
Waktu baru saja menunjukan pukul 08.09. Dua jam lagi, baik Refal atau pun Fazila akan sama-sama di sibukkan dengan segudang pekerjaan yang sedang menanti mereka. Selagi masih ada waktu yang tersisa, sebisanya mereka berdua menikmati waktu luang itu untuk berbagi rasa.
"Tunggu Aku, jika Kau tertangkap Aku akan menggigit Mu." Celoteh Refal sambil berlari menuruni anak tangga dengan perasaan bahagia.
"Tidak akan!" Fazila berucap dengan suara lirih, nafasnya terdengar ngos-ngosan namun Ia tetap memilih berlari menghindari Refal yang saat ini berusaha untuk menangkapnya.
"Haha." Fazila terkekeh. Ia menghentikan langkah kakinya tepat di dekat sofa. Ia mengusap dadanya sambil menatap Refal yang berjalan semakin mendekatinya.
"Diam di sana dan jangan lari lagi!"
"Apa itu perintah?" Fazila bertanya sambil melempar bantal kecil kearah Refal. Bibir tipisnya tak bisa berhenti menyunggingkan senyuman.
"Iya, ini perintah dari seorang Gubernur untuk rakyatnya. Dan ini juga perintah dari seorang suami yang sangat mencintai istrinya!"
Fazila membeku.
Ia tersanjung!
Mendengar pengakuan singkat Refal membuat dadanya berdebar sangat kencang.
Suami yang sangat mencintai istrinya? Ya Tuhan, Aku merasa di berkati. Mendapat suami yang sangat mencintaiku benar-benar karunia luar biasa. Batin Fazila sambil menggigit bibir bawahnya, berusaha mengendalikan perasaannya agar tidak berlari ke arah Refal dan memeluk pria itu untuk menumpahkan semua rasa yang ada di hatinya.
__ADS_1
"Iya, baiklah. Aku tidak akan bergerak." Ujar Fazila, Ia berdiri mematung tanpa melepas tatapannya dari tubuh kekar Refal yang berjalan semakin mendekatinya.
"Hati-hati." Fazila kembali membuka suara di antara senyapnya udara. Rupanya Ia telat, Refal yang di peringatkan malah terpelanting, jatuh karena kakinya tersandung karpet.
Gdebukkk!
Aahhhh!
Fazila meringis. Punggungnya membentur sandaran sofa kemudian jatuh kelantai dengan tubuh Refal berada di atasnya.
"Ma-maaf. Aku tidak sengaja."
"Aku benar-benar tidak sengaja."
"Tolong katakan sesuatu!"
"Aku sangat takut!"
Refal menatap Fazila yang ada di bawah kungkungannya. Iya, itu benar. Refal tersandung kemudian terjatuh menimpa tubuh kecil Fazila. Dan buruknya, tubuh kekar itu tak bergerak sedikit pun.
"Iya, tubuh Ku terasa sedikit sakit. Tapi..." Ucapan Fazila tertahan di tenggorokannya, di saat seperti ini otak kecilnya masih saja merancang rencana untuk menggoda seorang Refal Mahendra Shekar. Sungguh, saat Fazila melihat wajah serius Refal, itu benar-benar terlihat sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Ta-tapi apa? Katakan!" Refal mendesak Fazila dengan pertanyaan singkatnya. Berharap Fazila tidak berlama-lama saat menjawab pertanyaannya, karena setiap detik yang berlalu terasa sangat menakutkan. Wajah yang tadinya memamerkan senyuman kini berubah seratus delapan puluh derajat, perpaduan antara rasa takut dan penasaran.
"Tubuh Ku memang terasa sedikit sakit, tapi... Senyumanmu, dan menatap wajah tampan ini membuat rasa sakit itu seolah menguap ke angkasa. Ini memang terdengar seperti omong-kosong, tapi itu lah kebenarannya.
Setiap detik yang berganti menjadi menit, kemudian menit berganti menjadi jam, rasa cintaku pada seorang Refal Mahendra Shekar semakin bertambah dan semakin bertambah.
Aku hanya ingin mengatakan. Aku akan selalu setia, apa pun yang terjadi Kau harus percaya padaku, percaya kalau Kau satu-satunya dan tidak akan pernah tergantikan.
Jika suatu hari nanti Aku terjebak dalam situasi yang memaksamu meragukan karakterku sebagai seorang wanita, maka tetaplah percaya padaku kalau Aku tidak akan pernah melakukan keburukan seperti persangkaan orang.
Di hatiku hanya ada satu nama, dan pemilik nama itu saat ini ada dalam pelukanku, tidak ada ruang lain di hatiku karena jantungku berdetak hanya untuk Refal Mahendra Shekar. Aku mencintaimu suamiku, hari ini dan sampai Aku menutup mata." Ucap Fazila panjang kali lebar, Ia berbisik di telinga Refal yang saat ini masih menindih tubuhnya.
Bagai angin segar yang menyejukkan, pengakuan cinta Fazila lagi-lagi membuat dada Refal berdebar sangat kencang, seolah jantungnya akan lompat keluar. Tanpa berpikir panjang Ia langsung mendaratkan kecupan singkatnya di kelopak mata kanan dan kiri Fazila.
"Bismillahirrahmanirrahim. Aku menandai kedua mata ini dengan bibir Ku sebagai stempelnya, Aku berdoa pada yang Kuasa agar mata ini hanya menatapku seumur hidup Ku." Ujar Refal Dengan senyuman yang masih mengembang di bibir indahnya.
"Aku juga menandai seluruh wajah ini dengan kecupan-kecupan Ku untuk memberi tahukan pada Dunia kalau Kau, Meyda Noviana Fazila hanya milik seorang Refal Mahendra Shekar." Sambung Refal lagi masih dalam keadaan berbisik. Ia menempelkan hidung bangirnya di hidung Fazila. Nafas lembutnya menyapu wajah cantik Fazila.
Kata orang cinta tidak perlu di ungkapkan dengan kata-kata, biarlah tindakan yang menjelaskan segalanya. Namun tidak bagi Refal dan Fazila, Dan inilah pengakuan cinta mereka untuk kesekian kalinya, tidak ada salahnya mengungkapkan semua rasa yang ada di hati dengan niat untuk membahagian hati seseorang yang kita cintai dengan sepenuh hati.
...***...
__ADS_1