
"Apa kita boleh melakukan ini?" Refal bertanya sambil mengeratkan kedua lengannya di pinggang ramping Fazila.
"Melakukan apa?"
"Iya, melakukan ini!"
"Maksud Pak Gubernur memelukku? Jika itu pertanyaannya maka jawabannya sangat sederhana, Pak Gubernur boleh melakukan apa pun yang Pak Gubernur inginkan. Tidak akan ada yang marah. Termasuk aku." Ucap Fazila dengan suara pelan. Bibir tipisnya mengukir senyuman, senyuman menawan.
Refal yang mendengar ucapan Fazila hanya bisa tersenyum tipis. Dadaya berdebar sangat cepat, untunglah Fazila tidak mengatakan apa pun.
"Aku tahu masih ada kecanggungan di antara kita berdua. Kita sudah menikah dan aku tidak tahu apa pun tentang Pak Gubernur, kecuali apa yang pak Gubernur ceritakan di malam pertama pernikahan kita. Sama halnya dengan ku, Pak Gubernur juga tidak tahu apa pun tentang diriku.
Anggap saja kita masih pacaran, dan kita akan memulai segalanya pelan-palan.
Jadi, hal pertama yang harus kita lakukan agar semakin dekat, kita harus membiasakan diri untuk memanggil nama. Bagaimana Re-fal?" Fazila menarik diri dari tubuh kekar Refal, ia menatap wajah Refal dengan tatapan yang sulit di artikan.
Refal!
Fazila bahkan tidak bisa menyebut nama itu tanpa merasakan gugup. Bagaimana tidak, dia mengenal Refal kurang dari tiga bulan, dan sekarang pria rupawan itu menjadi pendamping hidupnya. Semuanya masih terasa bagai mimpi.
"Haha. Aku suka itu, Nona Fazila. Aah maafff, maksudku Fazila, kau bisa mamanggilku dengan cara apa pun yang kau inginkan." Ujar Refal sambil mencubit hidung bangir Fazila, seolah hidung imut itu menjadi candu baru baginya.
Tok.Tok.Tok.
"Ada yang datang!" Ucap Fazila sambil merapikan kain penutup kepalanya. Pasmina-nya terlihat berantakan karena Refal terus saja mengusap kepala Fazila.
"Masuk." Ucap Fazila lagi.
"Kak Zii, ada yang mencari Kak Zii. Katanya dari pihak Radio." Ucap Maya begitu ia masuk kedalam kamar Fazila yang sekaligus ia rangkap menjadi ruang kerjanya selama berada di Rumah Hafidz.
"Pihak Radio?" Fazila bertanya dengan wajah heran, sorot matanya memancarkan kalau dia merasa kesal.
__ADS_1
"Katakan padanya, Kakak akan segera datang. Kau bisa pergi sekarang!" Fazila memerintah Maya sambil menepuk bahu gadis itu pelan.
"Pihak Radio, apa maksudnya?" Refal bertanya sambil menatap wajah kesal Fazila.
"Aku selalu berusaha mengisi waktu ku dengan hal positif sehingga apa yang kulakukan akan tetap bernilai ibadah.
Setiap pagi, aku berangkat kekampus dan mengajar hingga siang. Kemudian sorenya, aku menyibukkan diri dengan membantu anak-anak menghafal Al-Qur'an.
Malamnya, setelah salat Isya, aku akan berangkat menuju ruang siaran. Membagi apa yang bisa ku bagi dengan semua orang di luar sana. Dan yang membuat ku kesal dengan pihak Radio, mereka dengan sadar memintaku melepas Hijab dengan alasan semua penyiar tidak di perbolehkan menggunakannya.
Aku sendiri bingung, kenapa mereka mempermasalahkan Hijabku padahal aku telah bergabung bersama mereka selama satu tahun."
"Apa Fazila ku kesal?" Refal bertanya sambil memegang kedua pundak Fazila. Tatapan mereka bertemu untuk sekian detik saja, dan di detik selanjutnya, Fazila mulai merunduk untuk mengalihkan kalau dia masih sangat kesal jika mengingat Pihak Radio yang berusaha semena-mena.
"Tentu saja aku kesal, mereka memintaku melakukan hal yang tidak pantas dia ucapkan. Dia berani memintaku melepas identitasku sebagai seorang Muslimah, jika saja aku tidak berusaha menahan amarahku saat itu, aku yakin aku pasti akan mematahkan lengan orang-orang menyebalkan itu." Gerutu Fazila sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Haha. Ternyata Fazila ku sangat manis jika sedang marah. Tapi sayangnya..." Refal menggantung kalimatnya, ia tampak berpikir sebetar.
"Sayangnya apa? Ayo katakan!"
Fazila ku!
Refal tidak sadar kalau dia sudah sedekat itu, memanggil Fazila sebagai miliknya.
"Baiklah. Aku akan selalu tersenyum, tapi dengan satu syarat..." Kali ini giliran Fazila yang menggoda Refal dengan ucapan singkatnya.
"Apa itu? Maksudku, apa syarat-nya? Jangan berat-berat, aku khawatir tidak akan bisa memikulnya."
"Haha! Jangan menatapku seperti itu, aku khawatir akan jatuh cinta padamu." Fazila menyeringai, menggoda Refal. Sedetik kemudian ia mencubit hidung Refal seperti yang Refal lakukan padanya sejak tadi.
Tak Ingin mendapat balasan yang sama, Fazila langsung berjalan cepat kearah pintu sambil membawa senyumannya.
__ADS_1
"Tunggu aku! Apa salahnya jatuh cinta pada suami sendiri?" Celetuk Refal dengan suara lantang, tentu saja suaranya berhasil membuat orang yang ada di luar kamar ikut tercengang.
Glekkk!
Fazila menelan saliva begitu ia menutup daun pintu, belasan anak didiknya menatapnya dengan tatapan heran tak terkecuali tamu yang datang dari pihak Radio.
"Ka-kalian ada disini?" Fazila bertanya, namun ia sangat malu. Ia sangat gugup karena semua orang yang berdiri di depannya mendengar suara Refal dengan sangat jelas.
"Fazila... Jangan coba-coba menghindari kuuuu..."
Duarrrr!
Bagai disambar petir disiang bolong, tubuh Refal tiba-tiba kaku. Baru saja dia berusaha menggoda Fazila, netra teduhnya tiba-tiba membulat, ia menatap belasan orang yang menatapnya dengan tatapan heran.
"Kalian ada disini? Apa kalian berusaha menguping pembicaraanku dan istriku?" Refal balas menatap semua orang.
"Ooo... Jadi kalian yang meminta istriku membuka hijabnya? Pergi dari sini, aku tidak akan membiarkan istri ku tinggal di tempat dimana orang tidak menghormatinya. Kalian mengerti?" Sambung Refal lagi, kali ini ia menatap dua pria berbadan tegap yang berdiri di depannya itu.
Fazila hanya bisa tersenyum simpul mendengar ucapan Refal.
"Sudah. Jangan menakuti mereka. Mereka datang kemari dengan niat baik. Pak Dilon, Angga. Apa kabar? Perkenalkan, dia suamiku. Dia hanya bercanda." Ucap Fazila sambil melingkarkan tangannya di lengan kanan Refal.
"Ayo, kita bicara, disana!" Tunjuk Fazila kearah taman yang ia sulap layaknya Kafe mini.
"Sekarang katakan, apa tujuan Pak Dilon dan Angga datang ketempat ini? Seingatku, aku tidak pernah menulis alamat ini di formulir." Keluh Fazila sambil melipat kedua lengan di depan dada. Mengingat ucapan Pak Dilon masih saja membuat Fazila kesal, namun sebisanya ia bersikap ramah pada tamu yang datang menemuinya.
"Bu-bukankah dia Pak Refal? Pa-pak Gubernur? Ja-jadi sekarang aku berhadapan dengan Istri Pa-pak Gubernur?" Pak Dilon berucap dengan kepala tertunduk.
"Sudahlah, Pak. Jangan mengalihkan pembicaraan. Katakan apa yang ingin anda katakan, seperti yang anda tahu aku bukan orang yang akan membuang-buang waktu untuk hal yang tidak terlalu penting.
Permintaan maaf? Aku tidak mengharapkan itu dari anda, dan sebelum anda meminta maaf, aku sudah memaafkan anda. Yang perlu anda lakukan tidak perlu lagi berkata kasar, padaku atau pada karyawan lain. Kami punya hati, kami juga punya perasaan, kami bahagia saat kerja keras kami di hargai, dan kami sedih saat orang lain memaki-maki kami." Gerutu Fazila.
__ADS_1
Dari jarak sepuluh langkah, berdiri Refal dan Angga saling bersisian. Jika Fazila tidak melarangnya, sudah pasti Ia akan memaki pria bertubuh jangkung dengan kepala pelontos itu.
...***...