Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Tidak Di Takdirkan


__ADS_3

Fazila terdiam kaku, beku dalam ketidak percayaan membuncah. Tubuhnya seketika bergetar, dadanya bergemuruh, tatapannya kelu tak bisa berpindah dari lelaki di hadapannya. Fazila ingin menghindar, memalingkan tumbukan netranya dari sosok menyebalkan yang saat ini berdiri mematung.


Waktu seakan berhenti, sedang lelaki itu tersenyum manis, bahagia memandang wanita impiannya, wanita yang telah berhasil mengoyak ketenangan jiwanya.


"Kamu?"


"Kamu ngapain disini?"


"Apa selama ini kamu memata-mataiku?"


"Berani sekali kamu datang kemari!" Karena tidak ada tanggapan dari lawan bicaranya, Fazila buru-buru ingin menutup pintu namun segera di hadang oleh lelaki yang berdiri di depannya. Mengingat kejadian semalam membuat tangan Fazila gatal hendak menaparnya.


"Tidak. Aku tidak pernah melakukan itu. Maksudku, memata-matai Mu."


"Jangan berbohong. Pria sepertimu tidak bisa di percaya. Kau tidak pantas menjadi teman siapapun." Ucap Fazila ketus, Ia menatap lawan bicaranya dengan tatapan setajam belati, seolah tatapan itu akan menguliti lawan bicaranya.


"Sungguh, Aku bersumpah atas nama pemilik rumah ini. Aku tidak pernah menguntitmu, dan Ku akui Aku memang sangat bahagia bisa melihatmu disini."


"Kau! Beraninya Kau..."


"Siapa yang datang, sayang?"


Tangan Fazila telah terangkat sempurna, hampir saja Ia melayangkan tamparannya namun Bu Fatimah tiba-tiba datang.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa, Mi. Hanya penguntit." Balas Fazila pelan.


"Penguntit? Siapa yang penguntit siapa?" Fatih bertanya begitu muncul di depan Fazila, namun tidak ada tanggapan dari pertanyaannya.


"Kakak terlihat marah, apa Kakak bertengkar dengan Bang Matthew?"


"Kau mengenalnya? Dia penguntit!" Balas Fazila tak percaya.


"Sayang, Ummi yakin Kau salah. Matthew bukan pria seperti itu. Dia anak yang baik. Ummi sangat menyukainya." Bela Bu Fatimah mencoba menenangkan putri cantiknya. Tentu saja Fazila tidak percaya begitu saja dengan ucapan Umminya, jelas-jelas Ia berdebat dengan Refal gara-gara sosok menyebalkan yang saat ini berdiri di depannya.


"Sudahlah. Ayo kita masuk." Bu Fatimah merangkul Fazila dan menuntunnya hingga duduk di sofa. Sementara Matthew, Ia berjalan bersama Fatih. Dalam hatinya, Ia merasakan bahagia yang bercampur dengan perasaan gugup. Hampir saja Ia mendapat tamparan untuk kedua kalinya, dan untungnya itu tidak sampai terjadi.


Untuk sesaat, Matthew memberanikan diri menatap sosok sempurna yang duduk di samping Bu Fatimah. Dalam benaknya, Matthew menyimpan banyak sekali pertanyaan, namun Ia ragu untuk mengungkapkan isi hatinya. Sungguh, bagi Matthew ini terasa bagai mimpi yang menjadi kenyataan, dan mimpi ini terlalu indah untuk di lewatkan.


"Ummi sangat takut karena ponselmu tidak bisa di hubungi, Ummi meminta Fatih membawakan sarapan, itu pun tidak bisa Fatih lakukan." Ucap Bu Fatimah sambil menatap Fatih dengan tatapan tajam.


"Ummi, itu bukan salahku."


"Aku sampai di Apartemen Bang Matthew tepat waktu. Hanya saja, sesaat setelah Aku sampai, Aku melihat Bang Matthew dalam keadaan terluka."


"Apa sekarang Kau merasa baikan? Jika Kau merasa tidak enak badan, Kau bisa beristirahat di atas." Bu Fatimah menatap Matthew yang terlihat pucat


"Tidak, Ummi. Sekarang Aku baik-baik saja." Jawab Matthew menegaskan.

__ADS_1


"Ummi?" Fazila terlihat kaget, Ia menatap Matthew dengan tatapan heran.


"Sejak kapan Kau memanggil Ummi Ku dengan panggilan seakrab itu? Apa Kau merencanakan semuanya sejak awal?"


Mendengar ucapan Fazila, Matthew terlihat gusar. Ia tidak ingin kesalahpahaman yang telah tercipta akan membuat Fazila semakin membencinya. Ingin membela diri pun Ia tak kuasa, karena saat ini Ia berada di kandang yang salah. Mengingat bagaimana Ia memeluk Fazila kemarin malam membuatnya merasa semakin bersalah. Bahkan jika Fazila menampar untuk kedua kalinya, Matthew tidak akan bisa mengelak, apalagi sampai membalas dengan balasan yang sama, karena Matthew tahu, disini dirinyalah yang bersalah.


"Sayang, Kau tidak boleh ketus padanya. Sama seperti Ummi menyayangimu dan juga adikmu, Ummi juga menyayangi Matthew." Ujar Bu Fatimah sambil meletakkan cangkir teh di depan Matthew.


"Sejak tadi Ummi terus saja bicara, Ummi sampai lupa untuk memperkenalkan kalian berdua.


Nak Matthew, kenalkan, dia putri Ummi. Namanya Fazila.


Dan Fazila, Nak. Kenalkan, dia Matthew, putra rekan bisnis Abi yang tinggal di Bali. Keluarga kita saling mengenal sejak lama, tapi anehnya kalian bahkan tidak punya kesempatan untuk saling berkenalan.


Saat Fazila menikah, Ummi meminta Nak Matthew dan keluarga agar menghadiri pernikahan Fazila. Rupa-rupanya takdir berkehendak lain, Nak Matthew tidak bisa hadir dan kalian malah bertemu disini. Tidak apa-apa, setidaknya sekarang kalian sudah saling mengenal." Ucap Bu Fatimah panjang kali lebar, Ia menatap Matthew dan Fazila secara bergantian.


Matthew yang di tatap terlihat salah tingkah.


Pernikahan!


Satu kata itu benar-benar mengganggu Matthew, dan harapan yang baru saja terbit kini menghilang bersama dengan helaan nafas kasarnya.


"Takdir macam apa ini? Kenapa Aku tidak ada dalam takdirnya?" Bibir Matthew mengukir senyuman, namun hatinya merasakan pilu. Di depannya ada wanita yang sangat Ia cintai, dan buruknya Ia bahkan tidak bisa bicara dengan wanita impiannya itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2