Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Syahadat Cinta!


__ADS_3

Suara tangisan itu terdengar menggelegar di indra pendengaran semua orang. Iya, saat ini Matthew menangis sejadi-jadinya seolah air matanya keluar dari keran. Ia tidak bisa menahan gemuruh di hatinya, tidak ada lagi kebahagiaan ataupun senyuman yang menghiasi wajah tampannya, dan hal itu membuat Tuan Alan merasakan kesedihan mendalam.


"A-abi, buat aku menjadi bagian dari kalian. A-aku ingin seperti kalian." Ucap Matthew dengan suara lirih. Ia menangkupkan kedua tangan di depan dada walau kepalanya masih berada di pangkuan Tuan Alan.


"Refal, Nak. Tolong hubungi Tuan dan Nyonya Dewa. Minta agar mereka segera berangkat dari Bali menuju Jakarta dengan segera." Tuan Alan memerintahkan Refal sambil memegang pundak kekar Refal.


"Melihat kondisi Nak Matthew, Abi khawatir orang tuanya akan menyalahkan kita." Sambung Tuan Alan lagi.


"Sudah, Bi. Refal sudah meminta Bima menghubungi Tuan Dewa. Insya Allah jika tidak ada gangguan mereka akan tiba malam ini." Refal kembali membuka suara, mengabarkan pada Ayah mertuanya kalau ia seorang Gubernur yang sigap, selalu bertindak bahkan sebelum di minta.


"A-abi bantu aku menjadi bagian dari kalian. Aku mohon. Hiks.Hiks." Suara tangis Matthew kembali terdengar, setiap kali ia tersadar ia akan mulai bicara sambil menangis.


"Tuan Alan, sepertinya cahaya Hidayah mulai membelai lubuk hati terdalam ananda Matthew. Saya sangat bahagia melihat semua ini, Allah lah yang memilihnya." Syekh Basar, sang Imam besar Masjit terlihat berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya ia menyaksikan keajaiban sebesar ini. Bahkan jama'ah yang tadinya murka karena Matthew mengganggu ketenangan beribadah pun terlihat mulai melunak. Tidak ada lagi amarah, yang ada hanya tatapan kesedihan.


"Syekh, lakukan apa pun yang Syekh anggap benar. Saya yakin Nak Matthew sudah memikirkan segalanya jauh sebelum dia datang kemari." Tuan Alan memberikan pendapatnya setelah menimbang ucapan Matthew yang ingin seperti dirinya.


"Nak Matthew, buka matamu, Nak. Bapak ingin bertanya."


"Mmm!" Matthew membuka matanya, terdapat kesedihan besar di dalamnya. Bukan hanya membuka mata, Matthew berusaha bangun dan duduk dengan sisa tenaga yang ia punya, ia berusaha menepis segala ketakutan yang ada di hatinya.


"Sekarang katakan dengan jelas, apa yang di inginkan oleh hati Nak Matthew. Nak Matthew tidak perlu takut akan kemarahan semua orang di dalam rumah Allah ini, karena kami menjamin keselamatan Nak Matthew." Tuan Alan bertanya sembari menggenggam jemari Matthew.


Sementara Refal yang duduk di samping sang Imam, ia hanya ingin menjadi pendengar yang baik.


"A-aku ingin menjadi seperti kalian, aku ingin menggunakan peci, aku juga ingin berlari ke Masjit seperti Pak Gubernur Refal dan berdiri di belakang Syekh untuk melaksanakan Shalat. Apa aku bisa melakukan itu?" Ucapan Matthew terdengar bagai hujan yang menyejukkan.

__ADS_1


Allahu Akbar.


Allahu Akbar.


Masjit yang ada di pusat kota itu kembali di penuhi oleh Takbir dan Tahmid. Menggetarkan jiwa seluruh jama'ah yang hadir di dalam dan di luarnya. Mereka tidak pernah menduga akan mendapatkan pelajaran berharga.


"Subhanallah... Ini berita besar Tuan Alan. Ananda Matthew bilang dia ingin memeluk Islam." Syekh Basar selaku Imam besar Masjit terlihat mengharu biru, untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menangis di hadapan banyak orang.


"Nak Matthew yakin dengan keputusan Nak Matthew untuk memeluk Islam?"


"Bapak bertanya karena Bapak tidak mau Nak Matthew menyesal."


"Tidak ada paksaan dalam memeluk Islam. Jadi Nak Matthew jangan pernah berpikir untuk melakukan semua ini hanya karena cinta pada seorang wanita." Sambung Tuan Alan lagi, dan sebagai seorang pria, ia bisa membaca pikiran Matthew kalau pria muda di hadapannya ini adalah seorang pujangga pemuja cinta.


"Alhamdulillah, Nak. Bapak sangat bahagia, bahkan Surga pun merindukanmu. Sekarang Bapak yakin Allah benar-benar memilihmu." Tuan Alan kembali meneteskan air mata.


Begitupun Refal yang duduk di samping Sang imam besar, Gubernur muda itu tidak bisa menahan lelehan demi lelehan air bening yang keluar dari matanya. Kejadian siang ini begitu menguras emosinya.


Ya Allah... Fazila-ku! Peristiwa ini terjadi atas kehendakmu namun melalui bisikan cinta yang kau tuliskan di dalam hati Matthew. Aku semakin mempercayaimu ya Allah. Dan aku pun semakin mencintai Fazilaku.


Maka benar yang di katakan Ibu mertua, Fazila-ku benar-benar Titipan Dari Surga. Karena dirinya seorang pria yang tidak mengenalmu akan mengikrarkan dirinya menjadi seorang Muslim. Aku mohon, jika ada kebaikanku dan kebaikan Fazila, dan di sebabkan kebaikan itu sadarkanlah Fazila-ku, sadarkanlah. Refal kembali meminta di dalam hatinya tanpa bisa menahan lelehan air matanya.


"Agar bisa menjadi seorang muslim, Nak Matthew harus mengucapkan Syahadat. Apa Nak Matthew bisa mengikuti ucapan Syekh Basar?" Tuan Alan bertanya sambil membersihkan wajah Matthew dengan tissu basah, Tuan Alan bahkan tidak merasa jijik saat dirinya harus membersihkan lendir yang keluar dari hidung seorang Matthew Adyamarta.


Matthew hanya bisa mengangguk untuk menunjukkan keseriusannya.

__ADS_1


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu." Sang Imam mulai membaca kalimat Syahadat untuk menuntun Matthew. Sungguh, air mata pria paruh baya itu menetes deras. Sekujur tubuhnya merinding.


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu." Ucap Matthew dengan sekuat tenaga, nafasnya naik turun. Ada perasaan lega di dalam hatinya, namun ia tidak tahu apa itu.


"Wa asyhaduanna Muhammadar Rasuulullah." Sambung Sang Imam lagi untuk kedua kalinya.


"Wa asyhaduanna Muhammadar Rasuulullah. Sambung matthew lagi. Ia menggenggam tangan Refal dengan keras. Ia bahkan tidak sadar dengan apa yang di lakukannya, lalu bagaimana mungkin Refal bisa mengeluh kesakitan saat sosok di depannya terlihat mengkhawatirkan.


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu. Wa asyhaduanna Muhammadar Rasuulullah." Ucap Matthew sekali lagi tanpa di tuntun oleh siapa pun. Ia terdengar lancar, wajahnya yang sejak tadi memamerkan ketakutan kini berubah di penuhi oleh senyuman.


Allahu Akbar.


Allahu Akbar.


Takbir kembali bergema, menyambut kebahagiaan besar ini.


"Selamat Nak. Sekarang kau adalah seorang Muslim." Ujar Imam besar Masjit. Ia memeluk Matthew, kemudian mencium keningnya sembari mendoakan Matthew agar menjadi Muslim yang taat dan istikomah sebesar apa pun godaan yang akan datang melumpuhkan keyakinannya.


"Selamat datang saudaraku. Sekarang kita saudara dalam Iman dan Islam." Ujar Refal, ia memeluk Matthew untuk menggambarkan betapa besar rasa syukurnya.


Bukan hanya Tuan Alan, Refal dan sang Imam besar yang merasakan bahagia. Semua jama'ah yang hadir di Masjit siang ini tampak bahagia sekaligus meneteskan air mata.


Bukankah ini pemandangan yang luar biasa? Maka jangan bertanya kenapa semua jama'ah yang hadir untuk Shalat Jumat kali ini ikut menagis menyaksikan seorang Matthew Adyamarta membaca Syahadat Cinta, karena peristiwa ini memang menghadirkan haru mendalam yang bisa menyebabkan air mata menetes tanpa di duga.


...***...

__ADS_1


__ADS_2