Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Mengurai Masa Lalu (Part2)


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 1:47 namun tidak ada tanda-tada kedua anak manusia itu akan beranjak dari balkon. Pembicaraan seriusnya seolah menjadi penghalang rasa kantuknya.


Refal, dia hanya bisa menatap Fazila dengan tatapan kesedihan, sementara Fazila? Untuk sesaat ia terdiam sembari mengatur nafasnya. Hatinya masih merasakan kesedihan mendalam mengenang masa lalu Umminya, karena ia sendiri merasakan saat-saat pahit itu.


"Apa sesakit itu mengingat kenangan itu?" Refal bertanya sambil menangkup wajah sedih Fazila. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berusaha menenangkan istri cantiknya. Malam semakin larut dan dinginnya malam ini terasa menembus tulang mereka, namun tetap saja Fazila dan Refal tidak bisa beranjak dari balkon selama Fazila belum menyelesaikan kisah sedihnya.


"Gadis itu berusaha keras mencari Neneknya, sampai akhirnya ia mengingat satu tempat yang tidak akan pernah bisa di jauhi wanita tua penderita Alzheimer itu. Tepatnya di Gunung Butak, gunung yang biasanya di datangi oleh para pendaki.


Suami Wanita tua itu meninggal saat mendaki, karena itulah saat wanita itu kambuh dari rasa sakitnya, tidak ada hal lain yang ia lakukan selain mencari suaminya ke tempat itu." Tutup Fazila sambil berjalan kearah bangku yang terbuat dari kayu Jati, ia duduk di sana, Refal mengikuti langkah kaki Fazila dan duduk di sampingnya.


"Apa aku mengenal gadis miskin itu?" Refal bertanya sambil menggenggam jemari lentik Fazila. Tidak ada jawaban dari Fazila selain anggukan kepala pelan.


"Ummi! Gadis miskin itu tak lain adalah Ummi sendiri." Balas Fazila tanpa melepas tatapannya dari netra teduh Refal.


Kini Refal terlihat semakin penasaran, ia ingin mengetahui secara lengkap kisah cinta antara dua anak manusia beda kasta yang ia ketahui sebagai Ayah dan Ibu Mertuanya.


"Abi dengan segala duka akibat penghianatan tunangannya menjerit pilu, ia bahkan tidak sadar kaki jenjangnya menembus area hutan.


Sementara Ummi dengan rasa takutnya? Ia juga berjalan menyusuri area hutan, hanya untuk mencari Neneknya. Namun malang tak bisa di hindari, bukannya bertemu neneknya, Ummi malah bertemu dengan pria asing yang saat itu ia sebut sebagai serigala berbentuk manusia." Ujar Fazila dengan suara berat. Dadanya kembali merasakan sesak.


"Pria itu memperlakukan gadis miskin itu dengan sangat buruk. Di-dia me-le-cehkannya." Ucapan Fazila tertahan di tenggorokannya, ia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Air matanya seolah mendesak untuk segera di tumpahkan, namun sekuat tenaga Fazila berusaha menahannya. Sayang, semuanya hanya sia-sia.


Hiks.Hiks.Hiks.


Fazila terisak, ia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih membayangkan delapan tahun penderitaan Umminya. Sementara Refal? Ia beringsut mendekati Fazila, mengusap pundaknya, merangkulnya, berharap itu akan mengurangi kesedihannya.

__ADS_1


"Pria itu melecehkan gadis lemah itu. Di-dia menodainya, dan meninggalkan ga-gadis itu sendirian setelah ia menghancurkan kehormatannya.


Ga-gadis itu ingin mengakhiri hidupnya, tapi dia mengurungkan niatnya karena di rahimnya ada titipan janin yang tidak pernah ia rencanakan." Ucap Fazila pelan, kali ini dengan suara bergetar. Isakannya tak terdengar lagi, namun air matanya terus saja menetes seolah air mata itu keluar dari keran.


"Sudah. Hentikan. Aku sudah tahu segalanya, karena Abi pernah menceritakan itu saat kunjungan beliau kerumah kami, tepat saat kedua orang tua kita memutuskan untuk menjodohkan kita.


Dan buruknya, saat itu aku menolak perjodohan yang mereka rencanakan. Karena saat itu aku yang bodoh, aku tidak tahu kalau yang akan datang adalah seorang Bidadari Surga. Dan setelah aku menyadarinya, aku ingin mempercepat pernikahan kita, karena aku ingin segera menghabiskan setiap waktu ku dengannya." Ujar Refal sembari mengelus kepala Fazila. Rambut panjangnya menguarkan aroma Mawar yang sangat wangi, mencium aroma itu saja sudah cukup membuat Refal merasakan ketenangan, ketenangan luar biasa.


"Jadi kau sudah tahu kalau aku putri...." Ucapan Fazila lagi-lagi hanya bisa tertahan di tenggorokannya, ia sangat berat mengatakan hal itu walau sebenarnya itu bukan kesalahannya.


"Putri di luar nikah maksudmu?" Refal bertanya dengan suara pelan, berharap ucapannya tidak akan pernah menyinggung perasaan istri cantiknya, Meyda Noviana Fazila.


Tidak ada jawaban dari Fazila selain anggukan kepala pelan.


"Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, Abi sudah menceritakan segalanya. Beliau juga bilang, beliau rela kehilangan seratus putra demi mendapatkan satu putri seperti Fazila ku ini." Ujar Refal sembari mencubit pelan hidung bangir Fazila.


"Aku janji aku akan semakin menghormati Abi. Bukan karena kesalahan dimasa lalunya, tapi karena kemauannya untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya.


Aku lihat, Ummi dan Abi sangat bahagia. Mereka benar-benar pasangan jiwa yang tercipta dari Surga.


Tidak heran kenapa Ummi dan Abi selalu mengatakan putri mereka Fazila Titipan Dari Surga, karena cahaya Al-Qur'an yang di bawa putri mereka, dia sanggup menyatukan Ummi dan Abinya.


Terima kasih telah memilihku menjadi bagian dari hidupmu. Aku bahagia, sangat bahagia sampai tidak bisa di ungkapkan dengan sekedar kata-kata." Ucap Refal sembari menghapus sudut mata Fazila dengan jemari hangatnya.


"Ayo, sekarang kita istirahat. Besok adalah hari besar untuk kita berdua karena besok adalah resepsi pernikahan kita. Aku tidak ingin orang-orang berpendapat aku suami jahat yang menyakiti istrinya karena matanya terlihat sembab." Ucap Refal pelan tanpa melepas senyuman menawan dari bibirnya.

__ADS_1


Belum sempat Fazila mengatakan apa pun, Refal malah mengangkat tubuh Fazila, menggendongnya menuju kedalam kamar.


"Biarkan aku berjalan."


"Tidak mau!" Balas Refal singkat.


"Bagaimana jika penyakit pinggangmu kambuh kemudian besok kau tidak bisa duduk bersamaku di pelaminan. Apa aku harus mencari orang lain untuk menggantikanmu?" Guyon Fazila sambil mencubit hidung mancung Refal Mahendra Shekar.


"Itu tidak akan terjadi. Jika ada yang coba-coba mendekatimu, maka aku akan menghukumnya dengan hukuman berat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya." Celoteh Refal sambil meletakkan Fazila di ranjang dengan perlahan.


Saat Refal akan beranjak dari sisi Fazila, Fazila malah menggenggam jemari Refal kemudian tanpa berpikir panjang ia mulai mengalungkan kedua lengannya di leher Refal.


"Apa sekarang?"


"Maksudnya apa?" Fazila menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Maksud Pak Gubernur kenapa aku melakukan ini?" Fazila menggerakkan lengannya di leher Refal yang kemudian di balas dengan anggukan kepala dari Refal.


"Aku hanya ingin mengatakan selamat malam menjelang Subuh." Ucap Fazila lagi, kali ini ia melayangkan kecupan hangatnya di kening Refal, entah kenapa dia sangat menyukai itu.


"Itu hanya kecupan selamat istirahat. Huamm!" Fazila menguap sembari menutup bibirnya dengan telapak tangan kanannya.


Muach!


"Aku berdoa Semoga mata ini tidak pernah meneteskan air mata di sebabkan perlakuan burukku." Ucap Refal sambil berbisik di telinga Fazila setelah ia melayangkan kecupan singkatnya di kelopak mata kanan dan kiri Fazila. Mereka saling membalas senyuman, sedetik kemudian mereka bersiap untuk tidur dalam keadan saling memeluk.

__ADS_1


Biarlah kita jatuh cinta dan biarlah waktu mengujinya. Cintaku padamu seperti hasrat tanpa batas, dari gejolak hati yang tiada tertahankan. Dan Cinta kita adalah lambang keakraban antara dua manusia di mana masing-masing saling menjaga keutuhan bersama. Dan kita adalah contoh sempurna dari cinta itu. Refal berguman di dalam hatinya sembari menatap Wajah cantik Fazila yang saat ini telah terlelap di sampingnya.


...***...


__ADS_2