
Dua jam sebelum peristiwa penembakan.
Di sebuah kamar Hotel yang terletak di pusat kota, duduk empat orang pria di sofa untuk menyusun rencana. Rencana besar. Tekad mereka sudah bulat untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Entah Iblis apa yang sudah merasuki jiwa mereka sampai-sampai amarah dan dendam yang ada di hatinya begitu bergelora layaknya api yang akan menghanguskan semua yang ada.
"Saya rasa Bos harus menyerah. Jika Bos besar tahu keinginan Bos untuk menghabisi putri Alan Wijaya, maka kita semua akan tiada."
"Haha!" Tawa menakutkan itu akhirnya terdengar juga, kilatan matanya seolah mengabarkan ia tidak takut pada apa pun dan siapa pun.
"Abbas itu hanya anak kemarin sore, nasibnya saja yang sedang mujur sehingga dia menjadi pemimpin dalam dunia yang kita geluti. Kau bilang dia menyukai kucing liar itu, kan?" Pria paruh baya yang mencoba melecehkan Fazila namun gagal itu bertanya sambil mendengus kesal.
"Gara-gara Abbas aku tidak bisa berjalan dengan normal. Dengan senjatanya dia melumpuhkanku, dan dengan senjata pula aku akan melumpuhkannya.
Dia bilang akan membunuh Alan Wijaya, akan ku penuhi keinginannya dengan melukai kucing liar itu. Aku yakin jika kita melukai kucing liar itu, otomatis Alan Wijaya pun akan tiada dalam kesedihan panjangnya. Bukankah ini yang di katakan membunuh burung dengan satu batu? Eits, bukan burung tapi kucing manis!" Ucap pria paruh baya itu dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
Puhh!
Ia meniup ujung senjatanya, kemudian tertawa lepas bersama ketiga rekannya.
Dua jam berlalu sejak keempat orang itu membuat rencana untuk menyakiti Fazila, dan disinilah mereka sekarang, duduk di atas kendaraan roda dua yang mereka sewa sembari bersiap dengan senjata mematikan di tangan kanannya.
Dari jarak yang tak terlalu jauh, Fazila keluar dari mobil mewah yang di kendarai Sky. Wajahnya terlihat masih pucat namun itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.
Fazila tersenyum bahagia, akhirnya setelah dua hari ia bisa bertemu dengan keluarga besarnya. Yang membuat senyumnya semakin merekah, ia melihat Refal berjalan mendekatinya dengan lelehan air mata. Rasanya Fazila ingin cepat-cepat memeluk pria yang sangat dirindukannya itu, namun belum sempat mereka menumpahkan rasa rindu itu, dua kendaraan roda dua tiba-tiba datang entah dari mana, hal itu mengalihkan fokus semua orang, termasuk Fazila.
Sedetik kemudian.
Dorr!
__ADS_1
Kejadiannya sangan cepat, bukannya menembak Tuan Alan, pengendara itu malah melepaskan pelurunya untuk Fazila. Semua orang terkejut, semua orang berteriak.
Abbas dan Sky keluar dari dalam mobil setelah menyadari ada yang salah ketika Fazila terjatuh, tanpa berpikir panjang Abbas dan Sky melakukan hal yang sama, yakni menembak dan melumpuhkan pria misterius yang melukai Fazila.
Bagai disambar petir disiang bolong, Abbas dan Sky terkejut luar biasa. Setelah menyadari orang-orang tidak berguna itu adalah anak buahnya, kemarahan Abbas semakin meledak. Ia menendang pria paruh baya itu bersama tiga anak buah lainnya untuk membalaskan rasa sakit Fazila.
"Fa-fazila." Ucap Refal gugup, ia meletakkan kepala Fazila di pangkuannya. Air matanya tidak bisa berhenti menetes.
"Bertahanlah, sayang." Ucap Refal lagi dengan suara hampir tak terdengar. Saat ini semua orang terlihat panik. Tak terkecuali Ummi Fatimah, melihat kondisi buruk putri tersayangnya, seolah dunia berhenti berputar. Ia pingsang di dekat Fazila yang saat bersimbah darah.
Pak Gubernur, aku sangat merindukanmu. Akhirnya Allah mendengar pintaku untuk segera menemuimu. Jangan menangis, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan menempel padamu seperti permen karet. Aku mohon jangan menangis. Fazila bergumam di dalam hatinya sembari menahan sakit yang mendera tubuh lemahnya.
Jangan menangis. Aku suka saat melihatmu tersenyum. Senyummu menghangatkan jiwaku dan tangismu menghancurkan hati dan pikiranku. Aku mohon tersenyumlah, sekali saja! Fazila kembali bergumam di dalam hatinya, sejujurnya ia ingin mengatakan semuanya secara langsung, sayangnya rasa sakitnya mengalahkan keinginan itu. Sebelum Fazila benar-benar menutup mata, bibir tipisnya mengukir senyuman, mengabarkan pada semua anggota keluarga Wijaya dan Shekar kalau semuanya baik-baik saja dan tak perlu sedih berlebihan. Karena sejatinya, Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.
__ADS_1
...***...