
"Tuan, ini informasi yang Tuan inginkan."
"Informasi? Ada banyak tugas yang Ku serahkan padamu agar Kau tangani dengan cepat. Selama dua hari ini kinerjamu benar-benar membuat Ku jengkel. Jadi, informasi apa yang Kau maksud?" Tanya Abbas sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk.
"Tuan, informasi yang Ku maksud adalah informasi menyangkut pria yang mencari Sabil, maksud ku kekasih wanita yang tiada akibat anak buah kita." Ucap Sky mengabarkan beritanya. Ia meletakkan amplop coklat di atas nakas.
"Wanita yang malang, dia berusaha keras menutup bisnis yang Ku bangun dengan susah payah. Dan pada akhirnya dia sendiri yang menutup usianya. Terkadang bersikap rendahan itu tidak buruk selama sikap itu mendatangkan kejayaan." Ucap Abbas dengan raut wajah tak terbaca. Sudut bibirnya sedikit terangkat menandakan Ia benar-benar meremehkan lawannya.
"Aku ingin Kau sendiri yang mengawasi wanita itu, jika tidak ada kesempatan maka Kau harus menciptakan kesempatan itu. Aku ingin mengakhiri masalah ini dengan segera sehingga Papa Ku tenang di Surga." Ucap Abbas dengan penuh penekanan.
"Sangat mudah menangani wanita itu jika dia sendirian Tuan, hanya saja ada beberapa pria yang selalu berkeliaran di dekatnya. Aku rasa Gubernur bodoh itu menjaga istrinya dengan sangat hati-hati. Buktinya wanita itu tidak tahu kalau dia di lindungi tanpa sepengetahuannya."
"Aku tidak perduli Sky. Jika wanita itu di lindungi tanpa sepengetahuannya maka kerahkan semua anak buah mu untuk menangkapnya. Surat ancaman yang Kau kirimkan untuk keluarga payah itu benar-benar tidak berguna, buktinya putri Alan Wijaya masih berkeliaran tanpa rasa takut." Ucap Abbas dengan nada suara tinggi.
"Aku merasa seperti orang bodoh, Aku tahu Aku seorang Mafia tapi tidak ada yang bisa Ku lakukan karena Aku memiliki anak buah tidak berguna." Sambung Abbas lagi, kali ini tangannya menghantam cermin yang ada di depannya.
__ADS_1
"Tu-tuan." Sky terlihat panik melihat tangan Tuannya mengeluarkan darah. Wajah tampan itu bahkan tidak merasakan sakit sedikit pun karena Ia tahu sakit hatinya jauh lebih besar.
"Siapa pria itu?" Abbas bertanya dengan mata menyala, dadanya terasa sesak. Rasanya Ia ingin segera meluluh lantakkan keluarga Alan Wijaya, secepatnya. Dendam lama masih belum terbayar lunas sehingga itu masih meninggalkan luka di lubuk hati terdalamnya.
"Refal Mahendra Shekar. Dia Gubernur saat ini, Tuan." Balas Sky dengan wajah datar.
"Haha!" Abbas terkekeh. Ia bahkan tidak memperdulikan nyeri yang ada di tangannya.
Sky yang melihat tingkah aneh Tuannya hanya bisa terdiam, Ia tidak berani berkomentar.
...***...
Rembulan!
Rembulan malam ini bersinar sangat terang, cahaya-nya sanggup mengusir resah dan gelisah yang saat ini di rasakan oleh seorang Matthew Adyamarta.
__ADS_1
"Hay Rembulan, apa kabar gadis impian ku? Cahayamu menembus setiap celah yang ada di hatiku, tolong sampaikan padanya kalau Aku rindu, merindukan dia sang Bidadari sempurna." Ucap Matthew sambil mengusap wajah tampannya dengan kasar.
Puhhhh!
Asap yang bersumber dari rokok yang di hisap Matthew terlihat memenuhi balkon Apartemen huniannya. Sungguh, dia bukan pecandu rokok. Hanya saja, saat hatinya gelisah Ia akan mulai menghisap sebatang rokok, berharap resahnya akan menguap keangkasa bersamaan dengan asap yang di keluarkan dari bibirnya. Sayang sekali, itu hanya angan-angan kosong tak berguna, bukan gelisahnya yang menghilang, malah sebaliknya rokok bisa saja membunuhnya. Miris.
"Tuhan... Jika kau benar-benar ada, tolong bantu Aku. Pertemukan Aku kembali dengan wanita itu, perasaan cinta ini membunuhku. Dan buruknya, Aku tidak ingin tiada dengan membawa perasaan ini." Keluh Matthew sambil mematikan rokoknya.
Waktu menunjukkan pukul 00.30, itu artinya seorang Matthew harus kembali berkutik dengan pekerjaannya. Sudah cukup Ia terbawa oleh arus cinta tak bertepi yang saat ini melumpuhkan akal sehatnya.
Cinta dan Dendam!
Dua kata itu memang berlawanan. Dengan cinta, hati kan merasakan ketenangan. Sementara dendam? Tak perlu lagi di tanyakan, karena banyak hal yang akan membuat kehilangan. Jika ada cinta di hatimu maka berbahagialah, jauhi permusuhan sekecil apa pun kemungkinannya.
Entah Takdir apa yang sudah menunggu Fazila, dua pria rupawan ingin memasuki kehidupan tenangnya, satu datang ingin membawa cinta, dan satunya lagi memaksakan diri ingin menciptakan derita.
__ADS_1
...***...