Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Malam Penuh Cinta


__ADS_3

"Sayang... Kau masih terjaga?"


Refal tersentak mendengar pertanyaan singkat Fazila. Sejujurnya, Refal merasakan sedih karena lantunan Ayat Suci yang di baca Fazila tadi. Entah kenapa kesedihan yang teramat besar menelusup masuk memenuhi rongga dadanya dan seluruh pori-pori tubuhnya.


"A-aku belum ngantuk!"


"Belum mengantuk? Benarkah?" Fazila bertanya sambil menguncir rambut panjangnya. Ia berjalan mendekati Refal yang saat ini duduk manis di sofa.


"Biarkan! Biarkan rambut itu tetap seperti itu, jangan di ikat. Aku sangat menyukainya." Ujar Refal sambil berdiri dari posisi duduknya. Ia merentangkan tangannya kearah Fazila. Setelah tangan mereka saling menyambut, Refal duduk terlebih dahulu sembari menepuk pahanya. Mengisyaratkan agar Fazila duduk disana.


"Kau yakin?"


"Tentang apa?" Refal bertanya sambil menatap wajah cantik Fazila. Terlihat dengan jelas bahwa kening mulus itu berkerut karena merasa heran.


"Ooo... Maksudnya tentang duduk di pangkuanku? Kenapa tidak. Aku yang memerintahkannya." Sambung Refal lagi. Ia tersenyum penuh kemenangan, karena Ia yakin Fazila tidak akan menolaknya. Wanita Shaliha yang berdiri di depannya itu akan selalu mengikuti setiap keinginannya selama hal itu tidak bertentangan dengan prinsip dan juga nilai-nilai Agama yang di yakininya.


"Aku rasa Aku sedikit berat. Bagaimana jika nanti paha Pak Gubernur terasa nyeri?"


"Itu tidak akan terjadi." Tanpa menunggu izin dari Fazila, Refal langsung menarik Fazila hingga terduduk di pangkuannya.


"Aku sangat suka mencium aroma yang menguar dari tubuh Fazila Ku. Aku merasa tenang." Ucap Refal sambil berbisik di telinga Fazila. Tanpa menunggu lebih lama lagi Ia mulai melayangkan kecupan singkatnya di leher Istri cantiknya. Mendapat serangan tiba-tiba membuat Fazila merinding. Ia merasa seolah mendapat sengatan listik bertegangan tinggi.

__ADS_1


Fazila tersenyum. Tanpa diminta Ia langsung menghadapkan wajahnya kearah Refal, berlama-lama menatap wajah tampan suaminya selalu saja mendatangkan getaran di hatinya. Bahkan cahaya temaram dikamar mereka malam ini menjelaskan kalau dua anak manusia sedang di buai dalam cinta, cinta tiada batas.


"Apa aku boleh bertanya?" Refal kembali membuka suara di antara senyapnya udara. Bibirnya tidak bisa berhenti untuk tidak tersenyum, entah kenapa walau menatap Fazila dari jarak sekian meter perasaan bahagia selalu saja memenuhi rongga dada seorang Refal Mahendra Shekar. Apa bahagia itu sungguh sesederhana itu? Refal sendiri tidak tahu jawabannya, karena yang Ia tahu hidupnya terasa hambar tanpa kehadiran Fazila di sisinya. Bahagianya terletak pada wanita itu sekarang, wanita yang paling Ia cintai di atas semesta selain Mama dan adik perempuannya.


Karena tidak ada jawaban dari Fazila, Refal langsung mengurai tanyanya.


"Surat apa yang tadi kau baca? Jujur, aku merasa ketakutan setelah mendengarnya. Aku merasa seolah telah gagal menjadi Imam dalam rumah tangga. Aku sangat bodoh karena tidak bisa menangkap makna dari ayat-ayat cinta itu."


Lagi-lagi Fazila hanya bisa tersenyum. Bukannya menjawab pertanyaan Refal, Ia malah menempelkan keningnya di kening mulus Refal. Deru nafasnya menjelaskan kalau saat ini hati Fazila sedang tidak baik-baik saja.


"Kata siapa Refal ku gagal menjadi Imam dalam rumah tangga? Aku justru merasa sebaliknya.


"Aku bahagia!" Refal kembali berucap, mendengarkan penjelasan panjang kali lebar Fazila seolah membawa Refal kedalam alam mimpi yang terasa sangat menenangkan.


"Ayat yang tadi Ku baca menjelaskan agar Kita menjaga diri Kita dan keluarga Kita dari api Neraka yang bahan bakarnya Manusia dan Batu. Neraka itu di jaga oleh Malaikat-malaikat yang kasar. Ayat yang tadi ku baca tertera dalam surat At-tahrim ayat 6." Ucap Fazila menjelaskan.


"Hidup itu bukan sekedar cinta-cintaan saja, karena itulah Aku memilih jalan ini. Maksud Ku memilih jalan sebagai penghafal Al-Qur'an agar Aku semakin mendekatkan diriku dengan Dia yang telah menciptakan Ku, Allah." Ucap Fazila dengan penuh penekanan.


Entah kenapa Refal semakin terbuai oleh pesona indah istrinya. Mendengar penuturan singkat Fazila semakin menambah rasa hormatnya pada dia gadis semurni embun di pagi hari yang saat ini menjelma sebagai istrinya.


Berawal dari kecupan singkat di bibir tipis Fazila, Refal semakin terbuai olehnya. Bibir lembut istrinya seolah telah menjadi candu baru baginya. Ia mencium bibir tipis itu perlahan namun menuntut.

__ADS_1


Muach. Muach.


Kali ini Refal mencium kedua kelopak mata indah Fazila, dengan perasaan bahagia luar biasa.


"Mata ini hanya di ijinkan untuk menatapku saja. Bukan menatap pria lain. Kau milikku dan akan selamanya seperti itu." Ucap Refal sambil berbisik, Ia menghujani seluruh wajah Fazila dengan ciuman-ciuman nakalnya. Tentu saja tanpa perlawanan dari Fazila.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Refal langsung mengangkat tubuh ramping itu dan berjalan menuju tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya dari bibir Fazila. Entah bibir itu akan membengkak karena ulah Refal nantinya, Fazila sama sekali tidak melakukan perlawanan.


Cinta adalah gerak jiwa yang kosong tanpa pikiran. Cinta adalah bunga kehidupan yang mekar secara tak terduga, tak ada hukum yang mengaturnya, dan pasti akan di petik ketika Kau menemukannya, dan Kau akan menemukan dirimu terlena dalam setiap tarikan nafas cinta.


...***...


Happy Reading...🤗


NB:


Cieeee.... Siapa disini yang suka sama Refal dan Fazila? Kalau sahabat suka, jangan lupa dukung mereka yaa... Berupa like, komen, vote, koin or hadiahnya.


Yok kita saling dukung...


Sayang banyak-banyak dech untuk reader semua...❤

__ADS_1


__ADS_2