
Rembulan kembali menampakkan sinarnya setelah tadi sempat menghilang di balik gelapnya awan hitam. Cahayanya terang benderang, seolah sedang memperlihatkan kondisi Fazila yang sedang kalut. Iya, dia merasa kalut. Sejak Nyonya Dewa memberinya surat dari Matthew, ia terus saja menatap surat itu tanpa berani membukanya. Bukan apa-apa, ia hanya tidak ingin membaca surat itu tanpa kehadiran Refal disisinya.
"Ini sangat larut! Kenapa Pak Gubernur belum pulang? Aku tidak bisa tidur tanpa kehadirannya disisi ku!" Ucap Fazila lirih. Ia menatap arlogi yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjukkan tepat di angka sebelas.
"Apa setiap Gubernur akan bekerja hingga selarut ini?"
"Kadang-kadang aku cemburu pada pasangan yang bisa jalan-jalan dengan bergandengan tangan tanpa di sorot media. Tapi, di banding keinginan itu, aku lebih suka saat melihat Pak Gubernur besikap jujur, adil pada semua orang dan bekerja dengan penuh dedikasi."
Tanpa Fazila sadari, sejak tadi Refal berdiri di belakangnya dan mendengarkan semua keluh kesahnya. Refal tidak pernah menduga kalau Fazilanya merasa kesepian tanpa kehadiran dirinya.
Fazila yang saat ini duduk di kursi roda sembari menatap cahaya Rembulan sangat terkejut saat menyadari tangan kekar memeluknya dari belakang. Ia menoleh dan mendapati wajah lelah Refal tanpa senyuman.
"Kenapa? Apa Gubernur kesayangan ku merasa lelah?"
"Maafkan, aku."
"Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk mu. Tapi, jangan khawatir, aku janji, setelah tubuh ini normal kembali, kita akan melakukan semua yang biasanya di lakukan pasangan kekasih." Fazila menepuk lengan Refal, berusaha mengabarkan kalau dia baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Aku khawatir pada diriku sendiri, aku takut tidak bisa membuat Fazila ku bahagia. Maafkan aku, aku tidak bisa selalu berada di sisimu. Apa sebaiknya aku mengakhiri masa jabatanku?" Kali ini Refal bertanya sembari menangkup wajah cantik istrinya. Ia berharap Fazila akan setuju, hanya ini cara satu-satunya agar mereka bisa bersama selama dua puluh empat jam.
"Tidak!" Ujar Fazila menegaskan. Ia mencubit hidung bangir suaminya.
"Refal ku terlihat tampan saat sedang bekerja."
__ADS_1
"Jangan pernah berpikir untuk keluar dari pekerjaan ini."
"Beberapa orang bekerja keras untuk mendapatkan jabatan. Kemudian, setelah mendapat jabatan, mereka berlomba-lomba memperkaya diri tanpa memikirkan nasib rakyat kecil.
Aku tidak perlu jalan-jalan keluar Negri, atau berbelanja barang dengan harga ratusan juta. Aku hanya ingin Refal ku tumbuh menjadi pemimpin yang berempati." Ucap Fazila panjang kali lebar.
Mendengar ucapan istrinya, Refal hanya bisa mengangguk pelan.
"Aku akan melakukan semua yang di inginkan Fazila ku. I Love you." Refal tersenyum lebar, ia memeluk Fazila sambil mengelus kepala Fazilanya. Refal bahkan tidak perduli saat rambut panjang Fazila terlihat berantakan, di terbangkan angin malam kemudian mengenai wajahnya. Alih-alih marah, Refal malah terlihat senang, aroma wangi yang menguar dari rambut Fazila membuatnya merasa tenang.
"Bu Gubernur, apa kau sudah menerima surat yang di tinggalkan si payah Matthew?" Refal mulai mengurai tanyanya begitu ia melepaskan pelukannya.
"Ck. Jangan memanggilnya seperti itu. Sekarang dia teman ku." Bela Fazila sambil meninju dada bidang Refal dengan pelan.
"Iya, aku sudah menerima suratnya. Tuan dan Nyonya Dewa memberikannya tadi siang. Mereka berpamitan, mereka akan kembali ke Bali besok pagi."
"Apa Fazila ku sudah membaca surat ini?" Refal menyodorkan surat itu pada Fazila.
"Kenapa? Baca saja! Aku janji tidak akan marah." Sambung Refal setelah melihat Fazila menggelengkan kepala.
"Apa aku perlu membukanya? Atau aku saja yang baca? Tapi, jika aku yang baca, itu terkesan tidak sopan saat aku sendiri tahu surat ini di tujukan untuk orang lain."
"Baiklah, akan ku baca. Tapi, dengan satu syarat." Fazila menatap Refal sembari menangkup wajah tampan itu dengan jemari lentiknya.
__ADS_1
"Syarat? Memangnya apa syaratnya?"
"Syaratnya sangat sederhana, Refal ku harus menemaniku saat membaca surat ini." Jawab Fazila penuh penekanan.
Refal kembali mengangguk. Setelah mendapat persetujuan dari Refal, Fazila mulai membuka amplop hijau yang saat ini sudah ada dalam genggamannya.
Assalamu'alaikum...
Hay nona sempurna, aku menyapamu dalam keadaan berbeda. Dan saat kau membca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada lagi bersama kalian semua.
Jantung ku mungkin berhenti berdetak, namun nama mu selalu tersimpan indah di dalam memori ku. Kau akan selalu ada di hatiku, sebagai yang terbaik yang pernah Tuhan ciptakan.
Aku menulis surat ini dengan senyuman lebar, aku bahagia, sangat bahagia sampai tidak bisa ku ungkapkan dengan sekedar kata-kata. Mengingat mu selalu saja menjadi penawar kesedihan ku. Tapi sekarang aku tidak merasakan sedih atau pun sakit lagi.
Sungguh, mencintaimu adalah bagian terbaik yang pernah ku lakukan dalam hidupku. Bertemu dengan mu adalah moment terindah yang Tuhan gariskan untuk ku.
Meyda Noviana Fazila yang lembut hatinya, terima kasih untuk segalanya. Dan rasa terima kasih ku ini akan menjadi saksi yang akan memberatkan timbangan amal mu di hadapan Tuhan kita nanti, akan ku katakan dengan lantang bahwa kau sebaik-baik teladan wanita di akhir zaman. Semoga kisahmu selalu menginspirasi, hari ini dan selamanya.
Salamku untuk Pak Gubernur Refal, katakan padanya aku minta maaf karena pernah mencintai istri berharganya, tapi itu jauh sebelum aku tahu kalau kau sudah menikah. Jika ku pikirkan lagi, aku benar-benar tidak menyesali perasaan itu, karena berkat perasaan itu Hidayah datang membelai lembut lubuk hati terdalamku. Mungkin ini yang di sebut dengan cinta membawa berkah.
Dan Ini akhir dari kisah ku, aku minta maaf untuk segalanya. Dan aku berdoa semoga kau dan Pak Gubernur selalu berbahagia. Dari ku yang fakir amal dan seseorang yang selalu mengharapkan kebaikan untuk Mu.
Matthew Adyamarta.
__ADS_1
Fazila menghela nafas kasar setelah membaca surat yang di tinggalkan Matthew untuknya. Ia menggenggam tangan Refal sembari tersenyum penuh arti.
...***...