Pak, anda benar-benar lucu. Tentu saja aku sangat mencintainya, karena hanya dia wanita tercantik di dunia setelah Ibu ku." Ujar Fatih dengan tawa yang masih mengembang sempurna di wajah tampannya.
Prakkk!
"Jadi maksudmu, kau sangat mencintai Nona Fazila. Apa kau tidak merasa risih dengan jarak usia kalian?"
"Tidak ada yang salah dengan jarak usia kami. Perbedaan kami hanya delapan tahun." Jawab Fatih tanpa beban karena itu memang kebenarannya.
Sayangnya, ucapan Fatih di telinga Refal terdengar bagaikan bom molotov yang menghancurkan lubuk hati terdalamnya.
Ada apa ini? Kenapa aku kesal? Rasanya aku ingin meninju wajah sok polos di depan ku ini. Batin Refal dengan wajah yang mulai terlihat kesal.
"Jadi kau sangat mencintai Nona Fazila? Kenapa kau tidak menikah saja dengannya? Kau benar-benar menyebalkan." Refal lepas kendali, ia bicara dengan nada suara tinggi.
Ada apa dengan Pak Gubernur? Apa dia cemburu? Bima yang melihat reaksi berlebihan Refal hanya bisa bergumam di dalam hatinya.
"Aku akan menikan jika aku menemukan wanita lain sebaik dan secantik Bu Fazila." Fatih tersenyum sambil meraih kopi yang ada di atas meja, kopi yang di sediakan Bima tepat sebelum ia dan Refal memulai percakapan seriusnya.
__ADS_1
"Aku belum menemukan gadis sebaik Kak Fazila." Sambung Fatih lagi.
"Ka-kakak? Jadi maksudmu Nona Dosen adalah Kakak mu?" Kali ini Bima yang bertanya, dia sama herannya dengan Refal.
"Iya, Bu Fazila adalah Kakak ku."
Puhhh!
Refal menyemburkan semua yang ada di mulutnya, karena terkejut ia bahkan tidak sadar menyemburkan makanannya ke wajah dan pakaian Fatih yang duduk tak jauh darinya.
"Pa-pak. Apa anda baik-baik saja?" Bima berlari kearah Refal kemudian menepuk punggungnya. Sementara Fatih? Ia menyodorkan air mineral yang ada di tangannya.
"Maaf... Aku harus kekamar mandi." Refal berlari kearah kamar mandi dengan wajah memerah. Sementata Bima? Dia sibuk membantu Fatih membersihkan wajah dan pakaiannya dengan tissu basah.
Di dalam kamar mandi, Refal sibuk mondar mandir sembari mengusap wajahnya kasar. Ia sendiri bingung ada apa dengan dirinya? Dan kenapa ia bertingkah kekanak-kanakan.
"Apa aku cemburu? Pada anak itu? Bagaimana bisa? Dia adiknya.
Aku mencintai Hilya, lalu kenapa aku kesal saat melihat kedekatan Fatih dan Fazila? Kedekatan yang aku pikir mereka sedang terlibat dalam hubungan cinta. Oh Tuhan, apa ini? Apa aku benar-benar cemburu?" Refal meremas rambutnya, ia bahkan melihat wajahnya di cermin. Dia terlihat berantakan. Wajahnya seolah mengabarkan kalau dia sedang berada dalam dilema besar.
Troetttt!
Lima menit berlalu, kini Refal memberanikan diri membuka gagang pintu dan menatap Fatih yang saat ini duduk sambil menyilangkan kedua kakinya. Bukan hanya Fatih, di samping kirinya juga ada dua pria muda. Refal mengingat wajah itu, sayangnya dia tidak tahu nama kedua pria yang memiliki wajah oriental itu.
"Pak Gubernur, mereka juga saudaraku. Mereka anak tanteku, namanya Umang dan Regan.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, kami datang kemari atas keinginan Kakak. Kak Fazila meminta kami untuk minta maaf kepada anda atas kejadian beberapa hari yang lalu. Maksud kami, kejadian saat Kak Fazila jatuh dan menimpa tubuh kekar anda.
Sebelumnya kami tidak pernah melihat Kak Fazila semarah itu. Untuk bisa mendapatkan Maafnya, Kak Fazila memberikan syarat agar kami meminta Maaf pada Pak Gubernur." Tutup Fatih dengan wajah merunduk, Umang dan Regan hanya bisa menghela nafas kasar mendengar penuturan Fatih karena itu memang kenyataannya.
"Baiklah. Aku memaafkan kalian bertiga, melihat kalian bersusah-payah datang kekantorku, itu artinya kalian sangat menyayangi Kakak kalian. Aku merasa lega mengetahui itu. Setidaknya sekarang aku tahu langkah apa yang harus ku ambil dan bagaimana caraku melakukannya." Ujar Refal penuh semangat.
Assalamu'alaikum... Pak, ini Refal. Ayo kita bertemu, berdua saja. Ada hal penting yang harus saya sampaikan. Tulis Refal dalam pesan singkatnya.
__ADS_1
Setelah memaafkan ketiga pria yang sebelumnya ia anggap brondong milik Fazila, kini Refal mulai membuka hatinya. Ia pun merasakan lega, ada banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan sosok karismatik yang ia tahu sebagai ayah dari wanita yang ingin di jodohkan dengannya, karena itulah Refal memberanikan diri mengirim pesan singkatnya.
...***...