
Huhhhhhh!
Refal membuang nafas kasar dari bibir. Tanpa berpikir panjang ia langsung melepaskan tangannya dari wajah cantik Fazila. Ia masih tidak bisa percaya dengan penolakan yang baru saja di dengarnya. Kini giliran Refal yang terlihat malu, ia malu karena sudah bersikap sok percaya diri kalau Fazila akan membalas setiap hal yang akan dilakukannya.
"Ma-maafkan aku!" Ucap Refal menyesal. Ia membuka jasnya dan meletakkannya di samping kirinya.
Pak Gubernur berhak atas diriku. Namun dalam hubungan ini ada satu hal yang masih mengganggu pikiranku. Ucapan Fazila terus saja berputar di memori otak Refal. Mereka masih duduk di atas ranjang yang sama namun tidak ada yang mau memulai untuk bicara terlebih dahulu. Entah Refal atau Fazila mereka berdua berada dalam dilema yang sama. Saling mengagumi dan mencintai namun masih takut untuk menerima penolakan.
Sepuluh menit berlalu, Fazila kembali memberanikan diri untuk menatap wajah tampan Refal. Ia meraih tangan Refal, menggenggamnya sangat erat, membuat Refal salah tingkah. Refal yang merasa bingung dengan sikap Fazila hanya bisa duduk mematung sambil menatap tangannya yang ada dalam genggaman Fazila.
"Refal. Aku tidak pernah menolakmu. Kau tahu?" Fazila memulai ucapan singkatnya dengan menyebut nama Refal. Nama yang sangat jarang ia ucapkan karena ia selalu memanggil Refal dengan sebutan Pak Gubernur.
"Aku tipe gadis pencemburu. Aku tidak ingin kau mengingat wanita lain saat sedang bersamaku. Dan aku pun hanya ingin kau menatapku dengan tatapan cinta sama seperti aku menatapmu seperti itu.
Aku pernah bilang, kau boleh mengenang Nona Hilya kapanpun yang kau inginkan, aku tidak akan marah. Aku hanya tidak ingin bersaing dengan orang yang sudah tiada.
Melan bilang, kau sangat terpuruk saat kehilangan Nona Hilya. Kau bahkan mencari sosoknya dalam diri wanita lain. Jika kau berpikir seperti itu, maka kau tidak akan pernah menemukannya dalam diriku. Karena aku adalah Fazila, aku berbeda dengannya dan kami pun tidak akan pernah sama." Celoteh Fazila panjang kali lebar.
Seketika, perasaan kecewa Refal seolah menguap keangkasa. Akhirnya ia tahu Fazila tidak menolaknya, Fazila hanya ingin memberikannya waku untuk menerima kehadirannya seutuhnya.
Kali ini giliran Refal yang meraih jemari Fazila, ia menggenggamnya sangat erat kemudian meletakkan tangan Fazila di dada bidangnya.
__ADS_1
"Kau dengar detakan jantungku?" Refal bertanya sambil menyentuh dagu Fazila, ia mengusap pipi kanan Fazila kemudian mencubit pelan hidung bangir itu.
"Jantungku berdetak dan detakannya hanya menyebut satu nama. Meyda noviana Fazila." Sambung Refal lagi. Ia menatap wajah Fazila tanpa melepas senyuman dari wajah tampannya.
"Aku tidak ingin wanita lain menatapku dengan tatapan cinta, karena hanya ada satu nama yang berhak melakukannya, Meyda Noviana Fazila." Ucap Refal lagi. Satu tangannya menangkup pipi kanan Fazila dan satu tangannya lagi meletakkan jemari Fazila di dada bidangnya.
"Ku akui dulu aku sangat mencintai Hilya sampai aku rela mengorbankan hidupku hanya untuknya. Tapi sekarang, di hatiku sudah tidak ada lagi namanya, karena kekosongan itu telah di isi oleh nama lain yakni Meyda Noviana Fazila.
Aku tahu kau bukan yang pertama dalam kisah cinta ini. Tapi aku berjanji padamu, kau akan selalu menjadi prioritas pertama dalam hidupku. Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu.
Sekarang katakan, apa yang harus ku lakukan agar kau percaya padaku kalau kau yang terindah, tersayang, tercantik dan terbaik. Apa aku harus melompat dari balkon itu agar kau mau percaya padaku? Baiklah, akan ku lakukan!" Ucap Refal serius, padahal ia hanya ingin Fazila kembali tersenyum seperti sebelumnya.
Dan benar saja, bukan hanya tersenyum. Fazila bahkan terkekeh mendengar ucapan Refal, melihat ekspresi menggemaskan Refal membuat Fazila tidak bisa menahan tawanya.
"Baiklah. Baiklah. Aku pecaya itu, jadi kau tidak perlu melompat dari balkon itu. Lagi pula jika kau terluka Mama mertua pasti akan menuduhku melakukan KDRT." Guyon Fazila sembari memegangi perut ratanya. Ia menarik tangannya dari dada refal, namun dengan kuat Refal menggenggam jemari lentik itu. Tatapan mereka kembali bertemu.
Cesssss!
Dada mereka berdua kembali berdetak sangat cepat. Refal yang menyadari Fazila akan beranjak dari ranjang terpaksa menarik Fazila hingga tubuh ramping itu terbaring tak berdaya. Tak ada pergerakan dari Fazila hingga Refal dengan mudah kembali menempelkan bibir lembutnya di kedua kelopak mata Fazila.
"Sama seperti aku tidak ingin menatap wanita lain dengan tatapan cinta, maka aku ingin mata indah ini pun hanya menatapku dan hanya mencintaiku." Bisik Refal di telinga Fazila begitu ia melepaskan kecupannya. Tidak ada balasan dari Fazila selain senyuman yang kembali terbit dari bibir merah mudanya.
__ADS_1
"Seumur hidupku, aku tidak ingin melihat kening ini berkerut lantaran kecewa dan marah padaku." Ucap Refal lagi. Kali ini ia mencium kening Fazila dan ingin berlama-lama disana.
Di bawah kungkungan Refal, Fazila mulai bergerak namun bukan untuk pergi. Perlahan Fazila mulai mengalungkan kedua lengannya di leher Refal. Sungguh, cahaya temaram yang bersumber dari balkon menambah kesan romantis.
"Seumur hidupku, Aku hanya ingin melihat wajah cantik ini tersenyum. Bahkan jika suatu hari nanti aku melakukan kesalahan, kesalahan yang membuat kita terpisah, kau tidak boleh meninggalkan senyuman ini, karena aku sangat bahagia saat melihat senyuman merekah dari bibir indah ini." Ujar Refal sembari melayangkan kecupan di pipi kanan Fazila kemudian beralih menuju pipi kirinya.
Dua anak manusia yang saat ini telah larut dalam nuansa membahagiakan itu tidak memikirkan apa pun lagi selain bagaimana caranya membuat malam ini berwarna.
"Bisa menjadi bagian dalam hidup menenangkamu adalah karunia terbaik yang Allah berikan padaku. Ku akui atau tidak, aku mulai tergila-gila padamu istri cantikku, Meyda Noviana Fazila." Ucap Refal lagi.
Fazila yang sejak tadi di hujam dengan ucapan manis Refal hanya bisa tersenyum penuh kemenangan, ia tidak menyangka akan menemukan pria yang sangat mencintainya. Bahkan dadanya semakin detik semakin berdebar sangat kencang, saat ini tidak ada jarak di antar Refal dan Fazila, dan hal itu semakin membuat Fazila seolah terbang keawan. Sedetik kemudian ia mulai tersadar dan menghentikan aksi Refal.
"Ada apa? Apa masih ada keraguan di hatimu? Katakan saja, aku janji aku akan bersabar untuk menahan diri sampai kau dengan suka rela datang padaku." Untuk kesekian kalinya Refal kembali berbisik di telinga Fazila yang masih tertutup pasmina.
"Tidak ada keraguan dalam diriku, aku hanya ingin mengingatkan, kita harus Shalat terlebih dahulu. Semoga Allah merahmati kita dengan keturunan yang baik." Ucap Fazila, netra teduhnya menembus lubuk hati terdalam Refal.
"Ayo." Sambung Fazila lagi. Jemari lentiknya mencubit hidung bangir Refal.
Mendengar ucapan Fazila, Refal menganggukkan kepala bahagia. Ia kembali menatap netra teduh Fazila yang begitu memesona. Tasbih lirih kini mulai mengudara dari bibirnya, mengagungkan sang pencipta yang telah menciptakan Bidadari indah yang saat ini menatapnya dengan lirikan mata yang tulus.
...***...
__ADS_1