
"Kemana kita akan pergi? Bukankah ini terlalu larut untuk bepergian ke tempat yang jauh?" Fazila bertanya dengan nada suara pelan, Ia terlalu penasaran sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Refal yang di tanya hanya bisa cengar-cengir.
"Apa aku tidak akan mendapatkan jawaban?" Fazila kembali bertanya, lagi-lagi tidak ada jawaban yang bisa Refal berikan.
"Hem! Tidak ada jawaban." Balas Refal sambil mengusap puncak kepala Fazila.
"Baiklah. Aku tidak akan bicara lagi, kemana pun Pak Gub membawaku, Aku akan ikut tanpa ada keluhan." Ujar Fazila sambil menautkan jemarinya di jemari milik Refal.
"I love you." Ucap Fazila lagi, kali ini Ia berinisiatif untuk mencium punggung tangan Refal yang kemudian di balas hanya dengan senyuman menawan dari seorang Refal Mahendra Shekar.
Sementara itu di tempat berbeda, duduk seorang pria sambil menikmati makan malamnya, atau tepatnya makan di tengah malam. Ia terlihat tenang saat menelan makanannya, namun sebenarnya ada kemarahan besar yang saat ini memenuhi rongga dadanya. Disisi kirinya berdiri delapan pria bertubuh tegap dengan tugas masing-masing.
Kedelapan pria itu hanya bisa berdiri sambil merunduk, mereka tidak berani mengangkat kepala karena mereka terlalu takut menatap wajah Tuannya. Kedelapan pria itu terlihat seperti anjing peliharaan yang terlalu patuh, padahal orang yang mereka takuti hanya pria yang baru menginjak usia tiga puluhan. Bukankah itu terlihat menggelikan? Bagaimana bisa pria paruh baya ketakutan pada pria yang seumuran dengan anaknya? Jawabannya mungkin saja sederhana, Uang.
Uang?
__ADS_1
Iya, Uang. Satu kata itu bisa mengubah orang baik menjadi Iblis.
"Bagaimana dengan permintaanku? Apa kalian sudah mengerjakannya? Jangan coba-coba melakukan kesalahan walau kesalahan itu sekecil apa pun, jika kalian berani melakukan itu, Aku bersumpah atas nama mendiang ayahku, besok pagi kalian tidak akan bisa melihat matahari terbit." Acam pria muda yang saat ini duduk di meja makan sambil menikmati hidangan spesialnya.
"Kami melakukan semua hal yang Tuan perintahkan dengan sangat hati-hati, di mulai dari memata-matai istri Gubernur itu, kemudian beralih mengirim obat-obatan pada orang kepercayaan kita yang ada di pusat kota.
Tuan tidak perlu khawatir, karena semuanya baik-baik saja. Hanya saja..."
Prangggg!
Pria muda yang di panggil Tuan itu membanting piring makanannya kearah dinding dekat delapan orang kepercayaannya berdiri. Tatapannya setajam belati, bukan hanya melempar piring. Dia juga menyemburkan semua makanan yang ada di mulutnya kearah lantai.
Kecewa, kesal, dendam, murka, dan raut wajah ingin membunuh terpancar dengan jelas di wajah tampan itu.
"Sky, sejak kapan Kau ikut denganku?"
__ADS_1
"Se-sejak lima tahun yang lalu Tuan." Jawab pria jangkung yang di panggil Sky itu. Kepalanya tertunduk.
"Tatap Aku dan katakan dengan jelas. Aku benci orang yang lemah."
"Sejak lima tahun yang lalu Tuan."
"Bagus Kau tidak melupakan itu. Apa Kau ingat apa yang paling membuat Ku murka?"
"Misi yang gagal!" Jawab Sky cepat.
"Dari raut wajahmu, Aku bisa membaca dengan jelas kalau misi kali ini gagal. Aku hanya memintamu dan anak buah mu mengawasi satu wanita, kenapa bisa gagal? Dasar payah!" Gerutu Pria yang di panggil Tuan itu. Ia berjalan menuju tangga yang akan membawanya menuju lantai dua, membawa amarahnya sambil mengepalkan tangan. Meninju anak buahnya seperti yang sudah-sudah bukan lagi menjadi pilihannya.
Namanya Abbas Lesmana, usianya baru menginjak kepala tiga. Jangan tanyakan tentang hobi dan kesukaannya, karena baginya misi yang di amanatkan Papa angkatnya jauh di atas segalanya, misi untuk mengakhiri hidup putri Alan Wijaya. Entah berapa banyak rencana yang sudah Ia susun, namun sayangnya semua rencana itu selalu saja gagal.
Terkadang manusia sangat sombong dan angkuh, Ia menyusun rencana untuk menyakiti orang lain dengan sempurna namun dia melupakan hal yang paling penting, bahwa Allah pun menyaksikan segalanya. Sungguh, Allah sebaik-baik pembalas rencana. Maka berserahlah hanya kepadanya.
__ADS_1
...***...