Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Berpegangan tangan.


__ADS_3

Fazila menempelkan bibirnya di bibir lembut Refal hanya untuk sekian detik saja, namun hal itu sudah cukup membuat tubuhnya menegang. Bagaikan tersengat listrik bertegangan tinggi, Refal pun hanya bisa berdiri mematung. Ia tidak tahu harus memberikan respon seperti apa untuk sikap tiba-tiba Fazila.


Perlahan Fazila melepas kecupan singkatnya dari bibir lembut milik Refal. Untuk sesaat mereka kembali saling menatap.


"Kenapa menatap ku seperti itu? Apa aku melakukan kesalahan?" Fazila bertanya sambil mundur dua langkah dari tempat berdirinya Refal.


"Ti-tidak." Balas Refal gugup.


"Apa Pak Gubernur marah karena perlakuanku tadi? Tidak perlu menyembunyikan amarah hanya untuk membuatku bahagia. Aku janji tidak akan terluka apa lagi sampai menangis di pojok rumah seperti gadis manja, itu bukan gayaku." Celoteh Fazila setelah melihat reaksi terkejut Refal.


Dasar bodoh... Kenapa kamu menciumnya? Apa yang ingin kau buktikan? Setelah ini dia pasti akan menghukum mu! Batin Fazila sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ciuman!


Itulah yang Fazila lakukan, tanpa seizin Refal, dia berani menempelkan bibir tipisnya di bibir lembut Refal. Niat hatinya memang ingin menghibur, sayangnya tidak ada jalan lain yang bisa dia pikirkan. Entah kemana kecerdasannya sampai ia berani menggoda Refal seperti itu? Siapa pun pasti tahu, jika itu menyangkut hati terkadang logika pun tidak terpakai.


"A-aku akan tidur! Se-selamat malam." Ucap Fazila gugup, ia melangkahkan kakinya menuju ranjang dengan terburu-buru.


Sementara Refal?


Ia masih berdiri mematung setelah mendapatkan perlakuan manis dari Fazila. Pelan, ia menyentuh bibir. Bibirnya masih terasa hangat bekas kecupan Fazila. Kejadianya memang sangat cepat dan singkat, tapi hal itu berhasil membuat darah refal mengalir sepuluh kali lebih cepat.


Dag.Dig.Dug.


Dada Refal berdetak sangat cepat, seolah jantungnya akan loncat keluar. Tanpa ia sadari sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia tersenyum? Iya, Refal Mahendra Shekar benar-benar tersenyum penuh kemenangan. Mendapat perlakuan manis dari Fazila membuat rasa gugupnya terbit begitu saja.


Sambil mengusap wajahnya, Refal berjalan menuju ranjang yang dihiasi oleh ribuan mawar merah. Disana Fazila sudah berbaring sambil menghadap kearah lemari besar yang ada di kamarnya. Menyadari Refal berjalan mendekat kearah ranjang Fazila mulai menarik selimut dan menyembunyikan wajah cantiknya. Ia malu. Sangat malu sampai tidak berani menatap Refal lagi.


Fazila bodoh. Apa kau tidak waras? Kenapa kau mencium Pak Gubernur? Tamatlah riwayatmu. Alasan apa yang akan kau buat besok pagi? Gunakanlah otak cerdasmu! Pikirkan sesuatu yang akan menyelamatkanmu. Batin Fazila sambil menggigit bibir nakalnya.


Mmm!


Refal kembali berdeham berusaha mencairkan suasana. Ia ingin bicara, tapi sayangnya tidak tahu harus memulai dari mana. Ia tahu Fazila pasti merasa bersalah karena tanpa seizinnya gadis cantik itu telah berani mendaratkan kecupan singkatnya.

__ADS_1


"Apa Nona Fazila keberatan jika kita bicara sebentar?" Refal mengajukan pertanyaan singkat setelah ia berbaring di ranjang yang sama dengan Fazila.


"Jika Nona Fazila tidak setuju, kita bisa melakukannya besok saja."


Perlahan Fazila menarik selimut yang menutupi kepalanya, ia berbalik dan menghadapkan wajahnya kearah Refal yang ada di sebelah kanannya.


Glekkk!


Refal hanya bisa menelan saliva sembari menatap sosok seindah Purnama yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan heran.


"Jangan katakan apa pun tentang kejadian tadi. Aku tidak akan bisa menatap wajah tampan Pak Gubernur lagi. Jika Pak Gubernur tetap ngeyel dan membahasnya, maka jangan salahkan aku jika besok pagi aku akan menghindari mu karena malu." Celetuk Fazila sembari memberanikan diri menatap Refal yang saat ini sedang tersenyum tipis karena menatap wajah gugupnya.


"Iya, baiklah. Aku tidak akan mengatakan apa pun. Tapi sebagai gantinya jangan memanggil ku Pak Gubernur lagi. Panggil namaku, Refal."


"Itu sedikit berat. Aku tidak bisa selancang itu!" Fazila menolak dengan suara lemah lembutnya. Sungguh, ia tidak berbohong. Rasanya sangat aneh jika hanya memanggil Refal hanya dengan namanya saja. Karena ini masih terlalu awal untuknya.


"Baiklah. Tidak perlu melakukannya jika Nona Fazila tidak merasa nyaman. Apa aku boleh berterus terang?" Refal kembali bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari wanita tercantik di Dunia, Meyda Noviana Fazila.


"Aku gugup." Ucap Refal penuh penekanan.


"Sangat gugup sampai aku tidak bisa menelan saliva. Katakan padaku, sihir apa yang Nona Fazila taruh di mata indah itu. Aku merasa seperti terhipnotis." Sambung Refal lagi. Kali ini sambil menunjuk netra teduh Fazila.


"Haha! Jangan meledekku, aku ini gadis berwibawa dan aku muslimah yang taat. Hipnotis, sihir atau apalah namanya tidak ada dalam kamus ku. Jika kau terpesona maka itu bukanlah kesalahan ku.


Hai Tuan, jika kau tidak ingin tergoda maka jaga pandanganmu." Timpal Fazila tanpa melepas senyuman dari bibir tipisnya. Sekarang ia sudah bisa menguasai hatinya, rasa gugup yang tadi menghantuinya kini menghilang entah kemana.


"Tetap tersenyum seperti itu, aku lebih suka melihat Nona Fazila tersenyum."


"Baiklah. Aku akan selalu tersenyum. Tapi sebagai gantinya, panggil namaku, Fazila. Tanpa Nona."


Refal dan Fazila saling menatap dalam diam, lisan mereka seolah terkunci.


"Fazila. Fazila. Fazila." Ucap Refal dengan suara seraknya, sementara tangannya perlahan meraih jemari lentik Fazila. Menggenggamnya dengan erat sambil mendekatkan diri kearah Fazila.

__ADS_1


"Malam ini kita akan tidur dengan tangan yang saling menggenggam. Apa Nona Fazila keberatan?"


"Iya, aku keberatan." Balas Fazila dengan suara ketus. Refal yang mendengarnya terlihat menyesal. Ia berusaha melepas genggaman tangannya dari jemari lentik Fazila. Namun dengan cepat Fazila kembali menggenggam jemari Refal, sangat erat.


"Aku tidak keberatan kita tidur dengan tangan yang saling menggenggam. Tapi, aku keberatan jika Pak Gubernur memanggilku Nona, panggil saja namaku. Baik di depanku atau di depan keluarga kita."


Entah apa yang Refal pikirkan, setelah mendapatkan izin dari Fazila untuk tidur saling menggenggam tangan. Kini, ia malah menarik Fazila kedalam pelukannya. Menenggelamkan kepala Fazila di dada bidangnya.


"Kita akan tidur seperti ini? Apa kau merasa keberatan?"


Lagi-lagi tidak ada balasan dari Fazila selain gelengan kepala. Seolah menggelengkan kepala menjadi ciri khasnya. Baik Refal atau Fazila, mereka masih merasakan gugup. Sebuah ciuman singkat, dan tidur dalam pelukan sosok baru dalam hidup mereka menjadi pemandangan indah dimalam pertama ini, malam dimana mereka mulai saling terbuka dan saling memahami.


...***...


Waktu menunjukan pukul 6.00 ketika Fatih berdiri di depan kamar Fazila. Wajahnya terlihat masih mengantuk namun Ummi Fatimah malah memaksanya untuk bangun dan memanggil Kakak perempuan dan Kakak Iparnya.


Tok.Tok.Tok.


"Kakak, Ummi memanggil kalian untuk sarapan." Ucap Fatih sambil mengetuk daun pintu kamar Fazila.


Troeetttt!


Begitu pintu terbuka, wajah segar Refal dan Fazila langsung menghias pandangan Fatih pagi ini.


"Iya, kami akan turun." Ucap Fazila sambil mencubit hidung bangir Fatih.


"Seorang pria harus semangat dalam menjalani paginya." Sambung Fazila karena ia melihat Fatih masih saja menguap.


"Jika kau terlihat seperti pakaian lecek yang tidak pernah tersentuh oleh setrikaan, maka jangan salahkan Takdir jika nanti di masa depan kau akan mendapati dirimu duduk di pojokan tanpa bisa melakukan apa-apa untuk hidup panjangmu. Kesuksesan tidak menunggu seorang pemalas untuk berubah." Celoteh Fazila lagi sambil menarik lengan adiknya, saat ini Fazila di apit oleh dua pria rupawan. Refal ada dikanannya, dan Fatih berada di sebelah kirinya. Mereka berjalan beriringan dan meninggalkan lantai dua dengan segala kisah manisnya.


Sementara Refal? Dia lebih memilih menggenggam jemari lentik Fazila, berharap gadis yang ada dalam genggamannya kali ini tidak akan pernah pergi seperti wanita masa lalunya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2