Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Di Dapur


__ADS_3

Setelah mengurai masa lalunya dengan gamblang di depan Refal, kini tidak ada lagi rahasia yang Fazila sembunyikan. Satu jam dan tiga puluh menit, atau tepatnya hanya satu setengah jam saja Refal dan Fazila tidur malam ini, namun sekarang mereka terlihat segar.


Setelah melaksanakan Shalat Subuh berjamaah yang di imami oleh Refal, Fazila memilih tetap duduk di atas sajadahnya untuk muraja'ah atau tepatnya mengulangi kembali hafalannya agar ia tidak lupa.


Sementara Refal? Ia lebih memilih duduk di sofa di temani Laptopnya, membaca puluhan E-mail yang di kirim asistennya. Mengambil cuti satu hari tidak memberinya hak untuk mengabaikan pekerjaannya, karena itu Refal dengan cepat menyelesaikan pekerjaan yang sangat-sangat mendesak.


"Alhamdulillah. Akhirnya aku menyelesaikan semuanya, semoga Bima bisa menyelesaikan tugas yang ku berikan untuknya." Gumam Refal setelah mengirim E-mail balasan untuk Asistennya itu.


Setelah semuanya selesai Refal lebih memilih duduk diam di sofa sembari mendengar lantunan merdu Kalam Ilahi yang saat ini sedang Fazila baca. Entah kenapa sekujur tubuh Refal tiba-tiba merinding mendengar lantunan ayat-ayat cinta yang keluar dari lisan istrinya. Ada perasaan tenang yang membelai lembut lubuk hati terdalamnya, perasaan tenang yang jarang sekali ia rasakan.


Menjadi seorang pegawai pemerintah yang selalu bertindak jujur tidak selalu mudah untuk Refal, terkadang ia juga mendapat tekanan dari beberapa pihak penguasa. Namun hal itu tidak lantas membuatnya salah arah, baginya yang benar harus ia junjung dan yang salah harus ia perbaiki, sejatinya itulah motivasinya dalam bekerja sehingga ia bisa merasa tenang dan tidak mengkhawatirkan apa pun. Selama kota yang ia pimpin dan rakyatnya tidak memiliki keluhan maka itu sudah cukup membuatnya merasakan bahagia.


Fazila beranjak dari sajadah yang ia duduki sejak empat puluh menit yang lalu. Ia menatap kearah sofa dan mendapati Refal sedang tertidur disana.


"Kau tertidur? Bisa-bisanya kau tertidur?" Ucap Fazila pelan, ia mengelus puncak kepala Refal sambil tersenyum tipis.


"Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua, selama aku sibuk di dapur aku mengizinkanmu untuk tidur." Celoteh Fazila lagi masih dalam keadaan duduk di samping Refal yang saat ini masih terlelap.


Setelah memakai kain penutup kepala kebanggaannya, dan tak butuh waktu lama kini Fazila sudah berdiri di lantai dasar. Dapur terletak di sisi kiri tak jauh dari ruang tengah. Sementara di ujung dekat lorong, derdapat pintu yang mengarah menuju taman belakang. Fazila sudah pernah mencoba duduk di taman belakang, terdapat beberapa jenis bunga di sana, dan yang paling mencuri perhatian Fazila, di taman belakang terdapat sebuah pohon jeruk manis. Bukankah itu sangat menakjubkan? Iya, ini benar-benar luar biasa.


"Waw... Semuanya ada disini? Kapan dia mengisinya?" Ujar Fazila takjub, ia menatap kulkas yang ada di depannya dengan wajah mengukir senyuman.


"Tidak buruk!" Sambung Fazila lagi.

__ADS_1


Sedetik kemudian dia mulai mengambil beberapa jenis sayuran yang masih tersusun rapi, tak lupa juga ia mengambil empat butir telur.


"Nasi goreng? Aku rasa aku harus membuat nasi goreng saja, tidak butuh waktu lama untuk memasaknya. Beras, dimana beras?" Fazila bertanya pada dirinya sendiri, pertanyaan yang tidak akan pernah ia dapatkan jawabannya. Kebetulan ini untuk Pertama kalinya ia menginjakkan kaki di dapur, ia sampai bingung mencari bahan-bahan lain.


"Di bawah. Di lemari dekat kulkas."


Netra Fazila menatap kearah sumber suara. Ia tersenyum melihat sosok rupawan yang saat ini berjalan mendekatinya.


"Kenapa tidak membangunkanku? Aku yakin aku bisa membantumu di dapur!"


"Itu tidak perlu, selama aku bisa mengerjakannya sendiri, aku pasti akan melakukannya. Duduk disana!" Fazila menunjuk kursi yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.


Bukannya mendengarkan ucapan istri cantiknya, Refal malah melangkah semakin mendekati Fazila. Bukan hanya itu, ia bahkan memeluk tubuh ramping Fazila dari belakang.


"Wangi? Aku tidak memakai Parfum."


"Aku tidak pernah tahu kalau istri Shaliha ku ini tidak pernah menggunakan Parfum? Hanya saja, aku sangat menyukai aroma lembut yang menguar dari tubuh rampingnya." Sambung Refal lagi sambil mengeratkan pelukannya di tubuh ramping Fazila.


"Aku hanya memakai sabun." Balas Fazila sambil tersenyum setelah mendengar sanjungan Refal untuknya.


"Hanya sabun? Jadi maksudnya, selama ini Ratuku yang cantik ini tidak pernah menggunakan parfum? Bagaimana bisa?"


"Ya bisalah, aku kan istri Gubernur. Hehe, bercanda!" Guyon Fazila dengan wajah sumringah, ia melepaskan lengan Refal dari pinggangnya kemudian berbalik menghadap suami tampannya, Refal Mahendra Shekar.

__ADS_1


"Dalam Islam, wanita di larang menggunakan wangi-wangian lalu berjalan melewati sekelompok kaum agar mereka dapat mencium bau wanginya, wanita yang bertingkah seperti itu maka wanita itu adalah pezina." Ucap Fazila menjelaskan dengan suara lemah-lembut.


"Pezina? Bagaimana bisa? Itu terdengar sangat serius!" Refal berucap dengan kening berkerut. Ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya karena memang ini untuk pertama kalinya ia mendengar hal seserius itu.


"Maksud dari berzina di sini bukan berarti hukuman dan dosanya sama dengan orang yang melakukan hubungan seksual yang terlarang, tetapi memiliki arti berdosa. Karena dalam Hadist di sebutkan bahwa seluruh anggota tubuh manusia memiliki potensi untuk melakukan dosa." Jawab Fazila tanpa melepas tatapannya dari netra teduh Refal.


Sementara Refal? Ia hanya bisa mangut mendengar ucapan istrinya. Ia merasa seolah mendapatkan partner hidup sekaligus Guru terbaik dalam hidupnya. Tak pernah sekalipun ia mendengar Fazila bicara omong-kosong, setiap kalimat yang keluar dari lisannya mengandung makna. Dan hal itulah yang membuat Refal menyadari, setiap detik berlalu cintanya semakin besar saja untuk dia wanita terhebat di dunia, siapa lagi kalau bukan Meyda Noviana Fazila.


"Baiklah. Biarkan aku memasak sambil menjawab pertanyaanmu, jika kita terus bicara, kita akan keluar rumah dalam keadaan lapar." Timpal Fazila sembari mengambil beras dari tempat yang di beritahukan Refal sebelumnya.


"Bukankah Pak Gubernur bilang akan membantuku? Maka tolong cuci sayuran itu untukku." Pinta Fazila sambil menunjuk kearah sayuran yang sudah ia letakkan di mangkuk berukuran besar.


"Tadinya aku berencana akan membuat nasi goreng, aku mengurungkan niat itu setelah melihat Pak Gubernur. Aku rasa sayuran segar itu lebih baik untuk kita." Sambung Fazila lagi sembari mencuci beras dan menekan tombol Cook.


Fazila kembali melempar senyuman pada Refal yang berdiri si sebelahnya. Ia bahagia, sangat bahagia sampai tidak bisa di ungkapkan dengan sekedar kata-kata. Cukup dia dan Tuhannya saja yang tahu betapa saat ini ia merasakan syukur tanpa batas.


"Apa aku boleh memotong ini?" Refal bertanya sambil menunjuk beberapa jenis sayuran yang baru selesai ia cuci.


"Pak Gubernur yakin bisa melakukan itu? Jika tidak, aku yang akan melakukannya. Dengan suka rela." Jawab Fazila tanpa melepas senyuman tipis dari wajah cantiknya.


"Te-tentu saja. Aku bisa melakukan segalanya karena aku di bekali dengan ketampanan dan kecerdasan." Celoteh Refal gugup, kali ini ia mencubit hidung bangir Fazila, entah kenapa ia sangat suka mencubit hidung bangir istrinya hanya untuk menggodanya.


Kata orang, cinta datang dari mata kemudian turun kehati. Namun bagi Refal dan Fazila ucapan itu sama sekali tidak berarti. Karena cinta mereka murni tumbuh dari hati.

__ADS_1


...***...


__ADS_2