
Lima menit berlalu namun tidak ada ucapan yang keluar dari lisan Refal maupun Fazila. Mereka benar-benar menikmati waktu berduanya tanpa ada gangguan dari siapa pun. Padahal tadi, Ummi Fatimah meminta Refal menginap di Mansion Wijaya, namun dengan tegas ia menolak permintaan itu karena Ia merindukan moment dimana dirinya dan Fazila duduk bersama sambil berbagi cerita.
"Pak Gubernur yakin ingin bertanya, tentang apa?"
"Tanyakan saja!" Fazila mengendorkan kedua lengannya dari tubuh kekar sang Gubernur tampan kesayangannya.
"Yakin tidak akan marah?"
"Mmm!" Balas Fazila singkat. Kedua tangannya menangkup wajah tampan Refal yang mulai di tumbuhi bulu-bulu halus.
"Memangnya apa yang membuat Refalku merasa terganggu? Tanyakan apa pun yang kau inginkan, Insya Allah aku tidak akan marah." Sambung Fazila lagi, ia kembali memeluk Refal sambil memejamkan mata di dada telanjang sang Gubernur tampan, Refal Mahendra Shekar.
"Aku minta maaf!"
"Minta maaf? Untuk apa?"
"Untuk tingkah kekanak-kanakanku kemarin." Jawab Refal penuh penyesalan, Ia menghela nafas kasar namun tangannya tak bisa diam, ia terus mengusap kepala Fazila, mencoba menepis resah yang menyelimuti jiwanya.
__ADS_1
"Kemarin Bima mengirimkan rekaman CCTV di depan toko kue, kejadian saat pria kurang ajar itu berani mengganggumu.
Aku melihat kejadian sebenarnya, aku merasa bersalah karena telah membentakmu di kantorku. Dan malam ini..." Ucapan Refal tertahan di tenggorokannya.
"Dan malam ini kau melihatnya di rumah Abi, kau merasa kesal namun kau tidak bisa menghukumnya. Apa aku benar?"
"Iya. Tebakanmu benar." Balas Refal, ia terlihat menghela nafas kasar.
"Fazilaku terlalu cerdas sampai aku tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya." Aku Refal, Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Rasa cemburu hampir saja membuat hubungannya dengan Fazila berantakan, ia kesal tentang masalah itu namun buruknya ia tidak bisa mengungkapkannya.
"Aku memilikimu sebagai pasangan halalku. Jadi, sekuat apa pun badai yang datang dalam hubungan kita, aku akan tetap berdiri disampingmu karena kau milikku dan aku hanya milikmu. Hari ini, lusa dan selamanya. Pak Gubernur, mengertikan maksudku?" Kali ini Fazila menatap netra teduh Refal, mencoba mencari jawaban disana sembari menangkup wajah tampan itu dengan kedua jemarinya.
"Mmm! Aku mengerti, aku sudah mendapatkan semua jawaban yang ku inginkan. Kini aku tidak menyimpan keraguan lagi walau keraguan itu sekecil apa pun."
"Baiklah. Karena Refalku sudah mengerti, apa sekarang kita bisa tidur?"
"Aku sangat, sangat mengantuk!" Fazila berucap sambil memamerkan wajah cemberut. Padahal dalam hatinya, Ia hanya ingin mengahabiskan seluruh waktunya dengan Refal baik dalam keadaan terlelap ataupun terjaga.
__ADS_1
Refal berdiri dari sofa yang Ia duduki sejak setengah jam yang lalu, berjalan menuju ranjang sambil menggendong Fazilanya.
"Selamat malam, jangan lupa mimpikan aku dalam tidurmu." Refal berusaha menggoda Fazila tanpa melepas senyum menawan dari wajah tampannya.
Bukannya balas menggoda Refal, Fazila malah bersikap nakal dengan mencium bibir selembut kapas milik suaminya.
"Kau menggodaku?"
"Tidak!" Ucap Fazila pelan. Sebenarnya, ia sedang berusaha keras untuk tidak menunjukkan senyumannya.
"Lalu apa yang kau lakukan?" Refal bertanya, ia mencubit hidung bangir istrinya.
"Aku hanya...!" Ucapan Fazila tertahan di tenggorokannya karena secepat kilat Refal menyupal bibir Fazila dengan bibirnya. Sungguh, tidak ada pergerakan dari Fazila karena dia sendiri menikmati moment indahnya bersama sang Gubernur tampan pujaan hatinya.
Cinta adalah hasrat tiada batas dari gejolak hati tiada tertahankan. Cinta adalah puisi, dan makna-maknanya keluar dari hati. Cinta adalah satu-satunya bunga yang dapat tumbuh dan berbunga tanpa bantuan musim. Dan biarlah kita jatuh cinta dan biarkan pula waktu yang mengujinya. Refal bergumam di dalam hati sambil perlahan membuka kain penutup kepala Fazila.
...***...
__ADS_1