
Waktu menunjukkan pukul 23.09 ketika Matthew tiba di Apartemen. Perlahan Ia berjalan menuju sofa kemudian menghempaskan tubuh lelahnya disana. Di bandingkan dengan rasa sakit karena mendapat penolakan dari gadis impiannya, Ia justru merasakan sakit teramat dalam karena kepercayaan dirinya telah hancur berkeping-keping. Bagaimana tidak, pagi tadi Mamanya menelpon dan mendesaknya untuk segera meresmikan hubungannya dengan Kadek.
Dengan lantang Matthew menolak permintaan Mamanya, Ia bilang akan mengenalkan wanita yang di cintainya pekan depan. Dan lihatlah apa yang terjadi sekarang? Matthew merasa hancur. Semua ini terlalu menyakitkan bagi hatinya. Yang Ia tahu cinta itu mendatangkan bahagia, namun saat ini dunianya seolah hancur hanya karena cinta dan Ia tidak tahu harus berpijak dimana.
"Tuhan... Apa Kau sedang menghukumku karena selama ini Aku tidak mengakui keberadaanmu? Atau Kau terlalu murka padaku sampai Kau tega memisahkan Aku dengan wanita impianku?"
Matthew menarik nafas dalam namun air mata tak bisa berhenti keluar dari netra teduhnya.
"Kenapa Kau membiarkanku hidup jika Kau tahu luka sebesar ini akan melumpuhkan jiwa dan ragaku? Sebelumnya Aku tidak pernah merasakan duka sebesar ini." Ujar Matthew lagi, Ia berusaha bangun dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajah tampannya yang terlihat menyedihkan.
"Tuhan... Aku hancur. Sangat hancur sampai Aku tidak berani menatap wajahku di cermin." Lagi-lagi Matthew bicara pada dirinya sendiri, berharap luka di hatinya akan sembuh seiring dengan kekonyolan yang di ucapkannya.
"Rindu yang Ku punya, cinta yang Ku jaga, wanita yang Ku puja-puja ternyata semuanya tidak berguna. Aku sangat bodoh sampai tidak bisa melihat ada cinta lain di mata wanitaku."
Ahhhhh!
__ADS_1
Matthew berteriak kasar. Tangan kanannya bergerak cepat kemudian memukul cermin yang ada di depannya.
Jika orang lain melihat tingkah kekanak-kanakan seorang Matthew Adyamarta, maka mereka pasti akan berpikir Matthew sangat bodoh, padahal sebenarnya cintalah yang membuat dirinya merasakan luka sebesar itu.
"Tuhan... Kenapa Kau tidak menakdirkan diriku dengannya?"
"Jika dia tidak tercipta untuk Ku, lalu kenapa Kau menumbuhkan cinta tidak berguna ini di hatiku? Kenapa?" Matthew kembali berteriak, Ia bahkan tidak menghiraukan tangannya yang mulai mengeluarkan darah. Bukannya mencabut pecahan kaca yang menancap di tangannya, Matthew malah menggenggam tangannya, karena sejatinya bukan tangannya yang sakit melainkan hatinya.
"Dia menamparku!"
"Dia mengabaikanku!"
"Dia mengacuhkanku!"
"Baginya Aku hanya badai yang akan menghancurkan kehidupan tenangnya. Haruskah Aku mengutuk diriku sendiri karena Aku mudah sekali jatuh cinta pada pesona indahnya?" Untuk kesekian kalinya Matthew berucap dengan nada putusasa.
__ADS_1
Ia keluar dari kamar mandi dan kembali berjalan pelan. Tidak ada lagi yang ingin Matthew katakan dalam kemarahannya, karena sejatinya tenaga yang Ia punya tidak akan sanggup menanggung beratnya beban penolakan yang di dapatnya malam ini.
"Aku hancur. Aku telah hancur!" Matthew bergumam sambil berjalan perlahan menuju kamarnya yang terletak di samping ruang tengah, Apartemen yang tadinya bersih kini terlihat seperti kapal pecah, tanpa menghiraukan apa pun Matthew mulai melempar barang yang bisa di jangkau tangannya, bahkan di beberapa bagian, tetesan darah Matthew mulai mengenai lantai.
Gdebukkk!
Matthew kembali menghempaskan tubuh lelah dan letihnya di tempat tidur berukuran besar. Ia menangis namun tak mengeluarkan suara, ada luka namun tak nampak, ada gelisah namun tak tahu harus berbuat apa.
Sakit!
Sangat sakit, itulah yang di rasakan Matthew sekarang.
Waktu terus berlalu, cinta kian berdebu, dan di nadinya mengalir denyut kecewa, tumbuh bersama hampa.
Denganmu, jatuh cinta adalah kematian yang tinggal menunggu waktu. Namun satu hal yang perlu Kau tahu, Aku masih bisa, dan Aku masih kuat untuk merindukanmu walau sudah jelas rinduku tak pernah ada balasan darimu. Batin Matthew sambil memaksakan diri untuk memejamkan mata, Ia berharap malam ini cepat berlalu dan tak meninggalkan luka yang menganga, Ia berharap esok akan tiba dengan cerita baru yang membawa rangkaian bahagia. Akankah itu mungkin? Entahlah, Matthew sendiri tidak tahu jawabannya.
__ADS_1
...***...