
Mentari baru saja menampakkan sinarnya, namun kesibukan di Mansion Wijaya telah terlihat sejak subuh datang menyapa. Semua Art, atau tepatnya belasan Art telah di bagikan tugasnya masing-masing. Seharian ini hingga menjelang sore akan sangat di disibukkan untuk persiapan menyambut kedatangan kedua orang tua Matthew.
Tadinya, Tuan Alan dan Bu Fatimah yang akan berkunjung ke Bali untuk urusan bisnis, namun karena alasan kedua orang tua Matthew sangat merindukan putranya, mau tidak mau merekalah yang berkunjung ke Jakarta.
"Mbok, dimana Fazila?"
"Nyonya... Non Fazila ada di kamarnya!"
"Apa dia sudah sarapan?"
"Nona bilang tidak ingin sarapan, jadi saya tidak menyiapkan apa pun untuknya."
"Jika Fazila tidak ingin sarapan, tolong bawakan teh hangat dan kue kesukaannya. Katakan padanya, Aku akan menemuinya setelah bicara dengan Abinya." Ucap Bu Fatimah sambil memegang lengan Art separuh bayanya.
Setelah menanyakan apa yang ingin di ketahuinya, Bu Fatimah langsung meninggalkan dapur dan beranjak menuju lantai dua.
Sementata itu di kamarnya, Fazila sedang menatap pantulan wajahnya di cermin. Ada kesedihan di matanya namun dia tidak tahu bagaimana cara menyingkirkan duka itu. Perdebatan antara dirinya dan Refal belum terselesaikan, atau tepatnya Fazila tidak tahu Refal sudah menemuinya saat Ia masih terlelap. Karena lelah, Fazila bahkan tertidur dan tak menyadari kehadiran Refal. Ia mulai bangun di sepertiga malam.
"Pak Gubernur masih marah padaku. Ia bahkan tidak pulang dan bicara denganku."
__ADS_1
"Aku harus apa? Tidak mungkin kami saling berdiam diri dan tak bicara. Jika Pak Gubernur tidak mau bicara dengan Ku, maka Aku yang harus bicara dengannya."
"Perdebatan dalam rumah tangga memang tidak bisa di hindari, perdebatan ini tidak boleh membuat hubungan kami merenggang. Aku tidak boleh menyerah." Fazila menghapus sudut mata dengan punggung tangannya, Ia bangun kemudian beranjak menuju pintu.
"Ummi." Fazila menyapa Umminya begitu daun pintu terbuka.
"Putri Ummi mau kemana? Kau terlihat terburu-buru." Bu Fatimah menangkup wajah Fazila. Ia terkejut saat menatap mata merah putrinya.
"Apa Kau menangis? Apa Kau bertengkar dengan Refal? Atau Refal memukulmu? Katakan pada Ummi, Fazila!" Bu Fatimah berucap dengan nada suara tinggi. Dalam hidup ini, hal yang paling Bu Fatimah takutkan saat menatap wajah sedih putrinya. Dan kali ini Ia telah melihatnya.
"Ummi. Ummi." Fazila memegang lengan Umminya kemudian memintanya duduk di ranjang.
"Lihat wajah Fazila. Apa Ummi pikir Fazila menderita?" Fazila Berucap sembari menangkup wajah Bu Fatimah dengan kedua tangannya.
"Pak Gubernur sangat mencintai Fazila, Mi. Pagi ini kami bahkan sarapan bersama, dan beliau bilang akan membawaku liburan ke Dubai." Ucap Fazila berbohong. Untuk pertama kalinya Fazila berbohong, Ia berharap Umminya tidak tahu itu.
"Dan tentu saja Fazila menolak, karena Fazila tidak bisa jauh dari Ummi." Sambung Fazila lagi.
"Dasar nakal. Apa kau sangat mencintainya? Berani sekali kau berbohong pada Ummi." Ujar Bu Fatimah sembari mencubit pelan hidung bangir Fazila.
__ADS_1
"Haha! Maaf, Ummi. Fazila hanya ingin mengatakan, Ummi tidak perlu khawatir. Sebesar Fazila mencintai Pak Gubernur, maka sebesar itu pula Pak Gubernur mencintai Fazila." Aku Fazila sambil memeluk Umminya.
Untuk sesaat kamar yang di huni Fazila tampak senyap, kedua wanita beda generasi itu saling balas tersenyum tentunya bukan senyum yang di paksakan.
"Bukankah Ummi bilang Fatih sedang menjemput putra rekan bisnis Abi? Kenapa anak itu belum pulang, ini sudah siang. Apa dia keluar dengan teman-temannya kemudian dia mengaku pada ummi sebaliknya?"
Ting.Tong.
Tidak ada tanggapan dari Bu Fatimah selain menunjuk ke arah pintu, mengisyaratkan kalau tebakan Fazila tidak benar.
"Kau dengar? Fatih pulang."
"Sepertinya tebakan Fazila salah. Baiklah, Fazila akan buka pintu untuknya." Ucap Fazila cepat, Ia meninggalkan bu Fatimah dan berlari menuju lantai bawah.
"Fatih, Kakak memintamu untuk tidak..." Ucapan Fazila tertahan di tenggorokannya, Ia terkejut begitu pintu terbuka. Hampir saja Ia terjatuh namun dengan segera Fazila berpegangan pada pintu yang ada di sisi kirinya.
"Ka-kau, apa yang Kau lakukan di ru-mah ku?" Ucap Fazila dengan nada ketus. Ia gugup, namun entah darimana datangnya amarah yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.
Amarah itu seperti api yang membakar ketenangan, dan hari ini untuk pertama kalinya Fazila merasakan amarah itu. Entah apa yang akan di lakukan Fazila selanjutnya, yang jelas Ia tidak ingin berhadapan dengan sosok menyebalkan yang berdiri di depannya, sosok yang berhasil membuatnya merasakan kesal.
__ADS_1
Kenapa si jahil ini ada di depan rumahku? Apa dia memata-mataiku? Jelas-jelas ini bukan mimpi. Lalu pertanyaannya, kenapa dia bisa ada disini? Fazila bergumam di dalam hatinya sembari melipat kedua lengan di depan dada.
...***...