Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Bertemu Teman Lama (Part2)


__ADS_3

"Apa kabar? Aku pikir aku tidak akan pernah melihat wajahmu lagi. Kau menghilang bagai asap dan sekarang kau muncul tanpa bisa kuduga." Celoteh Matthew sambil mempersilahkan Andalas untuk duduk kembali.


"O iya, dimana wanita itu? Maaf, maksudku istrimu. Bukankah tiga tahun lalu kau bilang kau akan menikah? Jika itu henar, sekarang kalian pasti sudah punya anak. Dimana mereka?" Matthew kembali bertanya, dan hal itu sontak membuat Andalas mengerucutkan bibirnya.


"Iya, kami menikah. Dan kami terpisah!"


"A-apa? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa? Bukankah kau bilang kalian seperti lem yang tidak akan pernah bisa di pisahkan? Cinta kalian semurni embun di pagi hari. Lalu kenapa aku harus mendengar omong-kosong ini? Apa kau serius?" Matthew mencecar Andalas dengan pertanyaan singkatnya. Tentu saja itu akan terjadi, puluhan Purnama telah berlalu dan ia pikir sahabatnya bahagia di tempat berbeda, namun siapa sangka hal itu tidak nyata.


"Hmm!" Andalas menghela nafas kasar, helaan nafasnya menjelaskan kalau ia tidak baik-baik saja.


"Hay, Bro. Apa kau baik-baik saja? Jika kau tidak mau menceritakannya, maka jangan katakan apa pun. Aku tidak mau membebanimu." Ucap Matthew begitu ia menyadari kalau Andalas tampak gusar.


Sebelumnya mereka memang sangat dekat. Kepergian Andalas ke Rusia memiliki banyak alasan di belakangnya. Dan buruknya, Matthew tidak mengetahui apa pun tentang Andalas selama pria tampan itu memutuskan meninggalkan Pulau dewata dan menetap di Negara Asing itu.


"Kisah cintaku tidak seindah dan seromantis drama televisi. Bersama dengan wanita itu, aku merasa seperti melewati jalanan terjal yang di penuhi kerikil-kerikil tajam." Andalas mulai membuka kisah lamanya, ucapannya terdengar menyedihkan. Dan yang menjadi pertanyaan Matthew, kenapa wajah tampannya malah mengukir senyuman?


"Aku bahagia, sangat bahagia bisa hidup bersamanya. Walau bersamanya hanya sesingkat tidur di siang hari, namun dengan jelas kukatakan, aku sangat bahagia. Bahagia bisa menghabiskan waktu berhargaku dengannya."


Netra Andalas terlihat berkaca-kaca, wajah tampannya kembali memamerkan senyuman. Senyuman yang menampakkan betapa besar kepedihan hatinya.


"Wait. Wait. Sebenarnya ada apa? Apa ada hal besar yang tidak ku ketahui selama kalian pergi dan kau berusaha keras untuk menyembunyikannya dariku?"


"Matthew, kata orang cinta itu tidak butuh logika. Hanya butuh bukti nyata. Bukti dari sikap keberanian kita dalam bertindak dan membuat keputusan besar untuk selalu berusaha membuat pasangan kita bahagia.

__ADS_1


Bukankah kau pernah bertemu Shamantha? Dia wanita yang di penuhi dengan energi positif. Setelah kedua orang tuaku menolak hubungan kami, seperti yang kau tahu kami melarikan diri dari Bali dan menikah di Gereja yang ada di Rusia. Aku sangat bahagia dengan hubungan kami, namun itu tidak lama. Aku dan Shamantha di uji oleh Tuhan dengan ujian yang membuatku merasakan sekarat di setiap aku menarik dan menghembuskan nafasku." Andalas terdiam, wajah yang tadinya memamerkan senyuman kini berubah masam. Tidak ada lagi kebahagiaan, yang nampak hanya kesedihan. Kesedihan mendalam.


"Apa maksudmu? Ujian apa? Bukankah kau bilang kau sangat bahagia?" Matthew yang melihat perubahan sikap Andalas mulai merasakan kesedihan.


"Kami menjalani hari-hari kami dengan canda dan tawa, puncak kebahagiaan itu datang saat Shamantha di kabarkan hamil oleh pihak rumah sakit. Sayangnya, saat kandungan Shamantha memasuki bulan kelima, kondisinya benar-benar buruk. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat calon anak ku dan Shamantha pergi menghadap Tuhan." Tetesan hangat mulai menetes dari sudut mata Andalas. Kesedihan tampak jelas terlihat dari wajah tampannya. Entah bagaimana cara menghilangkan duka itu, yang jalas Matthew sendiri merasa bersalah karena sudah membuat Andalas mengenang saat-saat terburuknya.


"Dengarkan aku Matthew, waktu itu ibarat pedang. Jika kau tidak menggunakannya dengan baik maka kau sendiri yang akan di tebas olehnya.


Jika kau mencintai seorang gadis, maka kejar cintanya. Dapatkan hatinya agar tidak ada penyesalan yang akan menghampirimu di masa depan.


Aku menentang kedua orang tuaku agar bisa hidup bahagia bersama Shamantha. Dan sekarang aku tidak memiliki penyesalan apa pun." Ucap Andalas sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.


"Sudah cukup denganku dan juga kesedihanku, sekarang katakan bagaimana hari-harimu?


"Aku tidak tahu harus memulai dari mana, kisah ini terlalu rumit untuk di ceritakan. Dan aku merasa seperti orang bodoh yang merindukan Rembulan." Jawab Matthew sambil menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Apa maksudmu? Apa ada masalah? Jika aku bisa aku pasti akan membantumu. Sejak dulu kita sangat dekat, bahkan kita bisa merasakan duka masing-masing. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu untukku dan Shamantha. Sekarang katakan, apa yang bisa ku bantu?"


Untuk sesaat wajah tampan Matthew mulai mengukir senyuman. Ia sendiri masih bingung harus memulai dari mana kisahnya yang belum lengkap.


"Kau masih ingatkan Tuan Alan rekan bisnis Papa yang tinggal di Ibu kota?"


Tidak ada balasan dari Andalas selain anggukan kepala pelan.

__ADS_1


"Baru-baru ini aku mengunjunginya. Dan kau tahu? Disana aku bertemu dengan Bidadari bermata jeli. Dia sangat cantik sampai aku tidak bisa mengedipkan mata. Aku rasa aku jatuh cinta padanya, jatuh cinta pada pandangan pertama." Sambung Matthew sambil membayangkan wajah gadis yang berhasil mencuri setiap malamnya.


"Jika kau jatuh cinta padanya seharusnya kau mengejarnya seperti aku mengejar cinta Shamantha. Aku mendukungmu, sekarang katakan siapa nama gadis beruntung itu?"


Kali ini giliran Matthew yang menggelengkan kepala pelan, menandakan kalau dia tidak bisa memberikan jawaban seperti yang di inginkan Andalas.


"Haha. Ini benar-benar gila! Ja-jadi maksudmu kau mencintai gadis yang bahkan tidak kau tahu namanya?"


"Walau itu terdengar konyol. Tapi itulah kebenarannya." Jawab Matthew dengan nada suara pelan.


"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku yang masih tertunda, setelah itu aku akan kembali ke Ibu Kota untuk mencari keberadaannya." Sambung Matthew lagi, kali ini ia sudah memutuskan akan mengikuti saran Andalas untuk mengejar gadis impiannya.


Di tengah-tengah keasikannya mengobrol dengan teman lamanya, ponsel Matthew berdering, dari Abraham, Asistennya.


"Ada apa? Baiklah, aku akan segera datang." Ucap matthew menanggapi Abraham yang memintanya agar segera kembali kekantor.


"Kau bisa mengunjungiku kapan pun yang kau inginkan. Untuk sekarang aku harus kembali kekantor, Asisten bawelku bilang aku harus menandatangi surat penting yang akan di kirim untuk Tuan Alan."


Matthew dan Andalas sama-sama bangun dari posisi duduknya. Mereka berpisah setelah saling rangkul dalam perasaan lega.


Tanpa Matthew sadari, sepasang mata menatapnya dengan tatapan tajam. Orang itu bahkan sempat-sempatnya memotret matthew.


...***...

__ADS_1


__ADS_2