
"Dokter, tolong selamatkan istriku!" Refal berteriak begitu Mobil Ambulance sampai di depan rumah sakit, sudah ada Dokter Neti yang menunggu mereka disana, dokter keluarga Wijaya.
"Dokter Neti, pastikan putriku selamat. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya." Ujar Tuan Alan sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada. Wajahnya tampak sedih, dan buruknya ia tidak bisa menangis karena ia seorang kepala keluarga. Apakah ada larangan menangis untuk Tuan Alan Wijaya? Jawabannya, tentu saja tidak. Hanya saja, ada Ummi Fatimah yang harus Tuan Alan jaga, jika dia menunjukkan kelemahannya, lalu bagaimana dengan perasaan istrinya?
Tanpa membuang waktu, Fazila langsung di bawa menuju ruang oprasi. Semua anggota keluarga menunggu di sana kecuali Ummi Fatimah, karena wanita paruh baya itu berada di ruang perawatan. Dia belum siuman sejak melihat putri berharganya terluka.
"Mam... Kenapa dalam kisah cintaku selalu saja ada hujan air mata? Semua ini sangat menyakitkan." Gerutu Refal sambil memeluk Mamanya, Nyonya Asa. Ia menangis dalam pelukan Mamanya, karena ia tahu hanya dalam pelukan wanita paruh baya kesayangannya itu beban dihatinya akan berkurang.
Sakit! Sangat sakit.
Itulah yang di rasakan seorang Refal Mahendra Shekar saat ini, menatap Fazila tak sadarkan diri dengan bersimbah darah membuatnya hilang akal. Ia merasa akan tiada dalam penderitaan yang memenuhi rongga dadanya. Membayangkan dirinya jauh dari Fazila membuatnya tak bisa menahan tangisnya. Apakah Refal sungguh secengeng itu? Biasanya Refal tidak pernah terlihat lemah seperti hari ini. Kesedihannya bersumber dari hatinya, dan kesedihan kali ini berlipat ganda di bandingkan kesedihan saat dirinya di tinggal Hilya.
__ADS_1
"Jangan menangis, sayang. Walau Mama takut, mama yakin Fazilamu baik-baik saja. Apa kau ingat sesaat sebelum ia menutup mata?" Nyonya Asa bertanya sambil menangkup wajah sedih putra tersayangnya.
"Fazila tersenyum!" Ucap Nyonya Asa menegaskan.
"Secara tidak langsung, dia meminta kita agar tidak sedih berlebihan. Kita tidak boleh putus asa. Dan saat manusia hilang harapan, hal pertama yang harus dia lakukan hanya memohon pada Tuhan dengan cara berbisik ke bumi namun bisikanmu terdengar sampai kelangit! Kau mengertikan maksud Mama?" Sambung Nyonya Asa Lagi.
Dengan cepat Refal menganggukkan kepala, memberikan isyarat kalau ia mengerti dengan jelas nasihat Mamanya. Nasihat untuk memohon pertolongan dengan sabar dan Shalat.
"Tuan Alan dan pak Refal, saya ingin bicara, silahkan ikuti saya." Dokter Neti menatap dua pria tampan beda generasi itu dengan tatapan sendu.
Lima menit kemudian, Refal dan Tuan Alan berada di kantor Dokter Neti. Wajah keduanya menjelaskan ketakutan besar.
__ADS_1
"Tuan Alan dan Tuan Refal, saya ingin menyampaikan, Fazila sedang tidak baik-baik saja. Tadi di ruang oprasi, jantungnya sempat terhenti, namun untungnya Fazila bisa melewatinya dan kembali dengan cepat." Dokter Neti mengabarkan beritanya, berita yang tentu saja membuat Refal atau pun Tuan Alan ingin menangis histeris.
"Apa dulu Fazila pernah terluka? Maksudku tertembak seperti hari ini?" Dokter Neti kembali bertanya dan menuntut jawaban cepat dari kedua pria yang duduk di depannya.
Refal terdiam, Ia tidak tahu harus berkata apa. Fazila tidak pernah menceritakan perihal luka lamanya. Namun berbeda dengan Tuan Alan, beliau langsung mengangguk, menjawab pertanyaan dokter Neti yang terlihat penasaran.
"Hmm!"
Dokter Neti menghela nafas kasar. Ia sangat takut mengabarkan kondisi Fazila. Mau tidak mau dia harus melakukannya, dan hal yang paling menakutkan bagi dokter Neti adalah mengabarkan kabar buruk tentang pasiennya.
Sungguh, Refal berharap semua ini hanya mimpi. Sayangnya, itu tidak terjadi. Tanpa mendengar penjelasan dari Dokter Neti, Refal berlari meninggalkan ruangam itu menuju ruang inap Fazila, karena baru saja wanitanya telah di pindahkan kekamar VVIV. Ia hanya ingin menemani wanitanya tanpa perlu melewatkan sedetikpun. Refal tidak ingin mendengar berita buruk tentang Fazilanya, karena itu ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Ayah mertuanya, Tuan Alan Wijaya.
__ADS_1
...***...