Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Bertemu Teman Lama (Matthew)


__ADS_3

Uluran tangan Refal di sambut hangat oleh uluran tangan dan senyuman menawan dari Fazila, tak sepatah kata pun keluar dari lisan mereka, namun tatapan mata keduanya menjelaskan segalanya. Cinta, rasa hormat, persahabatan dan kasih sayang, semua itu tercermin dalam sikap malu-malu keduanya. Baik Refal atau Fazila terlihat hanyut dalam perasaan masing-masing.


Baru saja Fazila mengulurkan tangannya, dengan sigap Refal langsung menarik Fazila hingga membentur dada bidangnya. Tidak ada jarak diantara mereka. Refal dan Fazila, mereka bisa saling mendengar detakan jantung masing-masing. Di kamar yang sama, dan hanya berdua.


"Le-lepaskan aku! Bagaimana jika Melan datang?" Ucap Fazila dengan suara pelan, namun dadanya berdebar sangat cepat, seolah jantungnya akan loncat keluar.


"Biarkan saja dia datang, aku tidak perduli. Tidak ada yang akan marah karena saat ini aku sedang bersama istriku." Balas Refal tanpa melepas tatapannya dari wajah bersemu memerah milik Fazila.


"Mama akan mencariku!"


"Mama tahu kau bersamaku dan dia tidak akan mencarimu." Ujar Refal mencari alasan.


"Semua tamu akan mengeluh karena aku tidak datang!" Ucap Fazila lagi, kali ini dengan suara lirih.


"Biarkan saja mereka mengeluh, lihat saja nanti, jika mereka berani menginjakkan kaki di kantor Gubernur, aku akan meminta staf ku menyuruh mereka menunggu selama seharian sebagai hukuman karena berani mengganggu Gubernur dan istrinya."


Haha!


Terdengar tawa renyah dari Fazila, ucapan Refal seolah menggelitikinya. Bagaimana dia bisa berpikir akan menghukum semua orang.


"Tetap seperti ini, sebentar saja." Refal berucap sembari menempelkan keningnya di kening mulus milik Fazila. Kembang kepis dadanya mengukir satu nama. Nama wanita tercantik di dunia, Meyda Noviana Fazila.


Puncak hidung Refal menyentuh hidung bangir milik Fazila, kening mereka masih menyatu, tarikan nafas mereka seirama dalam nada penuh cinta.


"Dengar. Aku harus turun kebawah." Ucap Fazila sambil menutup matanya, ia tidak ingin Refal melihatnya gugup. Kata orang, mata bagaikan cermin, setiap perasaan akan terpancar darinya, dan Fazila tidak ingin Refal membaca hati dan pikirannya.


"Tatap mataku, kau akan menemukan betapa besar kekagumanku padamu. Kekaguman ini mendatangkan cinta, cinta yang tidak bisa ku ungkapkan walau dengan sekedar kata-kata." Kali ini Refal menangkup wajah cantik Fazila dengan jemari lembutnya, nafas hangatnya membelai wajah cantik Fazila dan hal itu semakin membuat Fazila merasa gugup.

__ADS_1


Refal menatap bibir tipis Fazila tanpa mengedipkan mata, dia ingin menyentuh bibir lembut itu, baru saja Refal memiringkan kepala untuk menempelkan bibirnya pada bibir Fazila, tiba-tiba...


"Kakak... Kenapa kakak lama sekal... Ups, sorry." Cerocos Melan sambil berbalik dan menutup mata dengan telapak tangannya.


Karena terkejut, refleks kepala Refal membentur kepala Fazila cukup keras.


"Aauuu!" Fazila meringis sambil mengusap kepalanya.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk kekamar orang?"


"Mam-maaf Kakak. Ini sudah menjadi kebiasaanku. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan mengatakan pada siapapun kalau Kakak gagal mencium Kakak Ipar." Lagi-lagi Melan menggoda Kakak lelakinya. Refal yang di goda hanya bisa mendengus kesal.


Sementara Fazila? Jangan tanya lagi keadaannya, dia bahkan tersenyum penuh kemenangan, kedatangan Melan setidaknya telah menyelamatkannya dari rasa gugup berlebihan. Gugup yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan.


"Kakak, aku tahu kau ingin berduaan dengan Kakak Ipar sepanjang hari. Hanya saja, Mama tidak tahu itu. Dia terus saja mendesakku agar segera membawa Kakak Ipar turun.


"Melan, kau adikku atau musuhku? Tak bisakan kau mengatakan kalau Kakak Iparmu sedang sakit perut?" Protes Refal sambil menatap tajam kearah adik perempuannya. Sedetik kemudian, tidak ada bantahan dari Refal selain anggukan kepala pelan.


Melihat Melan membawa Fazila pergi, Refal hanya bisa tersenyum simpul. Ia tidak punya pilihan lain selain melangkahkan kakinya mengikuti kedua wanita yang sangat dia sayangi itu.


...***...


Bali.


Langit sore mengantarkan kedatangan senja yang menenggelamkan Matahari, keindahannya membuat diri terlena, memandangi keindahan langit di kuta seperti sedang berada di taman impian penuh cinta. Karena Pulau Dewata selalu membawa kisah indah dengan melodi-melodi cinta tiada akhir.


Selalu saja ada cerita indah yang tertulis di atas lembaran hari-harinya. Entah kemarin, hari ini, atau lusa jika masih ada waktu yang tersisa.

__ADS_1


Di rooftop Hotel bintang lima, Matthew duduk di temani Cocktail dan sebatang rokok yang ia hisap sejak semenit yang lalu. Tatapannya lurus kedepan, sesekali ia menatap lagit. Jiwanya merindukan seseorang, namun ia tidak tahu cara meluapkan kerinduan yang terus saja membuat jiwanya merasakan kepayahan. Rasanya ia ingin terbang dan mencari keberadaan Bidadari bermata jeli yang berhasil mencuri ketenangannya, namun tumpukan pekerjaan yang menggunung sepertinya tidak ada habis-habisnya.


"Bli Matthew, ada orang yang mencari anda. Katanya dia teman Bli, sekarang dia sedang menunggu di Restorant." Seorang pria muda datang sambil meletakkan beberapa makanan ringan yang Matthew minta untuk menemani kesendiriannya.


"Teman? Teman yang mana? Apa kau tidak bertanya padanya? Banyak orang yang mengaku sebagai temanku. Dan buruknya, aku bahkan tidak mengenal mereka." Ucap Matthew menegaskan, tangan kanannya meraih gelas Cocktail kemudian meneguk habis setengah gelas yang masih tersisa.


"Saya tidak pernah melihatnya, tapi orang itu bilang jika saya menyebut Rusia Bli Matthew akan tahu siapa orangnya." Ucap Pria muda yang masih berdiri di depan Matthew, namanya Abraham, asisten yang Matthew pekerjakan sejak dua bulan yang lalu, atau tepatnya Asisten pilihan Mamanya hanya untuk memata-matainya.


"Rusia? Apa kau yakin?"


"Iya, Bli Matthew. Saya yakin saya mendengar kata Rusia dari orang itu." Jawab Abraham dengan kepala tertunduk.


"Apa dia masih di Restorant?" Matthew bertanya dengan wajah yang di penuhi senyuman.


"Iya, Bli. Masih."


Tidak ada lagi pertanyaan dari Matthew, ia mematikan rokoknya kemudian beranjak menuju Restorant yang ada di lantai dasar.


Lima menit kemudian, Matthew berdiri di Restorant yang di maksud Asistennya. Netranya menatap kesegala arah, wajah tampannya kembali mengukir senyuman saat ia menatap sosok yang sudah lama tidak ia temui.


"Andalas..." Matthew memanggil sahabat lamanya sambil berjalan mendekati meja yang terletak di dekat dinding.


"Hey... Matthew, kau sudah sampai? Wah... Ini benar-benar kejutan besar." Ucap Andalas sambil berdiri dari posisi duduknya, mereka saling memeluk melepas kerinduan.


"Seharusnya aku yang mengatakan kalau kau yang memberi kejutan besar. Kenapa kau tidak menghubungiku lebih awal? Jika aku tahu, aku bisa menjemputmu di Bandara." Matthew menepuk lengan Andalas sambil tersenyum simpul.


Ada semacam ketertarikan satu sama lain di setiap persahabatan, tidak ada persahabatan tanpa ketertarikan. Itu adalah kebenaran yang pahit. Gumam Matthew sambil menatap wajah tampan sahabatnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2