Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Di Apartemen (Matthew)


__ADS_3

"Iya, Ummi. Fatih tahu. Lagi pula kapan Fatih pernah berbohong pada Ummi? Tidak pernah, kan?" Fatih bertanya pada Umminya sambil keluar dari Lift, kemudian berjalan menyusuri lorong. Di tangan kirinya, Ia menenteng rantang berisi beberapa makanan untuk sarapan Matthew.


"Setelah Kau selesai dengan tugasmu, segera pulang."


"Iya, Ummi."


"Dan satu lagi, jangan lupa ajak Matthew pulang bersama-Mu karena sore ini kedua orang tuanya akan datang, Ummi yakin itu akan menjadi kejutan luar biasa untuknya. Kau paham?"


"Iya, Ummi. Fatih mengerti." Balas Fatih sambil berusaha membuka pintu apartement Matthew.


Setelah mengucapkan salam dan mengakhiri pembicaraannya dengan Ummi Fatimah, Fatih memasukkan ponselnya di saku. Ia tidak pernah menduga kalau Umminya akan bersikap seperhatian ini terhadap Matthew. Bahkan tanpa berpikir panjang Ummi Fatimah memaksa Fatih untuk mengantar sarapan ke Apartemen Matthew lantaran ponsel pemuda itu tidak bisa di hubungi sejak senja tiba.


"Haahh!" Karena terkejut Fatih bahkan tidak sadar kalau rantang yang ada di tangannya jatuh kelantai.


"A-apa ini? Apa tempat ini di rampok? Da-darah!" Wajah Fatih berubah, pucat.


"Bang Matthew dimana?" Saat Fatih akan berlari menuju kamar, tanpa sengaja kakinya menginjak air di lantai dekat sofa. Malang tak bisa di hindari, Fatih terjatuh dan kepalanya membentur kaki meja.

__ADS_1


"Auu! Kepalaku." Ujar Matthew sambil berusaha bangun. Perlahan Fatih berjalan sambil mengusap kepalanya yang masih terasa sakit.


"Oh my God. Apa tempat ini benar-benar di rampok? Bang. Bang Matthew, bangun bang." Fatih berusaha menggoyang tubuh Matthew namun sayangnya tidak ada tanggapan.


"Air, iya. Aku butuh air."


Setelah mengambil air Fatih langsung memercikkannya di wajah pucat Matthew. Untungnya Matthew langsung merespon.


"Apa yang terjadi? Kenapa Bang Matthew sekacau ini? Apa tempat ini di rampok?" Fatih bertanya sambil membantu Matthew berdiri.


"Tidak perlu mengatakannya, wajah Bang Matthew sudah menjelaskan segalanya. Apa ini masalah cinta?" Fatih sok menebak.


"Ummi memintaku melihat kondisi Bang Matthew, Ummi sangat khawatir karena ponsel bang Matthew tidak bisa di hubungi. Aku yakin, jika kita pulang sekarang Ummi pasti akan terkejut.


Pertama-tama bersihkan diri Bang Matthew dulu, setelah itu kita akan kembali ke Mansion. Aku tidak ingin Ummi memarahiku lantaran membiarkan Bang Matthew terlihat menyedihkan."


"Terima kasih." Matthew mulai membuka suara di antara senyapnya udara. Ia tersenyum namun senyum yang di paksakan.

__ADS_1


"Apa Aku benar? Apa ini karena cinta?"


Tidak ada balasan dari Matthew selain anggukan kepala pelan.


"Bang Matthew tidak perlu menyiksa diri, dalam urusan cinta, kita memang mudah sekali terluka. Aku jadi penasaran, gadis seperti apa yang membuat Bang Matthew sekacau ini."


Matthew menatap Fatih dengan tatapan tak terbaca, nafasnya terdengar berat. Menandakan pedihnya penolakan semalam masih menguasai raganya.


"If Allah does not like it. Why would you think it will bring you happiness?" Fatih bertanya sambil balas menatap netra Matthew yang memerah. Kesedihan mendalam nampak jelas disana.


"Bang Matthew tahu? Dulu Ummi sangat membenci Abi. Mereka bahkan terpisah selama delapan tahun lamanya, sampai akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali.


Karena jodoh makanya bertemu. Jadi, Aku hanya ingin mengatakan, Bang Matthew tidak perlu menyiksa diri gara-gara cinta. Jika Tuhan berkehendak, Bang Matthew dan wanita itu pasti bersatu." Ucap Fatih meyakinkan.


Mendengar ucapan Fatih, Matthew hanya bisa menghela nafas kasar, dalam dirinya masih ada harapan, namun lagi-lagi Ia tersadar kalau harapan itu tidak pernah ada. Baik kemarin atau pun hari ini.


Tuhan... Bagaimana caraku agar bisa bangkit dari rasa sakit ini? Gumam Matthew sambil beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


...***...


__ADS_2