Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Sabar!


__ADS_3

"Huh. Aku sudah tahu kalau Kakak akan melakukan hal tak terduga." Fatih menghela nafas kasar sambil menatap tajam kearah kedua saudara kembarnya. Duduk di perpustakaan sambil membaca buku tidak akan menyelesaikan segalanya, tugas kali ini benar-benar di luar dugaan.


"Aku heran, kenapa Tuhan hanya memberikan kecerdasan pada Kakak kita? Dan lihat, apa yang Kakak lakukan pada kita?" Ujar Regan dengan wajah di tekuk.


"Karena kecerdasan Kak Zii kita terlihat seperti tiga Idiot tak berguna. Kadang-kadang Aku bertanya, apa kita anak angkat? Kenapa di antara kita bertiga tidak ada yang menyamai Kak Zii atau menyamai orang tua kita. Bahkan Mama dan Papa sangat pandai dalam segala hal." sambung Regan lagi.


Pletak!


Pletak!


Pletak!


"Ahh! Berani sekali Kau...!" Ucap Umang dan Regan bersamaan, mereka berucap dengan nada tinggi. Mereka sangat terkejut saat punggung mereka di tepuk dari belakang.


Ketiga pria rupawan itu berdiri mematung saat menatap sosok sempurna yang berdiri di depannya. Mereka benar-benar tidak menyangka akan bertemu lagi di luar kelas setelah jam kuliah berakhir.


"Ka-kakak. Kakak masih ada disini? Ini benar-benar kejutan!" Ucap Fatih sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Bukankah Kakak bilang akan pergi ke rumah Tante Asa? Lalu kenapa Kakak masih ada disini?" Kali ini giliran Umang yang angkat bicara, sejujurnya Ia merasa tidak nyaman saat bertanya karena Ia tahu Kakaknya tidak akan menjawab apa pun selain membuatnya berada dalam dilema, dilema karena Ia tidak akan pernah mendengar jawaban yang ingin Ia dengar.


"Iya, Kakak masih ada di sini. Apa ada masalah?" Fazila bertanya sambil melipat kedua lengan di depan dada. Ia tahu dengan pasti kalau adik-adiknya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Dan satu lagi, jangan pernah bicara omong-kosong. Dari mana kalian memungut ucapan buruk itu? Maksud Kakak tentang ucapan kalau kalian hanya anak pungut. Jangan pernah bicara seperti itu lagi jika kalian tidak ingin Tante Sabina dan Om Araf terluka." Oceh Fazila sambil menatap tajam ketiga adik lelakinya.


"Dan Kau, Fatih! Seharusnya Kau tidak membiarkan kedua anak konyol ini mengatakan hal tidak berguna. Kakak benar-benar kecewa dengan kalian bertiga." Gerutu Fazila kemudian beranjak meninggalkan ketiga adik lelakinya.


Sejujurnya, Fazila tidak menyimpan kemarahan terhadap adik lelakinya. Hanya saja, Ia ingin menunjukkan lebih baik diam dari pada mengucapkan hal tidak berguna.


"O iya, satu lagi. Kalian tidak akan menjadi orang yang cerdas hanya karena kalian menginginkannya, di butuhkan kerja keras untuk bisa meraih segalanya. Jangan habiskan waktu kalian untuk bermain, karena kecerdasan tidak akan datang jika kalian hanya menghabiskan waktu kalian di Kafe atau di Klab malam." Sindir Fazila dengan ucapan yang tajam.


Fatih, Umang dan Regan menelan saliva. Mata mereka melotot tak percaya. Ucapan Kakak perempuannya bagaikan bom molotov yang menghancurkan seluruh persendiannya. Bagaimana tidak? Mereka tahu Kakak perempuannya bukan seorang yang akan terlibat dengan urusan orang lain tanpa ada alasan yang kuat. Lalu pertanyaannya, dari mana Fazila tahu kalau Adik lelakinya sering menghabiskan waktu luangnya di Klab malam?


"Ini benar-benar gila? Dari mana Kakak Tahu kalau kita sering ke Klab malam? Apa Kau yang mengatakannya? Atau Kau?" Tunjuk Fatih pada Umang dan Regan.


"Aku bersumpah atas nama Mama, bukan Aku yang mengatakannya." Ujar Regan meyakinkan.

__ADS_1


"Iya, Aku juga tidak pernah melakukan itu. Lalu siapa mata-mata Kakak?"


Fatih, Umang dan Regan hanya bisa menyimpan rasa takut di dalam lubuk hati terdalamnya. Takut kalau-kalau Fazila akan melaporkannya lalu mereka akan mendapatkan hukuman yang tak kan bisa mereka elakkan.


...***...


Di kediaman Shekar.


"Fazila, sayang. Apa kau tahu kenapa Mama memanggilmu?" Nyonya Asa bertanya sambil menuangkan air mineral kedalam gelas milik Fazila. Tanpa mencoba berpikir Fazila langsung menggelengkan kepala.


"Setiap tahunnya, Refal selalu mengurung diri di tanggal 21 bulan ini. Karena di tanggal dan bulan ini lah Hilya tiada. Mama pikir Refal telah melupakan dukanya. Nyatanya, selama tiga tahun terakhir dia selalu saja melakukan hal yang sama. Dengan alasan pekerjaan Ia mengurung diri di kantor.


Tapi, kali ini, berbeda. Mama tidak perlu khawatir lagi karena Kau ada disisinya. Satu pinta Mama, bersabarlah dengan Refal. Karena di saat anak itu marah Ia selalu kehilangan akal sehatnya. Ia akan bicara tanpa berpikir, kemudian dia akan menyesali ucapannya setelahnya. Mama selalu takut pada amarahnya, Mama takut amarah itu akan menghancurkannya. Sekali lagi Mama minta, bersabarlah pada Refal." Ucap Nyonya Asa panjang kali lebar.


Sabar!


Satu kata itu terdengar sangat sederhana, namun tidak semudah itu melakukannya. Dalam hati, Fazila berdoa semoga Allah memberikannya kesabaran yang besar, karena hanya orang-orang yang beruntung yang akan selalu bersikap sabar dalam setiap keadaan.

__ADS_1


Ya Allah, jika apa yang di katakan Mama mertua benar, maka berkahi Aku dengan kesabaran yang besar sehingga amarah Pak Gubernur tidak akan melukai perasaan dan harga diriku. Batin Fazila sambil menatap Nyonya Asa tanpa melepas senyuman dari bibir tipisnya.


...***...


__ADS_2