Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Jadikan Aku Kekuatan (Fazila)


__ADS_3

Di mana ada cinta disitu ada kehidupan, berbeda dengan kebencian yang selalu membawa pada kemusnahan. Dimana ada cinta disitu pasti ada kebahagiaan, dan dimana ada kebencian maka disana pasti akan ada kegelapan yang membawa menuju kehinaan yang tidak ada batasnya. Maka jangan biarkan hatimu di penuhi oleh kebencian seberat apa pun duka yang datang menyapa.


"Kalian ada disini? Umi pikir kalian belum bangun karena itu Ummi meminta Fatih memanggil kalian." Ujar Ummi Fatimah begitu Fazila, Fatih dan Refal ada di depannya.


"Ummi, bukankah Ummi sudah tahu kalau Kakak selalu bangun lebih awal di bandingkan dengan ku? Lalu untuk apa Ummi mengutusku memanggil Kakak? Aku sendiri bingung kenapa aku bangun sepagi ini!" Ucap Fatih dengan wajah memelas. Sementara tangan kirinya bergerak meraih makanan di atas meja.


Pletakkk!


"Aauu! Sakit Ummi." Fatih menyebikkan bibirnya sambil menatap tangannya yang di tepuk Kasar oleh Ummi Fatimah.


"Haha! Rasain, bandel sii." Bukannya bersimpati, Fazila malah terkekeh setelah meledek adik tersayangnya.


"Bukankah Ummi selalu bilang, gunakan tangan kananmu untuk makan dan minum. Hal sederhana itu saja selalu kau lupakan." Ujar Ummi Fatimah sambil menatap wajah merunduk Fatih. Merunduk penuh penyesalan.


"Maafin Fatih, Ummi. Fatih janji Fatih tidak akan mengulanginya lagi."


Refal yang melihat kehangatan keluarga kecil Fazila hanya bisa tersenyum tipis. Sejujurnya ia tidak tahu kenapa Ummi Fatimah menepis tangan Fatih, namun ia lebih memilih tidak menanyakan apa pun karena ia tahu ia akan terlihat bodoh di depan keluarga istrinya jika sampai melakukan itu.


"Jangan pernah berjanji jika kau tidak bisa menepatinya, Ummi benci mendengar janji palsu. Sekarang katakan, sudah berapa kali kau berjanji karena masalah ini?" Ummi Fatimah bertanya pada Fatih sambil meletakkan piring yang di penuhi oleh makanan di depan putra nakalnya itu.


"Sekarang janji yang kesembilan!" Ucap Fatih menyesal.


"Jika itu hanya sekali atau dua kali, Ummi bisa simpulkan sebagai ketidak sengajaan. Tapi jika itu sampai berkali-kali maka namanya bukan lagi ketidak sengajaan tapi di sengaja. Untuk melepaskan diri dari rasa bersalah kau malah berjanji pada Ummi, dan buruknya itu hanya janji palsu." Celoteh Ummi Fatimah lagi.


"Maaf Ummi." Fatih meminta maaf lagi, dan ini untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Tidak ada balasan dari Ummi Fatimah selain menganggukkan kepala, ia mengelus pundak Fatih penuh kasih sayang.


"Ada apa ini? Kenapa semua orang diam? Apa Nak Refal betah disini?" Pak Alan bertanya begitu ia sampai di depan meja makan.


"Iya, Bi." Jawab Refal sambil tersenyum kearah Ayah Mertuanya.


"Kenapa Abi lama sekali? Apa ada masalah?" Kali ini Fazila yang angkat bicara, menatap wajah tidak bersemangat Abinya membuat Fazila tidak sabar ingin mendengar penjelasan di balik wajah tidak semangat itu.


"Tidak, Sayang. Ini bukan masalah besar. Hanya saja, ada salah satu karyawan Abi yang melakukan tindakan pencurian. Dia meninggalkan surat pengunduran diri dan kabur membawa uang yang seharusnya di berikan pada rekan bisnis kita di Bali.


Tadi Nak Matthew menelpon dan mengatakan ada kejanggalan dalam kontrak yang di berikan asistennya. Dia bilang dia akan kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan urusan di Bali.


Ini memang cukup mengejutkan, walau demikian Abi tidak bisa tinggal diam. Abi harus menyelesaikan masalah ini sampai keakar-akarnya. Abi benci pada orang yang sudah Abi beri makan kemudian balas menggigit." Ucap Tuan Alan sambil meraih gelas air mineral yang ada di sisi kanannya.


Sedetik kemudian, semua orang tampak diam. Sibuk menyantap makanan masing-masig, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang saling bersahutan.


...***...


Setelah sarapan, Refal dan Fazila memilih berpamitan pada Ummi dan Abinya. Biasanya Fazila akan meninggalkan Mansion Wijaya mengendarai Motor matik-nya. Tapi kali ini berbeda, Fazila duduk di mobil Refal dalam mode senyap.


"Apa aku boleh bertanya?" Ucap Refal memecah keheningan.


"Silahkan!" Balas Fazila singkat.


"Kenapa Ummi memarahi Fatih? Aku tidak bisa mengatakan apa pun, karena ini memang pertama kalinya aku sarapan dengan orang lain selain Mama, Papa, dan kedua adik ku." Sambung Refal lagi.

__ADS_1


"Aaa... Soal Ummi menepis tangan Fatih?"


Refal mengangguk dalam diam. Pertanyaan Fazila memang sederhana namun itu sudah cukup membuatnya terlihat penasaran, ia penasaran kenapa Ibu mertuanya terlihat kesal.


"Ummi wanita berhati lembut, beliau mendidik kami dengan penuh kasih sayang. Ummi juga tidak pernah memaksa kami melakukan hal yang tidak kami inginkan, Ummi tidak pernah membanding-bandingkan kami dengan siapa pun. Ummi hanya ingin aku dan Fatih tumbuh menjadi anak yang tidak melewati batasan." Ucap Fazila sambil menghadirkan wajah cantik Umminya di benaknya.


"Ummi selalu mengajari kami melakukan apa pun tanpa melepas ajaran yang sudah kami terima sejak kami kecil. Dan hari ini..." Ucapan Fazila tertahan di tenggorokannya. Ia menatap Refal sambil tersenyum tipis. Senyuman yang berhasil membuat Refal panas dingin.


"Hari ini Fatih mencoba menggunakan tangan kirinya untuk makan, Ummi sangat membenci hal itu.


Bukan berarti Ummi membatasi ruang gerak kami. Hanya saja, sebagai seorang yang mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, aku dan Fatih tahu dalam Islam kita di anjurkan untuk makan dan minum menggunakan tangan kanan. Sesungguhnya Setan makan dengan tangan kirinya dan Minum dengan tangan kirinya. Ummi hanya ingin kami tidak melakukan hal yang buruk sebagai kebiasaan." Tutup Fazila menjelaskan hal sederhana yang membuat Umminya menepis tangan adik lelakinya.


"Terima kasih untuk penjelasannya, sesungguhnya aku juga sering menggunakan tangan kiriku untuk Makan dan Minum jika aku sedang sibuk.


Iya, ku akui tidak setiap hari, yang jelas aku sering melakukannya karena itulah aku sedikit terkejut melihat reaksi Ummi." Ujar Refal tanpa melepas tatapannya dari wajah cantik Fazila.


"Abi tidak pernah ragu menceritakan masalah pekerjaannya pada Ummi. Karena Abi tahu Ummi akan memberikan solusi yang tepat dan juga cepat.


Selama ini Ummi berperan sebagai istri yang selalu ada untuk Abi dalam segala hal, dan aku juga menyadari Ummi menjadi kekuatan yang paling mendasar untuk Abi.


Jika suatu hari nanti Pak Gubernur harus memilih antara aku dan pekerjaan, maka pilihlah pilihan yang tidak akan menyulitkan Pak Gubernur. Aku juga ingin menjadi kekuatan dan bukan menjadi kelemahan untuk Pak Gubernur." Ucap Fazila panjang kali lebar, kali ini ia memberanikan diri menggenggam jemari Refal, dan ini untuk kesekian kalinya ia menyentuh pria yang saat ini menjadi suaminya


Semoga Pak Gubernur tidak kesal padaku. Aku hanya ingin membiasakan diri dengan kehadirannya. Batin Fazila tanpa melepas senyuman menawan dari bibir tipisnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2