Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Rahasia? (Matthew)


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 01.30 namun buruknya, sosok rupawan itu masih saja duduk di sofa tanpa mau melepas gelas minuman beralkohol dari tangannya. Ia terluka, Ia kecewa, Ia marah, Ia merasa sesak, namun menyedihkannya, Ia tidak memiliki teman yang bisa di andalkan untuk berbagi kisah pilunya. Semua ini terlalu menyakitkan. Lalu, apa gunanya teman puluhan juta yang ada di sosial medianya? Dan, apa gunanya popularitas yang Ia sandang jika popularitas itu tidak bisa mendatangkan bahagia saat dirinya merasa terpuruk. Ia ingin bangkit, tapi bagaimana caranya?


"Huh!"


Seseorang yang berdiri di dekat sofa yang Matthew duduki terlihat membuang nafas kasar, Ia tidak menyangka akan melihat pemandangan menjijikkan di depannya. Seumur-umur, untuk pertama kalinya Ia menginjakkan kaki di tempat yang tidak ingin Ia hadirkan walau di dalam mimpi sekalipun.


"Maaf, Mas. Ini ponsel Tuan ini!" Ucap salah seorang pelayan wanita sambil menyodorkan benda pipih itu.


"Kalau boleh tahu, anda siapa?" Tanya pelayan itu lagi. Wajah wanita muda itu di poles dengan make up tebal, pakaiannya terlihat kurang bahan. Rok selutut namun masih bisa memperlihatkan paha mulusnya, di tambah dengan baju yang menunjukkan tonjolan dadanya membuat Fatih menatap kearah lampu yang ada di atas kepala Matthew.


"Adik. Aku adiknya." Balas Fatih cepat. Ia tidak ingin berada di tempat ini walau untuk sesaat. Sungguh, Fatih terlihat tidak nyaman. Berada di tempat yang mempertontonkan kemolekan wanita dan di tambah suara musik keras membuatnya merinding.


"Aku akan membayar tagihannya, dimana aku bisa melakukan itu?" Fatih bertanya dengan kepala tertunduk.


Fatih bukannya bersikap sok alim. Hanya saja, menghabiskan setengah hidupnya dengan Kakak perempuannya yang seorang Hafizah Qur'an membuatnya faham mana yang boleh di lakukan dan mana yang tidak boleh di lakukan.


"Disana, Tuan!" Tunjuk wanita muda itu. Tak ingin berlama-lama, Fatih langsung beranjak menuju tempat yang dimaksud. Ia membayar sejumlah uang kemudian menuntun Matthew meninggalkan clab malam.


Tiga jam!


Fatih menghabiskan waktu tiga jam untuk bisa sampai di Apartemen Matthew, tempat tinggal yang cukup besar untuk seukuran Matthew yang tinggal sendirian.


"Hmm!" Fatih menghela nafas kasar begitu Ia selesai membaringkan tubuh jangkung Matthew di ranjang berukuran besar. Untuk pertama kalinya Fatih menghadapi kekonyolan orang yang mabuk. Saat dalam perjalanan, Ia terpaksa menghentikan mobil yang Ia kendarai tiga kali berturut-turut karena Matthew mulai muntah-muntah.


"Aku tidak bisa pulang! Jika aku nekat melakukan itu, Ummi pasti akan menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan bisa ku jawab."

__ADS_1


"Iya, sebaiknya aku menginap saja. Aku harus menyiapkan alasan yang tepat agar Ummi tidak memarahiku karena meninggalkan rumah tengah malam." Sambung Fatih lagi sambil berjalan kearah sofa dan berbaring disana.


...***...


Waktu terus berputar, dan saat ini jarum jam menunjukkan tepat di angka sembilan, entah karena hobi tidur atau justru karena masih merasakan pusing, Matthew tertidur sangat pulas.


Di sofa dekat ranjang, duduk Fatih sambil menatap kesal ke arah ranjang. Berjam-jam menunggu namun tidak ada tanda-tanda Matthew akan terbangun.


"Ummi menelpon di pagi buta, memarahiku lantaran takut aku akan melewati Shalat Subuh. Dan disini, lihatlah diriku...!" Ujar Fatih sambil melipat kedua lengan di depan dada.


"Aku menunggunya terbangun seperti orang bodoh. Mulai hari ini aku akan memanggilnya..." Ucapan Fatih tertahan di tenggorokannya, Ia melihat Matthew menggeliat dan perlahan mulai membuka mata. Pesona indah seorang Matthew Adyamarta tampak jelas saat Ia baru bangun.


"Mmm! Apa yang kau lakukan, disini?" Matthew mulai bertanya setelah Ia tersadar sepenuhnya. Tangan kanannya memijit kepala, entah Ia merasa pusing atau tidak, Fatih tidak bisa menebaknya. Yang jelas, Ia akan mendapatkan masalah karena hari ini absen di kelas Kakak perempuannya, Meyda Noviana Fazila.


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa Bang Matthew menarikku ke tempat ini? Gara-gara Bang Matthew aku akan mendapatkan semprotan pedas dari dua wanita yang sangat ku sayangi. Maksudku, Ummi dan Kak Zii akan memarahiku." Gerutu Fatih sambil berjalan pelan mendekati Marthew kemudian duduk di sisi kanan ranjang.


Tidak ada jawaban dari lisan Fatih selain anggukan kepala pelan, dan matanya menatap tajam. Seolah tatapan itu menjelaskan Ia merasa kecewa dengan tinggah Matthew, sosok baik yang Ia anggap seperti Kakak sendiri.


"Sekarang katakan, kenapa Bang Matthew datang ketempat itu? Minum-minuman keras? Wahhh, aku tidak percaya itu." Gerutu Fatih lagi, Ia berjalan kemudian berdiri di dekat lemari.


Matthew yang mendengar ocehan Fatih tampak pasrah, Ia tidak menyangka akan mendengar omelan begitu Ia membuka mata.


"Aku merasa berada di ruangan yang sama dengan Mama, kenapa kau mengomeliku?"


"Tidak, Bang Matthew. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya..."

__ADS_1


"Aku bertengkar dengan Mama. Aku kesal, lalu aku berusaha melupakan segalanya dengan cara menenggak minuman berakkohol. Bagiku, itu satu-satunya cara untuk menenangkan diri. Aku merasa masalah datang silih berganti. Dan di titik ini, jika aku tidak melampiaskan kekesalanku dengan..."


"Dengan minum minuman keras?" Tanya Fatih dengan suara lantang, netranya membulat tak percaya.


"Apa sekarang Bang Matthew merasa baikan?"


"Atau, justru sekarang Bang Matthew merasa sesak, dan tak ingin hidup lagi?"


"Sungguh, jika kak Zii mendengar apa yang Bang Matthew ucapkan barusan, dia pasti akan merasa kecewa pada dirinya sendiri, Ia merasa seolah telah gagal menjadi teman yang baik. Dan saat ini aku merasakan perasaan itu." Sambung Fatih lagi, wajah tampan itu memamerkan kekecewaan. Sungguh, ia pantas kecewa. Melihat langsung bagaimana Matthew menghabiskan malam beratnya setelah minum-minuman beralkohol membuat Fatih sadar kalau hidupnya terasa hampa tanpa bimbingan Kakak perempuannya, Fazila.


Deg.


Matthew merasa seolah kepalanya di timpuk batu besar, Ia sadar. Ternyata wanita impiannya lebih sempurna dari apa yang ada dalam benaknya. Kini Ia pun merasa kerdil di hadapan cinta itu sendiri. Berani sekali Ia jatuh cinta pada Bidadari Surga sementara dirinya tak lebih dari butiran debu yang tak berarti, itulah yang Matthew pikirkan tentang dirinya saat ini.


"Sekarang katakan, apa yang membuat Bang Matthew bertengkar dengan Nyonya Dewa?Jika terasa berat untuk menguraikannya, maka jangan katakan apa pun. Biarkan semuanya menjadi rahasia."


"Apa kau bisa berjanji tidak akan mengatakannya pada siapa pun?" Matthew bertanya sambil menatap wajah penasaran Fatih.


"Jika Bang Matthew merasa ini rahasia, maka aku janji tidak akan mengataknya pada siapa pun. Ini janji antara laki-laki, akan tersimpan sampai aku mati." Balas Fatih penuh percaya diri.


"Baiklah, akan ku katakan."


"Sebenarnya, aku jatuh cinta pada seorang gadis cantik penyejuk mata, Mama tidak suka itu dan aku pun tidak bisa mengendalikan hatiku untuk tidak mencintainya." Ucap Matthew memulai kisahnya. Kepalanya tertunduk, Ia prustasi. Sungguh, saat ini Ia merasa ketakutan. Ia takut Fatih akan bersikap kasar padanya jika Ia memberitahukan siapa gadis yang di cintainya.


Baiklah, aku akan mengatakan segalanya. Jika membuka rahasia yang di sembunyikan hatiku akan mendatangkan masalah, maka tidak apa-apa. Aku tidak perduli jika Fatih meninju wajahku setelah mengetahui dengan siapa aku jatuh cinta. Batin Matthew sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


...***...


__ADS_2