
Mentari pagi ini bersinar sangat terang, cahayanya seolah mengabarkan kalau sang Gubernur muda, Refal Mahendra Shekar sedang di liputi kebahagiaan. Sejak meninggalkan rumah Tahfidz, bibirnya tak bisa berhenti mengukir senyuman, untuk pertama kalinya dalam dua tahun ini ia bisa tersenyum tanpa beban.
Dret.Dret.Dret.
Ponsel yang Refal letakkan di dekat kemudi terus saja bergetar, sekuat apa pun ponsel itu bergetar, Refal tidak akan pernah menerima panggilannya, ia tidak suka bicara saat berkendra.
"Ada apa? Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku sepagi ini?" Ucap Refal kesal begitu ia menepi dan menerima panggilan dari Asistennya.
"Pak Gubernur, maaf. Ada masalah darurat. Saya sudah tahu penyebab kekacauan yang terjadi belakangan ini. Saat ini saya sudah mengamankan bajingan yang mengatas namakan anda. Apa yang harus saya lakukan dengannya?" Ucap Bima di sebrang sana.
Darah Refal terasa mendidih, kini amarah mulai memenuhi setiap pori-pori tubuhnya. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajah tampannya berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi keluarga, dan tidak ada lagi urusan pribadi yang akan membelenggu kedua tangannya, saat itu menyangkut pekerjaan, Refal akan membuang semua hubungan.
"Tunggu disana. Dan tetap tahan dia, aku tidak akan membiarkan penghianat itu lolos dengan mudah." Gerutu Refal dengan amarah membuncah.
Sementara itu di tempat berbeda, Matthew sedang asyik menyantap sarapannya. Ia merasa terhormat mendapatkan perlakuan manis dari semua anggota keluarga Wijaya.
Sejak ia memasuki Mansion Wijaya, tak sekalipun ia mendapatkan perlakuan buruk, semua anggota keluarga itu bersikap hangat padanya layaknya keluarga sendiri. Sungguh, Matthew merasa betah berada di tengah-tengah keluarga harmonis sekelas keluarga Wijaya.
"Nak Matthew beneran akan kembali ke Bali siang ini?" Bu Fatimah bertanya setelah menelan makanannya. Ia tampak sedih, namun ia juga merasakan lega karena pemuda tampan yang ada di depannya akan kebali ketengah-tengah keluarga besarnya.
"Iya, Ummi. Aku akan kembali siang ini, sejak semalam Mama terus saja menelpon. Dia bilang dia sangat merindukan putranya dan berharap aku segera pulang. Aku tidak punya pilihan lain selain mewujudkan keinginan Mama.
__ADS_1
Karena pekerjaan dengan Tuan Alan sudah selesai, aku putuskan untuk pulang siang ini." Ucap Matthew sembari menatap tuan Alan dan Bu Fatimah yang duduk di depannya. Matthew yang duduk di samping Fatih terlihat sedih.
"Bang Matthew tidak perlu sedih, aku akan mengabarkan keadaan di dalam rumah dan di luar rumah secara terperinci." Guyon Fatih meledek Matthew.
"Fatih jangan meledeknya, Ummi tidak suka. Lagi pula, bang Matthew mu tidak mungkin sedih meninggalkan kita, sesampainya di Pulau Dewata dia akan melupakan kita semua. Pesona dan keindahan tempat itu akan menghilangkan kesedihannya." Ucap Ummi Fazila sambil tersenyum tipis.
Bang Matthew! Begitulah Fatih memanggil pria tampan yang duduk di sampingnya itu. Sejak Matthew berkunjung ke Mansion Wijaya, entah Fatih, Regan, atau pun Umang, ketiga pria rupawan itu mudah sekali dekat dengan Matthew.
Sikap sederhana dan tingkah kocak Matthew mempermudah segalanya, mungkin hanya satu alasan yang membuat Matthew merasa nyaman di tengah keluarga Wijaya.
Baik!
Semua orang bersikap baik padanya, entah muda maupun tua, mereka semua sama saja.
"Saya ingin seperti itu Tuan Alan. Sayangnya, saya tidak bisa melakukannya. Mama terus saja menelpon dan meminta agar saya segera pulang. Jika kekasih saya yang melakukannya, saya pastikan akan memutuskannya tanpa berpikir panjang.
Seperti yang Tuan Alan ketahui, sesungguhnya, terlalu perhatiannya orang tua kita adalah gangguan terindah yang pernah bisa kita terima." Ucap Matthew berterus terang. Wajah tampannya kembali memamerkan senyuman.
"Kapan Nona Fazila akan menikah?" Sambung Matthew lagi.
"Malam ini akan di adakan pertunangan, dan di hari selanjutnya atau lusa dia akan menikah dengan pria hebat yang sudah kami pilihkan untuknya." Jawab Bu Fatimah sembari memberikan isyarat agar Matthew dan suaminya pindah menuju ruang tengah. Sementara Fatih? Ia berlari menuju kamarnya setelah menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
"Wahhh.... Itu benar-benar kejutan. Seandainya saya bisa tetap tinggal, mungkin saya orang yang paling bahagia." Matthew kembali berucap, kali ini ia memamerkan wajah sedihnya. Dia tidak berbohong. Dia benar-benar tulus saat mengatakannya.
"Nyonya Fatimah bilang calon menantu Tuan seorang Gubernur. Tuan benar-benar beruntung. Diantara jutaan bahkan miliyaran pria yang ada di semesta, ternyata calon menantu Tuan adalah seorang Gubernur. menurut saya ini sangat luar biasa.
Saya jadi penasaran sebaik apa putri Tuan Alan, sejak saya datang hingga saat ini saya tetap tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Kakaknya Fatih."
"Dia gadis yang sibuk. Setelah pulang dari kampus dia akan mengajar di rumah tahfidz miliknya. Dalam sepekan dia hanya pulang di hari minggu, kemudian senin pagi dia akan kembali pergi. Begitulah anak sulung kami menghabiskan waktu luangnya." Ucap Tuan Alan sembari menatap wajah tersenyum istrinya, Ummi Fazila.
"Abi Fazila benar Nak Matthew, putri kami itu memang tidak ada duanya. Karena itulah kami berharap Nak Matthew tetap tinggal disini sampai proses Akad nikahnya selesai. Bagaimana?"
Matthew yang ditanya haya bisa menghela nafas kasar. Walau ingin menghadiri pernikahan, tetap saja dia tidak akan bisa melakukannya, pekerjaan yang masih tertinggal di tanah kelahirannya masih menumpuk dan meminta agar di segerakan.
"Nasib para pejuang kesejahteraan memang seperti ini, banyak jiwa yang bergantung pada kami, dan tidak ada cara lain yang harus kami lakukan selain bekerja dua kali lebih keras dari siapa pun." Sambung Matthew tanpa melepas tatapannya dari wajah Tuan Alan dan Bu Fatimah.
"Walau Ummi berharap Nak Matthew tetap tinggal, sayangnya Ummi tidak bisa mencegah Nak Matthew untuk pergi. Ummi sudah menyiapkan sedikit hadiah untuk kedua orang tua Nak Matthew, katakan pada mereka kami menunggu kedatangan mereka untuk berkunjung." Ummi Fazila terlihat sedih, selama dua pekan ini dia memang sangat dekat dengan Matthew.
"Bagas yang akan mengantar Nak Matthew ke bandara. Karena malam ini akan di adakan pertunangan Bapak minta maaf tidak bisa ikut mengantar."
"Tidak apa-apa Tuan, saya bisa mengerti kondisi anda. Saya justru minta maaf karena selama saya disini, Tuan Alan dan Ummi memperlakukan saya dengan sangat baik.
Berkunjunglah ke Bali dalam waktu dekat ini, saya berjanji akan menjadi pemandu wisata terbaik untuk Tuan Alan dan Ummi." Ujar Matthew dengan wajah yang kembali memamerkan senyuman menawan.
__ADS_1
Sedetik kemudian, Matthew memeluk Tuan Alan, menjabat tangan Ummi Fazila dan mencium punggung tangannya. Ia sangat menghormati kedua sosok di depannya itu layaknya menghormati kedua orang tuanya sendiri.
...***...