
"Terima kasih atas bantuan anda." Ujar Fazila sembari menangkup kedua tangan di depan dada. Dan ini untuk yang kedua kalinya.
Matthew yang mendengar ucapan Fazila hanya bisa tersenyum sembari menatap lawan bicaranya, tahu dirinya sedang di tatap dengan intens Fazila mulai mengalihkan pandangannya.
"Jangan menatap ku seperti itu! Aku tidak suka."
"Kenapa? Ini mata ku, aku berhak menatap siapa pun yang ku inginkan. Jika kamu tidak suka, kamu bisa pergi." Matthew melipat kedua lengan di depan dada, ia berusaha keras menahan degupan jantungnya. Degupan yang tidak ia ketahui sejak kapan di mulainya.
"Percuma bicara dengan mu. Toh kita tidak saling mengenal, jadi percuma saja aku membuang energi. Aku berharap ini pertemuan terakhir kita. Assalamu'alaikum." Ujar Fazila lagi sambil berjalan meninggalkan Matthew yang saat ini tersenyum manis padanya.
"Gadis pemarah, kita akan bertemu lagi. Aku akan menunggumu di sepanjang jalan." Goda matthew sembari menatap punggung Fazila.
Lima menit kemudian Fazila sudah berada di kantor Abinya, tak sepatah kata pun keluar dari lisannya, ia duduk sambil merunduk.
"Abi sudah dengar dari karyawan wanita itu, dia bilang dia berterima kasih pada putri Abi yang baik hati." Tuan Alan mulai membuka suara di antara senyapnya udara.
Tanpa Tuan Alan sadari ucapannya sudah berhasil menyingkirkan batu besar yang terasa mengganjal lubuk hati terdalam Fazila. Wajah cantik itu kini mulai terangkat.
Ruang kantor Tuan Alan yang tadinya terasa senyap kini di penuhi oleh senyuman seindah purnama milik Meyda Noviana Fazila.
"Abi tahu kan kalau Fazila sangat mencintai Abi? Baiklah, tidak perlu di jawab karena Fazila sudah tahu jawabannya." Ujar Fazila begitu ia menatap wajah tampan Abinya yang tak pudar di makan usia.
"Abi tahu kenapa putri cantik Abi bersikap sok manis, tapi kali ini Abi tidak bisa membantu. Kau tahu sendiri, kan? Ummi mu bagaikan CCTV yang terpasang di sepanjang jalan. Ia bisa melihat tindakan kita walau dalam keadaan menutup mata.
Abi tidak pernah mengatakan apa pun pada Ummi mu soal kejadian di Restorant, walau demikian Abi yakin sekarang Ummi pasti sudah tahu soal kejadian barusan, hubungi dia atau kita berdua akan berada dalam masalah besar." Ucap Tuan Alan sembari menatap putri cantiknya.
"Fazila, Nak. Berkali-kali kau terlibat dalam masalah, hal demikian semakin membuat Ummi merasa ketakutan.
Kau tahu, kan? Ummi tidak pernah marah-marah jika itu bukan hal yang serius. Pagi ini tante Sabina mu menghubungi Abi, dia bilang kau menghukum ketiga adik mu. Sekarang katakan, kenakalan apa yang di lakukan anak-anak itu." Kali ini Tuan Alan mendesak Fazila dengan pertanyaan seriusnya. Jika menyangkut anak-anak, Tuan Alan tidak pernah ingin ketinggalan, entah dari dulu maupun sekarang.
__ADS_1
"Fazila kesal, Bii. Ketiga anak itu semakin hari semakin nakal. Fazila bahkan tidak bisa mengakui mereka sebagai adik di lingkungan kampus karena mereka bilang mereka tidak ingin semua orang tahu kalau mereka punya kakak yang cerdas sementara mereka payah dalam belajar." Celoteh Fazila sambil berdiri dari sofa, ia berjalan pelan menuju jendela kantor Abinya.
"Apa yang di lakukan anak-anak itu sampai kau terlihat kesal? Abi yakin ini pasti bukan masalah sepele!"
"Fatih, Regan dan Umang membuat konspirasi untuk menjatuhkan seorang gadis agar Fatih terlihat seperti pahlawan di depan gadis itu. Abi tahu apa yang terjadi? Bukan gadis incaran putra tersayang Abi yang jatuh, tapi Fazila Biii. Fazila."
Untuk sesaat Fazila terdiam sembari mengingat kejadian menyebalkan itu. Jika bisa, rasanya dia ingin menghapus ingatan buruk itu, ingatan saat ia mendarat dalam pelukan seorang Gubernur tampan dengan sejuta pesona.
Entah apa kabar Gubernur menyebalkan itu? Batin Fazila, ia mengalihkan tatapannya dari tatapan penuh tanda tanya milik Abinya, Alan Wijaya.
...***...
Di malam yang indah ini bersama dengan bayang mu!
Di kantornya, Refal berdiri di dekat jendela, di tangannya ia memegang erat potret Hilya, ia menatap potret itu dengan penuh cinta. Netra teduhnya berkaca-kaca. Menatap wajah cantik Hilya selalu saja membuatnya merasakan kedamaian luar biasa, kedamaian yang bahkan tidak bisa ia ungkapkan dengar sekedar kata-kata.
Dua tahun sudah Hilya meninggalkan dunia ini, namun bayangan indahnya, senyuman menawannya dan candaan khasnya masih saja nampak, entah saat Refal membuka mata maupun menutup mata karena semua kenangan itu tetap saja berputar di memori otaknya.
Bagi semua orang waktu mungkin berjalan sesuai kehendak hatinya. Namun bagi Refal, ia masih berdiri dalam kegelapan yang sama, kegelapan saat pertama kali ia melihat Hilya terbujur kaku dengan seragam yang berlumuran darah.
Tok.Tok.Tok.
Daun pintu di ketuk berkali-kali, sayangnya penguasa ruangan itu tidak mengatakan apa pun. Tidak mempersilahkan masuk, dan tidak juga mengusir.
"Pak Gubernur, saya tahu anda masih disini. Apa anda butuh kopi, atau saya bawakan makanan untuk makan malam Bapak?"
Tidak ada sahutan dari Refal, ia terlalu malas untuk menanggapi hal tidak penting.
Makanan dan kopi?
__ADS_1
Jika dua hal itu tidak penting, lalu apa yang penting bagi sosok sempurna sekelas Refal? Jawabannya mungkin saja sederhana, jangan mengganggunya saat dia ingin sendirian. Tepatnya seperti di malam yang indah ini.
"Aku tidak ingin apa pun. Tinggalkan aku sendiri dan jangan menungguku." Balas Refal ketus.
"Tapi, Pak..."
Refal menoleh kearah lawan bicaranya dengan tatapan tajam, seolah tatapan itu akan menguliti lawan bicaranya.
"Ba-baik pak."
Akhirnya asisten Refal hanya bisa mengalah pasrah, ia merunduk memberi hormat kemudian berjalan mundur dengan kepala yang masih tertunduk sempurna.
"Hilya... Malam ini bintang bersinar sangat terang, bukankah kau bilang kau paling suka melihat kelap-kelip bintang di langit? Hahaha!" Refal tertawa sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tertawa bukan karena ada yang lucu, ia tertawa karena merenungi nasipnya yang menyedihkan.
Troeetttt!
Pintu kantor Refal kembali di buka dari luar, bayangan indahnya bersama Hilya akhirnya pudar juga seiring dengan masuknya seseorang yang berhasil membuatnya kesal.
"Aku sudah bilang jangan menggangguku, apa kau tidak bisa membiarkan ku sendiri? Pergi dari sini sebelum aku mengusirmu dengan paksaaaaa!" Ujar Refal dengan nada suara tinggi, karena kesal ia bahkan tidak menatap lawan bicaranya.
"Aku bilang tinggalkan aku sendi..." Sambung Refal sembari membalikkan badan, netranya membulat sempurna, menatap sosok tegap yang berdiri di depannya membuat Refal merasa menyesal.
Glekkkk!
Refal menelan saliva, ia bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seandainya ia memastikan siapa yang datang terlebih dahulu, maka penyesalan yang ia rasakan saat ini tidak akan membuatnya bersikap bodoh.
"Pa-papa ada di si-ni? Ada apa?" Refal bertanya dengan nada suara pelan, ia terlalu gugup sampai bicara saja terbata-bata.
...***...
__ADS_1