Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Berdua Dengan-Mu (Refal&Fazila)


__ADS_3

Ini adalah peringatan bagi siapa saja untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.


Waktu terus mengalir, umur terus berkurang. Melewatinya secara sia-sia tak akan dapat terlunasi selamanya. Hari Senin barangkali akan datang lagi pada minggu-minggu berikutnya, namun Senin hari ini dan yang sudah lewat tak akan pernah terulang kembali. Itulah mengapa waktu diibaratkan seperti pedang, bila tak pandai menggunakannya ia akan melukai pemiliknya. 


Berdiri tegak di jalan kebenaran, itulah yang selalu Fazila lakukan. Ia selalu berusaha dengan keras untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya. Apa bila nanti, saat ia kembali pada Rabb-nya, tidak ada lagi yang akan ia sesali karena ia tahu ia telah melakukan hal terbaik semampu yang ia bisa. Sama seperti saat ini, ia mengunjungi kantor Refal untuk melepas rindu pada pria yang sudah menjadi pasangan halalnya, Refal Mahendra Shekar.


"Nyonya, anda sudah sampai?"


"Pak Bima? Iya, saya baru saja tiba." Balas Fazila singkat sambil meletakkan kotak makan siang di atas meja. Ia tersenyum sambil menyodorkan kotak makan siang berbeda untuk Bima, asisten suaminya.


"Pak Gubernur meminta saya untuk menyampaikan pesan pada Nyonya, rapat yang beliau pimpin akan berakhir dalam lima menit."


"Iya, tidak apa-apa. Aku akan menunggunya." Ujar Fazila lagi tanpa melepas tatapannya dari Bima. Bima merunduk, memberi hormat, kemudian berjalan kearah meja kerja Refal untuk mengambil dokumen penting berkaitan dengan surat perizinan.

__ADS_1


"Nyonya tidak apa-apa di tinggal sendirian? Jika Nyonya mau, saya akan memanggil seseorang untuk menemani Nyonya."


"Tidak perlu. Sampaikan saja salam ku pada Pak Gubernur, aku akan menunggu sampai beliau selesai dengan pekerjaannya." Fazila berucap dengan nada suara pelan, ia duduk di sofa untuk menunjukkan kalau ucapannya untuk menunggu Refal bukan sekedar omong-kosong belaka.


Setelah Bima pergi, Fazila mulai melakukan semua hal untuk menghilangkan kebosanan, Ia bahkan berkali-kali mengganti buku bacaannya, buku yang ia ambil di rak buku milik Refal.


Di luar dugaan, lima belas menit berlalu sejak Fazila menunggu. Sayangnya, Refal tak kunjung datang, karena kelelahan Fazila mulai tertidur di sofa.


"Sayang aku...." Refal berucap begitu ia masuk kedalam kantornya, ucapannya tertahan di tenggorokannya setelah menyadari Fazilanya sedang terlelap di sofa.


"Maafkan aku!"


"Aku yakin kau merasakan bosan, kau tertidur sangat pulas. Karena rindu, aku memaksamu untuk datang, aku ingin melihatmu disini. Jangan marah padaku, dan jangan abaikan aku walau itu di alam mimpimu sayang." Ujar Refal dengan suara pelan, ia membelai lembut wajah cantik istrinya. Ia bahkan rela untuk duduk di lantai demi mensejajarkan diri dengan kepala Fazila.

__ADS_1


"Kau sangat cantik, kau laksana rembulan yang selalu bersinar terang. Setiap menatapmu, aku merasa tersihir.


Semakin hari aku semakin mencintaimu, Terima kasih selalu ada di sisiku, memilikimu adalah keajaiban terbesar dalam hidupku. Aku berjanji akan selalu menjagamu hingga aku menutup mata, kini bahagiamu akan menjadi yang paling utama dalam hidupku." Tanpa di duga, Refal mulai meneteskan air mata, sungguh besar syukur yang memenuhi rongga dadanya.


"Mmm! Refalku ada disini? Kapan kau datang? Kenapa tidak membangunkanku?" Fazila berucap dengan nada suara khas bangun tidur, ia mengucek matanya namun Refal menyingkirkan tangan itu dari wajah cantik istrinya. Tidak ada balasan dari Refal selain senyuman menawannya, ia bahkan mencium kening Fazila, mengekspresikan perasaan bahagianya, bahagia karena wanita tercantik di dunia adalah miliknya.


"Maafkan aku, aku menyesal, aku pikir aku akan melihatmu masuk dari pintu kemudian aku akan berlari kedalam pelukanmu. Dan, lihatlah diriku, aku mulai terlelap setelah Bima pergi." Ucap Fazila menyesal. Ia menyebikkan bibirnya sambil menatap Refal dengan tatapan kasih sayang.


Melihat bibir tipis Fazila, jiwa kelelakian Refal seolah tertantang, dan tanpa berpikir panjang ia langsung mendaratkan kecupannya disana, perlahan namun menuntut.


Berdua dengamu menjadi moment terindah dalam hidupku. Setiap saat, aku selalu mengungkapkan cintaku padamu. Kau tidak tahu, cintaku jauh lebih besar dari apa yang kau bayangkan. Tetap seperti ini, selamanya. Batin Refal di tengan-tengah ciuman panasnya dengan sosok indah Bidadari Surga penyejuk jiwa, Meyda Noviana Fazila.


...***...

__ADS_1


__ADS_2