
"Apa Bos yakin akan membiarkan Nona Fazila kembali kerumahnya? Bagaimana dengan Bos nantinya?" Sky memberanikan diri untuk bertanya, padahal Ia tahu Ia tidak berhak untuk melakukannya.
Hhmm!
Tidak ada ucapan yang keluar dari lisan Abbas selain helaan nafas kasarnya. Wajah tampannya menjelaskan kalau Ia masih tidak rela melepas Fazila. Dua hari bersama Fazila membuat hidup seorang Abbas penuh warna.
Bahagia!
Itulah yang selalu Ia rasakan.
"Apa kau tidak waras? Kenapa kau bertanya seperti itu? Jika Fazila mendengarmu, dia akan berpikir aku hanya pria murahan yang tidak bisa lepas dari cinta monyetnya." Celetuk Abbas sambil melempar wajah tegang Sky dengn bantal kecil yang ada di sofa dekat Abbas.
"Kau lihat kepalanya?" Abbas bertanya, namun tatapan matanya seolah mencecar asisten bodohnya.
"Kepalanya masih di balut perban, saat dia bertemu dengan kedua orang tuanya, mereka pasti akan menangis lantaran putri berharganya terluka. Apa kau pikir mereka tidak akan sedih jika aku tetap menahan putri mereka di rumahku? Kau sudah lama hidup denganku, hal seperti ini saja tidak bisa kau pahami. Apa aku harus menggantimu dengan yang baru?"
Fazila tersenyum mengingat percakapan dua pria rupawan yang saat ini duduk di depannya. Setengah jam yang lalu, tanpa sengaja Fazila mendengar pembicaraan antara Abbas dan Sky. Bukannya Fazila tidak menghiraukan kesedihan Abbas. Bagaimanapun, Ia tidak berhak memperdulikan pria itu, Fazila punya batasan dalam pergaulan. Dan yang menjadi prioritas utama Fazila hanya satu orang, yakni Refal, hanya Refal dan bukan pria lain.
Sementara itu di tempat berbeda, atau tepatnya di Mansion Wijaya. Semua orang berkumpul untuk menyambut kedatangan Fazila. Dua hari tak bertemu dengan putri berharganya membuat Ummi Fatimah tak bisa menahan kerinduannya. Bukannya Ummi Fatimah bersikap Lebay, hanya saja, setiap Ibu akan merasakan kesedihan mendalam saat mengetahui anak-anaknya mengalami masalah.
__ADS_1
"Kenapa Ummi menangis? Bukankah Fazila kita akan segera sampai?"
"Tahan air mata Ummi untuk nanti, maksud Abi, saat Fazila kita kembali Ummi boleh menumpahkan kerinduan Ummi padanya." Ujar Tuan Alan sembari menghapus air mata Ummi Fatimah.
Fatih, Umang, Regan, dan Marthew berdiri di sisi kiri Tuan Alan. Sementara Refal? Ia berdiri di samping Mama dan Papanya. Semua orang tidak sabar menunggu kedatangan Fazila, maka disinilah mereka berada, menunggu di depan gerbang dengan perasaan was-was.
Refal yang tadinya menyiapkan anak buahnya untuk mencari Fazila, dengan senang hati mengurungkan niatnya karena tanpa di duga wanitanya memberi kabar kepulangannya.
Bahagia!
Hanya satu kata itu yang saat ini memenuhi rongga dada seorang Refal Mahendra Shekar, dua hari tidak bertemu dengan fazilanya terasa bagai dua tahun lamanya. Jika Refal ditanya kenapa Ia bersikap berlebihan? Maka jawabannya, Ia tidak pernah bersikap berlebihan, karena sejatinya dalam cinta sangat wajar bila kerinduan itu membuat jiwa terasa kosong tanpa kehadiran sosok indah yang menjadi sumber bahagianya, Fazila.
"Nak Refal... Tolong hubungi Fazila lagi. Entah kenapa perasaan Ummi tidak tenang, seolah hal buruk sedang mengintainya. Ummi sangat takut, dan ketakutan ini terasa sangat menyiksa." Ucap Ummi Fatimah sambil bersandar di tubuh Tuan Alan, Ia merasakan sekujur tubuhnya melemah.
"Ummi tidak perlu khawatir. Semua orang ada untuk Fazila. Refal sendiri tidak akan membirkan siapapun menyakiti Fazila." Ujar Refal menegaskan. Ia bersungguh-sungguh saat mengatakannya, karena itu memang kebenarannya.
Dari jarak yang tidak terlau jauh, Refal bisa melihat sebuah mobil berwana biru semakin mendekat kearah gerbang utama Mansion Wijaya. Dan bisa di pastikan disanalah Fazila berada.
"Ummi, Kak Zii sudah tiba." Fatih terlihat antusias, dia yang sejak tadi diam tiba-tiba tidak bisa mengendalikan perasaan bahagianya. Jangan tanyakan tentang Matthew, karena hanya dia yang tahu momen menanti kedatangan Fazila lebih berharga dari nyawanya. Entah sejak kapan Matthew berpikir Fazila lebih berharga dari apa pun yang ada di semesta.Tanpa ada yang tahu, Matthew menyembunyikan senyum bahagianya. Begitulah caranya menyembunyikan cinta sepihaknya.
__ADS_1
Pintu mobil terbuka, Fazila keluar sendirian sambil meneteskan air mata bahagia, wajah cantiknya masih terlihat pucat. Perban di kepalanya membuat hati Refal seperti di iris belati, Ia tidak pernah membayangkan wanitanya akan mengalami peristiwa seburuk ini. Namun bagaimana lagi, jika sudah di takdirkan, sekuat apapun kita menghindar, takdir itu tetap akan menemukan jalannya.
Keluarga Wijaya dan Shekar berkumpur di depan gerbang utama hanya untuk menyambut kedatangan Fazila. Namun sayangnya, tak ada satupun yang menyadari ada dua kendaraan roda dua sedang menatap mereka dengan tatapan membunuh.
"Alan Wijaya... Kau harus Matiii." Ucap pengendara roda dua itu sambil berteriak kasar.
Dorrrrr!
Semua orang terlihat panik, tak terkecuali Abbas dan Sky. Tadinya kedua pria itu memutuskan tidak ingin keluar dari mobil, namun peristiwa buruk yang terjadi didepan matanya membuatnya hilang kendali.
"Ahhhhh!" Nyonya Asa berteriak. Nafasnya terasa berat.
Bukan hanya Nyonya Asa yang terkejut, dada Ummi Fatimah pun terasa sesak, Ia ingin berteriak dan menangis. Sayangnya, Ia tidak bisa melakukan itu karena dirinya terlalu shock. Dan akhirnya, firasat buruk yang sejak tadi mengganggu hati dan pikirannya terjadi juga.
Ya Allah... Aku tidak sanggup. Ummi Fatimah bergumam di dalam hatinya, Ia melangkahkan kakinya kearah Fazila, namun belum sempat Ia meraih tubuh putri berharganya, Ia malah tumbang sambil membawa kesedihan mendalamnya.
Peristiwa buruk ini merupakan kejutan besar untuk kedua keluarga, dan tak ada yang bisa menahan kesedihannya. Teriakan dan isakan pun mulai memenuhi gerbang utama. Begitulah musibah, Ia datang tanpa pemberitahuan, namun satu yang pasti, seberat apa pun tekanan, bantingan, dan gesekan dalam hidupmu, jangan lupakan semuanya datang dari Tuhan dan akan kembali pula pada Tuhan. Karena sejatinya, di butuhkan rasa Syukur dan Sabar untuk menjalani kehidupan ini.
...***...
__ADS_1