
"Semua ini salah Ku. Aku terlalu mudah bicara dengan orang asing sampai pria itu berani melakukan hal yang tidak pernah bisa Ku bayangkan." Ucap Fazila sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangan kirinya.
"Hanya karena pria itu mencoba bicara dengan Ku beberapa kali saja, bukan berarti itu memberinya hak untuk memelukku." Lagi-lagi Fazila memuntahkan semua racun yang ada di hatinya hanya dengan mengoceh sendirian saja. Semua ini terasa bagai mimpi buruk, dan pria itu datang bagai angin yang memporak-porandakan perasaan damai Fazila. Semua ini benar-benar tidak mudah, di sisi lain ada banyak wanita yang rela mengorbankan harga dirinya sampai mereka secara sadar melakukan perbuatan zina. Namun itu tidak berlaku bagi Fazila, karena baginya kehormatannya tak bisa di tawar atau di gadaikan oleh gemerlapnya dunia, apa lagi oleh cinta.
"Zulaikha cemburu kepada tanah karena Nabi Yusuf selalu menundukkan pandangan saat di ajak berbicara. Aku khawatir, bagaimana tanggapan Pak Gubernur saat tahu istri berharganya telah di..." Ucapan Fazila tertahan di tenggorokannya, rasanya terlalu sakit untuk meneruskan ucapan yang seharusnya tidak terjadi.
"Aku harus segera bertemu dengan Pak Gubernur dan menjelaskan segalanya, Aku tidak ingin ada kesalah pahaman dalam hubungan kami yang baru saja di mulai." Ucap Fazila lagi, kali ini Ia mempercepat langkah kakinya sampai Ia tidak menyadari sosok yang sedang memperhatikannya sejak Ia turun dari mobil.
"Nyonya..."
Fazila menoleh, keningnya berkerut.
"Saat ini Nyonya tidak bisa bertemu dengan Pak Gubernur."
__ADS_1
"Memangnya Pak Gubernur ada dimana Bima? Ada hal penting yang harus Ku sampaikan. Ini benar-benar darurat, jika Aku tidak mengatakannya sekarang, Aku takut ini akan menjadi masalah besar di kemudian hari." Balas Fazila dengan wajah memelas.
"Maafkan saya Nyonya, Pak Gubernur sudah berpesan agar tidak mengizinkan siapa pun untuk mengganggunya. Saya hanya menjalankan perintah beliau saja." Bima menjeda kalimatnya. Ia tidak berani menatap Fazila, karena itu Ia merunduk sebagai tanda hormat pada istri Tuannya.
"Saya bersungguh-sungguh saat mengatakannya Nyonya. Nyonya Fazila lebih baik pulang, saat ini Pak Gubernur benar-benar tidak bisa di ganggu. Saya khawatir jika Nyonya menemuinya, Nyonya akan mendapati amarah tak terduga dari Pak Gubernur." Sambung Bima lagi, kali ini Ia memberanikan diri untuk menatap wajah cantik istri Tuannya, hal itu Ia lakukan semata-mata untuk meyakinkan bahwa peringatannya bukan sekedar ucapan omong-kosong belaka.
"Terima kasih sudah mengatakan semua itu padaku. Tapi maaf, Aku tidak bisa melakukan seperti apa yang Kau perintahkan. Aku benar-benar harus bertemu dengan Pak Gubernur." Tanpa menghiraukan ucapan Bima lagi, Fazila langsung masuk kedalam Lift yang akan membawanya menuju kantor Refal.
Sementara itu di dalam kantornya, Refal sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia melarang Bima menyalakan lampu, Ia bahkan mengusir Asistennya itu untuk pergi meninggalkannya seorang diri, berteman dengan sepi dan duduk dalam kegelapan sebagaimana kegelapan menyelimuti lubuk hati terdalamnya.
"Kenapa Kau kembali?"
"Apa Kau sudah bosan bekerja denganku?"
__ADS_1
"Aku bilang tinggalkan Aku sendiri!"
Refal mulai berteriak setelah mendengar pintu kantornya di buka dari luar dan mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekati meja kerjanya
Prangggg!
"Apa Kau tidak mendengar Ku?"
Refal melempar gelas yang ada di tangannya hingga membentur dinding. Ia sangat bodoh karena tidak tahu dan tidak ingin mememeriksa dengan siapa Ia bicara. Entah dari mana datangnya amarah sebesar itu hingga mengganggu hati dan pikirannya.
"Aku bilang tinggalkan Aku sennnn..." Refal kembali berucap dengan nada suara tinggi, betapa terkejutnya Ia saat mendapati sosok yang sejak tadi mendengar teriakannya. Lampu di dalam kantornya memang tidak menyala, namun cahaya temaram yang bersumber dari balkon sanggup menerangi sosok indah yang saat ini berdiri menatap wajah terkejut seorang Refal Mahendra Shekar.
Apa ini Tuhan? Dimana Bima? Kenapa amarah Ku bisa salah sasaran? Refal bergumam di dalam hatinya sembari bangun dari kursi kebesarannya, netranya menatap wajah terkejut wanitanya. Dari tatapan itu Ia bisa menyimpulkan kalau dirinya telah melakukan kesalahan besar.
__ADS_1
...***...