
"Kenapa? Apa kedatangan Papa mengganggumu? Katakan saja, Papa janji Papa akan pergi!" Ujar Tuan Anton tanpa melepas tatapan sedihnya dari wajah putra sulungnya.
"Masuk, Pa. Ayo duduk." Refal Berjalan mendekati Papanya kemudian mengambil bawaan dari tangan Papanya, Refal sendiri tidak tahu kenapa Papanya datang kekantornya selarut ini. Tidak mungkin kan hanya untuk minum kopi? Walau Refal yakin ada maksud tersembunyi, dia tidak akan berani mengatakan apa pun.
Saat ini Refal di penuhi tanda tanya. Ia sendiri tidak tahu harus bertanya dari mana, Papanya orang yang cerdas, walau tidak memaksa seperti Mamanya tapi ucapan Papanya tetap saja akan menggiringnya menuju hal yang di perintahkan oleh Mamanya.
Semoga ini bukan tentang gadis itu! Batin Refal sambil duduk di sofa depan Papanya.
"Jika di pikir-pikir ini kunjungan pertama Papa di kantor Gubernur setelah sekian lama. Bagaimana pekerjaan mu? Apa kau masih menyukainya?" Tuan Anton mulai membuka suara, pertanyaannya memang sederhana. Namun bagi Refal ini bukanlah hal yang bisa ia jelaskan dengan mudah, karena ini menyangkut perasaannya.
Tidak ada balasan dari Refal selain anggukan kepala dan senyuman tipis yang coba ia paksakan. Sayang sekali, sekeras apa pun ia berusaha berpura-pura, ia tidak akan bisa menyembunyikan perasaannya karena dia, Refal Mahendra Sekar tidak pandai dalam menyembunyikan perasaannya. Amarah yang kadang tak bisa terkendali selalu saja mewakili perasaan sedih dan kesalnya.
"Haha! Kau sama seperti Papa. Kau tidak akan bisa membohongi Papa, jadi bersikaplah seperti biasa." Ujar Tuan Anton sambil menyodorkan segelas kopi panas yang di belikan sopirnya di kafe dekat lampu merah.
"Hhm! Papa benar, kita sama dan aku pun tidak akan bisa membohongi Papa." Ucap Refal mengalah, ia melepaskan semua sikap kepura-puraannya sambil mengambil kopi yang di berikan Papanya, Tuan Anton.
"Sudah dua bulan kau tidak pulang kerumah, apa rumah dinas mu lebih nyaman di banding rumah Mama dan Papa?" Tuan Anton kembali membuka suara, kali ini dengan suara yang cukup berat. Suaranya bahkan di barengi dengan raut wajah memelas.
"Rumah Mama dan Papa seribu kali, bahkan berjuta-juta kali lebih nyaman di bandingkan rumah dinas yang Refal tempati saat ini. Papa tahu sendiri, kan? Aku tidak suka memperlihatkan wajah sedih ku, jadi bersabarlah dengan tingkah laku ku, Pa. Sama seperti aku bersabar jauh dari kalian." Jawab Refal setelah ia menyeruput kopi hangatnya. Ia kembali menatap netra teduh Papanya sambil memperbaiki posisi duduknya.
__ADS_1
Untuk sesaat, kantor Refal terasa sangat sunyi. Yang terdengar hanya helaan nafas kasar Tuan Anton, semakin lama semakin membuat Refal merasa bersalah.
"Sekarang katakan, apa yang membuat Papa jauh-jauh datang ke kantor Gubernur? Dalam perjalanan kemari, Refal yakin Papa pasti terjebak kemacetan panjang.
Jangan di jawab jika Papa tidak punya jawaban, dan jangan mencoba membuat alasan karena Refal tahu Papa tidak pandai berbohong, sama seperti Refal." Ucap Sang Gubernur muda seraya menatap langit-langit kantornya. Ia bahkan tidak berani menatap wajah tampan Papanya karena ia terlalu takut Papanya akan mudah mahami gejolak di hatinya.
"Kau sangat pandai bermain kata-kata, seharusnya Papa yang mengatakan itu padamu. Maksud Papa, kenapa kau tidak berani menemui Mama dan Papa sementara Papa berani menemui mu disini?
Kemarahan tadi, apa alasannya? Apa kau pikir yang masuk itu Asistenmu karena itu kau bicara dengan nada tinggi? Atau kau sudah tahu Papa yang datang karena itu kau berteriak karena kau marah pada Papa, marah karena Papa tidak bisa menghentikan Mama mu mendekati keluarga Tuan Alan?"
"Itu tidak benar, Pa." Balas Refal cepat, ia tidak ingin Papanya berpikiran buruk tentang dirinya.
"Hhm! Papa tidak bisa membantumu dalam hal itu, mendengar ucapan mu membuat Papa menyadari ternyata putra Papa berada di titik tidak bisa di jangkau." Tuan Anton kembali menghela nafas kasar. Nalurinya sebagai orang tua membuatnya merasakan kesedihan yang sama sebesar kesedihan yang di alami putranya.
Tekanan pekerjaan dan tekanan perasaan adalah dua hal berbeda. Jika menyangkut pekerjaan mungkin itu hal biasa. Namun jika menyangkut hati, itu tak kan mudah.
"Saran termudah yang bisa Papa berikan untuk mu, jangan terlalu larut dalam duka itu. Cinta dan air mata mungkin hal biasa dalam usia mu, tapi saat kau berada di usia Papa, kau akan menyesali kenapa kau sampai menyia-nyiakan waktu untuk meraih bahagia.
Kau tahu, kan? Papa tidak pernah memaksamu melakukan apa pun yang kau inginkan. Kau juga tahu Papa selalu ada untuk mu, maka kali ini dengarkan Papa. Temui gadis itu dan putuskan apa kau ingin bersamanya atau tidak.
__ADS_1
Jika di nadimu masih mengalir denyut kecewa maka biarkan dia menjadi obat dari segala lukamu." Tuan Anton kini berjalan dan duduk di sisi kanan Putra kesayangannya, Refal Mahendra Sekar.
Sementara Refal? Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisannya. Ia masih mencerna setiap huruf yang dirangkai menjadi kata-kata oleh Papanya. Nasihat sederhana namun menyimpan banyak harapan di dalamnya.
"Waktu terus berlalu, cinta kian berdebu, sisa luka mengajarkan keikhlasan, dan di antara waktu yang masih tersisa kau masih saja berteman dengan kehilangan dan tumbuh bersama hampa." Tak henti-hentinya Tuan Anton mencecar Refal dengan nasihat mendalamnya.
"Kau masih bisa bahagia, masih bisa tertawa dan menemukan cinta. Papa tetap berharap kau tidak akan hilang dalam dukamu sendiri. Karena kami, Mama, Papa dan kedua adik mu ada bersama mu." Tutup Tuan Anton dengan suara pelan, ia menepuk bahu kekar Refal tanpa melepas senyuman dari wajahnya.
"Terima kasih, Pa. Kedatangan Papa malam ini sangat berarti untuk Refal.
Papa tahu sendiri, Refal belum bisa menerima wanita mana pun selain Hilya. Tumpukan pekerjaan dan masalah perasaan yang masih belum selesai membuat Refal tidak ingin mengenal gadis mana pun.
Walau berat, Refal akan usahakan. Refal akan menemui gadis itu seperti keinginan kalian. Tapi ingat, jangan paksa Refal untuk menerima hubungan ini. Refal tidak ingin menyakiti anak gadis orang saat dia bisa bahagia dengan pria lain." Kali ini Refal bicara dengan nada suara penuh penekanan.
"Okay, deal. Kami tidak akan memaksa. Kami hanya ingin kau bahagia." Sahut Tuan Anton setelah ia berhasil menyakinkan Refal.
Refal kembali menyeruput kopinya yang masih tersisa setengah di atas meja, karena terlalu serius menanggapi ucapan Papanya, ia bahkan sampai lupa menanyakan kabar adik-adiknya.
...***...
__ADS_1