
Jarum jam menunjukan pukul 7.30, namun tidak ada tanda-tanda Fazila akan bergerak dari ranjang tempat tidurnya dan menutup Al-qur'an yang ada dalam genggamannya. Tidak berintraksi selama dua pekan membuat Fazila merindukan Al-qur'annya.
Al-qur'an yang di berikan Ummi Fatimah sejak Fazila masih kecil, dan Al-qur'an yang selalu menemaninya hingga ia dewasa. Sungguh, bukannya Fazila bersikap sok Shalihah, ia memang selalu seperti itu, ia akan melupakan kesedihannya, ia juga akan melupakan rasa laparnya saat bibirnya mulai melantunkan ayat-ayat cinta yang selalu menenangkan jiwanya.
Tok.Tok.Tok.
Fazila menoleh kearah sumber suara, dan mendapati Ummi Fatimah berdiri di sana. Wajah cantik Fazila langsung mengukir senyuman.
"Apa Ummi boleh masuk?"
"Kenapa bertanya? Ummi bisa masuk kapan pun yang Ummi inginkan!" Balas Fazila tanpa melepas senyuman indah dari bibirnya. Ia menutup Al-qur'an yang ada dalam genggamannya kemudian menaruhnya di atas nakas.
"Sayang, di bawah ada Tuan dan Nyonya Dewa. Mereka ingin bertemu dengan Mu!"
"Dengan ku? Ada apa?"
"Entahlah, Nak. Ummi juga kurang tahu. Kau bisa menemuinya sekarang, dan kita akan tahu tujuan mereka berkunjung." Setelah mendengar ucapan Umminya, Fazila berusaha turun dari ranjang, kemudian Ummi Fatimah membantu Fazila duduk di atas kursi roda. Dua pekan tergeletak di atas tempat tidur membuat sekujur tubuh Fazila merasakan sakit luar biasa, bahkan untuk berjalan saja ia masih tidak sanggup. Solusi terbaik yang bisa ia lakukan hanya duduk di atas kursi roda hingga tubuhnya kembali normal seperti sedia kala.
__ADS_1
Lima menit kemudian Fazila sudah berada di ruang tengah, disana ada Tuan dan Nyonya Dewa, di temani oleh Tuan Alan. Mereka bertiga terdengar kompak, bahkan suara tawa Tuan Dewa menggemparkan ruang tengah, entah lelucon apa yang Tuan Alan lakukan sampai membuat kedua tamu yang masih di liputi duka itu tersipu malu.
"Apa aku mengganggu?"
"Selamat datang, Nak! Kau tidak mengganggu kami, justru kami sedang menunggu kedatangan-Mu!" Ujar Nyonya Dewa sembari berjalan mendekati Fazila. Memeluk gadis muda di depannya sambil meneteskan air mata. Namun buru-buru Nyonya Dewa menghapus sudut mata dengan jari telunjuknya, berharap tidak ada yang bisa membaca kesedihannya.
"Kau menggunakan kursi roda? Apa tubuh mu masih sakit?" Kali ini, Nyonya Dewa bertanya sambil memegang dagu Fazila, gadis cantik yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri sejak Matthew memintanya untuk menerima keluarga Tuan Alan sebagai keluarga barunya.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja, aku tidak bisa berjalan atau berdiri terlalu lama." Balas Fazila sambil tersenyum.
Nyonya Dewa berjalan kearah sofa sambil mendorong kursi Roda dari belakang. Setelah duduk, ia mulai menggenggam jemari Fazila. Sangat erat.
"Tante tidak perlu meminta maaf. Karena di antara kita, ucapan cinta dan kasih sayang jauh lebih indah untuk di dengarkan."
Mendengar ucapan tulus Fazila membuat Nyonya Dewa melayangkan kecupan hangatnya di puncak kepala Fazila. Sungguh, setelah sekian lama mengenal keluarga Tuan Alan, untuk pertama kalinya Nyonya Dewa merasakan bahagia.
"Besok Tante dan Om akan kembali ke Bali, kami akan memperingati kepergian Matthew dengan cara melakukan doa bersama. Tapi sebelum itu, Tante ingin memberikan ini." Nyonya Dewa menyerahkan amplop berwarna Hijau pada Fazila.
__ADS_1
"Tante tidak tahu apa isi surat itu. Yang jelas, sebelum Matthew pergi, dia meminta Tante menyerahkan surat itu untuk Mu." Jelas Nyonya Dewa lagi.
"Apa aku boleh mengatakan sesuatu?" Fazila berucap sembari menatap wajah Tuan dan Nyonya Dewa secara bergantian, kemudian menatap Ummi dan Abinya yang duduk di sofa berbeda.
"Katakan saja, Nak. Tidak ada yang melarang Mu." Balas Tuan Alan, sementara Ummi Fatimah terlihat menganggukkan kepala pelan, mendukung pernyataan suaminya.
"Aku bertemu Matthew!" Ucap fazila sembari memejamkan mata, ia berusaha menghadirkan bayangan Matthew dalam benaknya, berusaha mengingat pembicaraan terakhir mereka.
"Maksudku, aku bermimpi bertemu dengannya. Dia berada dalam keadaan terbaik yang di inginkan setiap Manusia. Dia titip salam untuk Om dan Tante, dia meminta kalian agar tidak bersedih terlalu lama. Dia juga bilang...."
"Dia juga bilang Fatih yang akan menjaga kami seperti anak lelaki kami, apa itu benar?"
Netra Fazila membulat sempurna, ia tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. Seolah Nyonya Dewa sedang membaca jalan pikirannya.
"Apa benar seperti itu?" Nyonya Dewa kembali melontarkan tanyanya. Tidak ada balasan dari Fazila selain anggukan kepala pelan.
"Tante yakin Matthew benar-benar menemui Mu, karena apa yang tertulis dalam surat yang ia tinggalkan untuk Tante, ia katakan juga pada Mu." Untuk kesekian kalinya Nyonya Dewa merasakan lega, putra berharganya pergi sangat jauh, namun ia merasa putranya itu tidak pernah meninggalkannya, ia malah menambah kedekatannya dengan keluarga Tuan Alan, keluarga yang tidak ia sukai sejak pertama kali suaminya memutuskan untuk terlibat dalam kerja sama bisnis mereka dulu.
__ADS_1
...***...