Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Siuman! (Fazila)


__ADS_3

Rumah megah berlantai tiga itu terlihat hidup lantaran semua pegawai yang ada di dalamnya tampak sibuk, tak terkecuali di kamar tamu.


Di kamar tamu rumah megah itu, di tempatkan seorang dokter dan dua perawat untuk menjaga pasien wanita yang sejak semalam belum terlihat tanda-tanda akan siuman. Apakah dia sudah tiada? Jawabannya tentu saja tidak, itu terlihat dari layar monitor yang di tempatkan di kamar itu, organ vitalnya juga normal. Menurut dokter yang berjaga, pasien wanita itu mengalami trauma berat, hal itu membuat kesehatannya terus menurun.


Menjauh dariku. Jangan dekati aku. Jika kau berani mendekatiku, kau akan menyesalinya. Ucap Fazila sambil melindungi dirinya dengan sekuat tenaga.


Suamiku adalah seorang Gubernur, dia akan membunuhmu jika dia tahu perbuatanmu padaku. Menjauh dariku. Kali ini Fazila melempar pria itu dengan vas bunga yang ada di dekatnya. Air matanya tak bisa berhenti menetes. Untuk pertama kali dalam hidunya Fazila berada dalam posisi seburuk ini. Sungguh, Fazila merasa, tiada jauh lebih baik dari pada kehormatannya di lecehkan oleh pria yang tidak halal baginya. Saat harapannya setipis kulit bawang, dan keyakinannya hampir saja memudar, seolah Tuhan berbisik di telinganya dan memberikan kabar bahagia kalau dirinya tidak perlu berputusasa karena Rahmat Tuhan sangatlah dekat.


"Nona... Kau sudah sadar? Apa kau bisa mendengarku?" Dokter yang berdiri disisi kiri ranjang bertanya pada Fazila yang baru saja membuka mata.


"Jika kau tidak bisa bicara, kau cukup mengedipkan mata. Apa kau ingat kau berasal darimana? Apa sekarang kau merasa lebih baik?" Dokter itu kembali bertanya sambil menggerakkan jarinya. Tidak ada balasan dari Fazila selain mengedipkan mata, memberikan isyarat kalau dia baik-baik saja dan dia ingin kembali pada keluarganya.

__ADS_1


"Suster, tolong kabarkan pada Tuan kalau Nona sudah siuman." Perintah dokter muda itu sambil menyodorkan kertas kecil yang berisi resep obat yang harus di tebus karena Ia kekurangan obat-obatan.


"Baik, Dok."


Sepersekian detik kemudian, hanya ada Fazila dan dokter itu, tidak ada percakapan yang berarti di antara mereka berdua hingga Abbas dan Sky tiba.


"Dokter, bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apa ada luka lain selain di lengan dan kepalanya? Apa itu berbahaya? Apa kita perlu membawanya kerumah sakit? Atau, aku perlu membawa dokter sepesialis organ dalam? Cepat katakan!" Abbas menghujani dokter muda itu dengan berbagai pertanyaan konyolnya. Nampak jelas kekhawatiran di wajah tampannya. Ia bahkan lupa sedang berhadapan dengan putri musuhnya.


"Tuan, tenang. Anda tidak perlu menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu harus menjawab darimana. Satu yang pasti, sekarang, Nona baik-baik saja. Bahkan, jika dia mau, dia bisa bermain sepak bola." Ucap Dokter muda itu memecah keheningan.


Fazila yang masih lemah di tempat tidur terlihat memamerkan senyuman. Ia bisa merasa tenang karena Ia tahu tidak terjadi apa-apa dengan tubuhnya saat pria kurang ajar itu mencoba melecehkannya.

__ADS_1


Semuanya berkat pertolongan Allah. Inilah alasannya orang beriman tidak boleh putusasa, Rahmat Allah sangatlah dekat. Aku juga harus berterima kasih pada pria yang ada di depanku ini, karena dirinya aku bisa selamat dari musibah terbesar yang hampir saja melumpuhkan jiwaku. Gumam Fazila sembari berusaha bangun.


"Nona tidak perlu bangun, Nona terlihat lemah, aku akan keluar agar nona bisa istirahat dengan tenang." Ujar Abbas sambil menahan diri agar tidak berhambur kedalam pelukan sosok sempurna yang sangat di rindukannya dalam kurun waktu yang cukup lama.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih."


"O iya, namaku Meyda Noviana Fazila. Anda bisa memanggilku, Fazila."


"Berkat Allah dan pertolongan anda, aku selamat dari petaka. Sungguh, aku tidak akan melupakan kebaikan ini bahkan sampai aku menutup mata." Ujar Fazila tulus.


Seandainya Fazila tahu pria yang hampir saja melecehkannya adalah anak buah Abbas, masih bisakan Ia mengucapkan kata terima kasih? Abbas Yakin bukan senyuman yang akan Ia lihat, melainkan kebencian, sebelum Abbas lepas kendali dan mengungkapkan segalanya dari tindakannya, Ia lebih memilih pergi walau Fazila menahannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2