Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Di Stasiun Radio (Fazila)


__ADS_3

"Siapa si payah ini? Berani sekali dia mendekati Fazila Ku? Apa dia tidak punya harga diri?" Gerutu Refal sembari menatap layar ponselnya, Ia terlihat kesal dan hal itu membuat Bima ingin tertawa lepas.


Seandainya Refal menatap wajah Bima, sudah pasti Ia akan mengumpat Asisten tidak bergunanya. Berani sekali Ia ingin tertawa saat Majikannya terlihat terbakar dalam api cemburu.


"Berikan Aku informasi lengkap tentang si payah ini. Di lihat dari gerak geriknya, Aku yakin dia menatap Fazila Ku dengan tatapan berbeda." Celoteh Refal lagi, Ia menatap tajam ke arah ponsel yang ada dalam genggamannya. Dadanya terasa bergemuruh namun sekuat tenaga Ia berusaha keras menahan amarahnya.


"Siap, Pak."


"Dengar Bima, kali ini Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun. Informasi tentang si bodoh ini harus ada di meja Ku kurang dari dua puluh empat jam. Jika tidak..." Refal menggantung kalimatnya, Ia menatap Bima dengan tatapan tajam, matanya mulai memerah dan tangannya tak tinggal diam. Sesekali Refal menggebrak meja kerjanya dan di lain waktu Ia juga mengepalkan tangannya.


Aku rasa Bapak sedang cemburu. Orang yang cemburu ibarat Singa yang terluka. Membantah ucapannya bisa saja mendatangkan petaka. Terutama untukku. Batin Bima sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa Kau tersenyum? Apa Kau sedang meledekku? Apa Kau ingin di mutasi? Dasar payah!" Refal beranjak dari kursi kebesarannya, Ia berjalan ke arah kamar mandi. Berharap dengan membasuh wajahnya semua amarah akan menguap ke angkasa. Setidaknya itu yang Refal pikirkan.


Membayangkan Bidadarinya di dekati seseorang membuatnya merasa tidak tenang. Sangat mengesalkan sampai-sampai Refal ingin menjungkir balikkan dunia pemuda kurang ajar yang masih belum Ia ketahui identitasnya itu.


Sementara itu di tempat berbeda, duduk Matthew dengan perasaan bahagia. Dadanya masih berdebar sangat kencang. Matthew meraba dadanya, wajahnya masih memperlihatkan senyuman, seyum yang masih mengembang di wajah tampannya.


"Oh My God... Apa jantung ku masih berada di tempatnya? Apa aku sungguh Matthew yang sama, Matthew yang selalu mengabaikan wanita selain Kadek?


Allah, Yesus, Budha, Dewa... Atau siapa pun nama Tuhan di semesta. Selama ini Aku tidak percaya dengan keberadaan Mu. Aku rasa Kau sangat dekat dengan Ku karena itu lah Kau mempertemukan Ku dengan gadis itu." Ujar Matthew dengan nada suara pelan, Ia mencubit lengannya untuk menyadarkan diri kalau ini bukan sekedar mimpi.


"Auuwww!" Matthew meringis, Ia menahan sakit di lengannya, namun di detik selanjutnya Ia mulai tertawa seperti orang tidak waras.

__ADS_1


"Yuhhuuuu... Ternyata semua ini bukan mimpi. Aku bahagiaaaaaaa." Matthew berteriak.


Gdebukkkk!


Matthew mulai menghempaskan tubuh jangkungnya di ranjang empuk Apartemen yang sudah di siapkan Tuan Alan selama Ia tinggal di Ibu Kota.


"Dasar bodoh! Dasar payah. Konyol." Matthew mengutuk dirinya sendiri sambil menjambak rambut hitamnya.


"Kenapa Aku sampai melupakan hal yang paling penting. Seharusnya Aku bertanya siapa namanya? Dan dia berasal dari mana? Bukannya bertanya seperti itu Aku malah diam seperti patung. Tidak berguna. Tidak berguna." Matthew mengetuk-ngetukkan kepalanya di bantal yang mengganjal kepalanya.


Bagai musim yang mudah berubah, saat ini Matthew terlihat putus asa. Dan anehnya, wajah yang tadinya terlihat penuh penyesalan kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi wajah yang di penuhi senyuman. Otak cerdasnya mulai menyusun rencana, rencana matang untuk bisa bertemu kembali dengan dia sang Bidadari yang telah berhasil mencuri hati dan pikirannya, seolah dunia ini hanya berputar seputaran cinta dan penjuangan untuk meraih belahan jiwa yang masih terpisahkan.


"Aku di kenal sebagai Pangerannya Pulau Dewata. Tidak ada yang bisa menyamaiku dalam hal pesona dan kekuatan.


Entah apa yang Matthew pikirkan sampai Ia bertekad untuk mendapatkan hal yang menurutnya harus menjadi miliknya, apa semua pria sama saja jika menyangkut soal hati atau cinta? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu, apa pun jawabannya semoga tidak ada yang akan terluka hanya karena cinta.


...***...


Fazila baru saja tiba di stasiun siaran Radio, tak terasa acara 'Cuap-cuap bareng Meyda' telah berusia tiga tahun dan malam ini akan menjadi malam terakhirnya menyapa para penggemar acara radio yang di bawanya.


Sedih? Tentu saja Fazila merasakannya karena Ia sangat terikat dengan pekerjaannya. Bisa menyebarkan ilmu tanpa saling menatap, bukankah itu luar biasa? Iya, untuk seorang Fazila perasaan itu selalu membuatnya bahagia. Tidak terkecuali malam ini.


"Assalamu'alaikum Kak Fazila... Akhirnya Kakak datang juga."

__ADS_1


Prok.Prok.Prok.


Suara tepuk tangan terasa bergema di indra pendengar Fazila untuk menyambut kedatangannya. Setelah berbulan-bulan akhirnya Ia kembali juga. Semua ini terasa bagai angin yang menyejukkan.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullah." Balas Fazila sambil memeluk beberapa rekan wanita, kemudian menangkupkan kedua tangan di depan dada untuk menunjukkan rasa hormatnya pada rekan pria yang satu profesi dengannya.


"Kak Fazila, selamat atas pernikahan Kakak. Kami tidak bisa menahan Kakak untuk tetap berada disini, karena kami tahu akan ada banyak tanggung jawab di pundak Kakak selama Kakak menyandang status sebagai istri Pak Gubernur." Ucap Naila, salah satu rekan Fazila.


"Dan bodohnya kami, kami bahkan tidak tahu kalau Kakak anak konglomerat nomer satu di kota ini.


Yang kami tahu kami hanya berteman dengan seorang Fazila, gadis biasa dengan segudang prestasi tapi lebih memilih menghabiskan setengah waktunya di ruang sempit hanya untuk menyampaikan ilmu bagi mereka yang haus akan pengetahuan." Ucap Naila lagi, lelehan bak kristal yang keluar dari mata Naila mendarat tepat di punggung tangan Fazila.


Fazila tersenyum, Ia terharu karena begitu banyak cinta yang Ia dapatkan hanya dalam waktu yang singkat.


"O iya, Aku membawakan kopi dan beberapa makanan ringan untuk semua orang. Aku akan bersiap-siap, apa Kau bisa mengambilnya di mobil? Karena terburu-buru Aku bahkan melupakannya. Sikap cerobohku kembali kumat." Ucap Fazila sambil menyodorkan kunci mobil pada Naila.


"Hal seperti inilah yang paling Ku sukai dari Kak Fazila, Kakak tidak pernah membeda-bedakan siapa pun. Kami Semua mendapat bagian yang sama. Thank you."


"Sudahlah. Aku akan bersiap-siap di dalam, mendengar sanjungan Mu akan membuat Ku semakin besar kepala." Ujar Fazila sambil menepuk bahu Naila.


Sedetik kemudian Fazila mulai masuk kedalam ruang ganti, wajah cantiknya masih memamerkan senyuman, walau wajahnya tidak terlihat di depan penggemar acara yang di bawanya, setidaknya Ia harus membersihkan diri, karena Fazila tahu Allah menyukai orang-orang yang menyucikan diri, baik pakaian atau pikiran.


...***...

__ADS_1


__ADS_2