
Di sebuah pelataran Masjit, berdiri seorang wanita cantik sembari menanti kedatangan belahan jiwanya. Lima menit berlalu namun sosok yang ia rindukan belum juga menunjukkan batang hidungnya. Ada perasaan kecewa yang menelusup masuk memenuhi rongga dadanya. Sayangnya, ia tidak bisa mengungkapkan perasaan kecewa itu pada siapa pun karena tidak ada orang yang ia kenal di antara ribuan orang yang datang.
"Fazila."
Seseorang memanggil namanya dari belakang. Sontak, hal itu membuatnya menoleh kearah sumber suara. Fazila menganga, ia terkejut, ia takjub, dan ia merasa gembira.
"Matthew, kau ada disini?"
"Sedang apa?"
"Pakaian ini? Sejak kapan kau memakai pakaian seperti itu? Bukankah itu bukan gayamu?" Fazila menghujani Matthew dengan pertanyaan singkatnya.
Matthew yang di tanya hanya bisa tersenyum tampa bisa mengalihkan tatapannya dari wajah cantik Fazila. Ada kerinduan di hatinya, dan berkat yang Kuasa mereka bisa bertemu di tempat terindah dan terbaik di semesta. Yang membuat Matthew merasa bahagia, saat ini tidak ada yang berani mencegahnya masuk ke dalam tempat ibadah yang berupa bangunan indah yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri, yakni Masjit dengan arsitektur moderen dengan mengikuti gaya timur tengah.
"Kau terlalu banyak bertanya, tapi aku akan menjawab semua pertanyaanmu dengan suka rela. Sekarang jalan kita sama, dan aku baru saja selesai melaksanakan Shalat Duha di dalam. Entah kenapa aku merasa tenang.
Aku merasa di berkati dan aku tidak ingin kebahagiaan ini pergi dariku. Terima kasih untuk segalanya." Ujar Matthew sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada.
__ADS_1
"Alhamdulillah, aku merasa bahagia mengetahui kau saudara ku. Satu pesanku, tetaplah istiqomah di jalan yang kau ambil. Karena setahuku, istiqomah itu sangat sulit, terasa sulit karena kita mudah tergoda oleh gemerlapnya dunia." Ucap Fazila mengingatkan.
"Iya, aku tahu itu. Dan sekarang aku tidak perlu takut lagi. Karena sekarang aku berada di tempat terbaik. Tempat yang di inginkan oleh semua Manusia, Surga." Ucap Matthew menegaskan.
Kening Fazila berkerut tak percaya, ia masih belum mengerti makna di balik ucapan Matthew barusan. Dan saat ia akan membuka bibirnya, dengan cepat Matthew mengangkat jari telunjuknya, mengisyaratkan agar fazila tetap diam.
"Kau akan tahu makna ucapanku saat kau bangun. Sekarang bangunlah!" Ujar Matthew dengan senyuman seindah purnama.
"Semua orang merindukanmu. Jangan buat mereka menunggu terlalu lama." Sambung Matthew lagi.
Menunggu? Siapa yang ku buat menunggu? Fazila bergumam di dalam hatinya, ia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Matthew.
Dan tolong, katakan pada Mama dan Papa Dewa, sekarang aku baik-baik saja dan aku berada di tempat peristirahatan terbaik yang di inginkan oleh semua Manusia. Katakan juga pada mereka agar tidak perlu bersedih terlalu lama, Fatih akan menggantikan posisiku untuk menemani mereka seperti anak lelakinya.
Dan satu lagi, katakan pada si payah Refal agar selalu menjaga Fazilanya. Karena jika ia berani menyakitinya, akan ada ribuan pria seperti Matthew yang akan datang untuk menggantikan posisinya." Ucap Matthew panjang kali lebar.
"Kau menyebut suami ku payah? Aku tidak akan memaafkan-Mu!" Gerutu Fazila dengan sikap sok manjanya, dan ini untuk pertama kalinya ia bersikap seperti itu di hadapan pria selain Refal.
__ADS_1
Tidak ada balasan dari Matthew selain tawa lepasnya, ia bahkah sampai meneteskan air mata saking bahagianya karena berhasil menggoda Fazila. Sedetik kemudian, Matthew dan Fazila saling melambaikan tangan karena Refal sudah tiba untuk menjemput Fazila.
Perpisahan itu terasa nyata untuk Fazila yang saat ini masih terbaring di atas ranjang pasien, perlahan matanya mulai terbuka, menatap langit-langit kamar yang ia tempati selama dua pekan ini. Tatapan matanya masih buram, hingga ia tidak menyadari Refal yang saat ini duduk di sofa sembari membaca Al-qur'an.
"Pa-pak Gu-ber-nur!" Fazila memanggil Refal dengan suara nyaris tak terdengar. Iya, Refal tidak mendengar suaranya karena fokusnya masih tertuju pada Al-qur'an digital yang ada di tangannya.
"Pak Gub-ber-nur!" Kali ini Fazila memanggil dengan suara lebih keras dari sebelumnya.
Refal tersentak sampai ponsel yang ada di tangannya terjatuh kelantai. Menatap Fazilanya dengan mata yang sudah terbuka membuat seorang Refal Mahendra Shekar meneteskan air mata. Ia berjalan pelan dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya.
Dimana dia? Bukankah tadi kami sedang bicara? Batin Fazila sambil mengedarkan pandangannya, mencari sosok Matthew yang baru saja memintanya untuk segera bangun.
"Sayang, akhirnya kau siuman. Terima kasih!" Ujar Refal sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangannya. Fazila hanya bisa tersenyum tipis untuk menanggapi ucapan Refal.
Disini hanya ada Pak Gubernur. Apa tadi itu aku bermimpi? Iya, sepertinya itu hanya mimpi. Gumam Fazila lagi.
Dan disaat Matthew pergi meninggalkan kenangan indahnya, Fazila justru terbangun setelah melewati begitu banyak derita. Sesungguhnya, semuanya berasal dari Allah, dan hanya kepada Allah lah semuanya akan kembali.
__ADS_1
...***...