Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Cinta Tidak Seperti Itu!


__ADS_3

Ketika malam tiba, selalu saja ada cerita baru yang di tawarkannya. Dan dalam setiap rangkaian cerita-cerita baru itu Refal selalu saja menemukan kenyataan-kenyataan mengejutkan tentang sosok Fazila, dimana kenyataan-kenyataan itu sanggup membuat seorang Refal Mahendra Shekar bertekuk lutut dan semakin mencintai sosok Fazila. Apakah cintanya terlalu berlebihan? Iya, itu mungkin saja. Namun kabar baiknya, tidak ada larangan dalam mengekspresikan cinta bagi pasangan yang telah Halal dalam mahligai nan suci, karena dalam setiap sentuhannya bernilai ibadah. Bukankah itu menakjubkan?


"Ya Tuhan... Betapa bodohnya Aku, selama ini peri itu selalu ada di sisiku tapi Aku tidak menyadarinya. Otak cerdasku benar-benar tidak berpungsi." Gerutu Refal sembari melangkahkan kakinya memasuki gedung tempat Fazila siaran Radio, siaran yang telah berlangsung sejak lima belas menit yang lalu.


Lakukan semuanya. Semua yang Ku minta tadi. Jangan ada kekurangan apa pun. Jika Aku tahu Kau melakukan kesalahan maka saat itu juga Aku akan memecatmu. Tulis Refal dalam pesan singkatnya, pesan yang Ia tujukan untuk Bima itu melesat dengan cepat, saat ini Refal yakin Asistennya itu pasti telah membaca pesannya dan meninggalkan dirinya sendirian. Eitss! Bukan sendirian, masih ada Bodyguard suruhannya yang mengintai dengan mata elang.


Sementara itu di ruang siaran, duduk Fazila sendirian. Lagu cinta yang di putarnya mengalun indah menggetarkan jiwa para pendengarnya. Atau tepatnya para jomblo wan dan jomblo wati yang sedang berusaha meraih cinta tanpa perlu mengorbankan diri dalam pusaran dosa, Zina.


"Bagaimana lagunya? Apa kalian suka? Aku harap kalian menyukainya. Dan satu lagi, Aku selalu berharap kalian tidak terlibat dengan hal-hal yang berbau negatif. Malam ini Aku sangat sedih, karena malam ini akan menjadi malam perpisahan kita. Malam ini akan menjadi malam terakhir kita untuk saling berbagi rasa suka dan duka.

__ADS_1


Jangan bilang-bilangnya, Aku sudah menikah dan tidak bisa lagi menemani malam kalian. Apa kalian sedih? Aku harap tidak yaaaa! Haha." Fazila tertawa ringan. Dan di detik selanjutnya Fazila mulai terdiam, Ia mengatur nafasnya. Saat siaran, terkadang Fazila tidak bisa menahan degup jantungnya, takut melakukan kesalahan, dan itu salah satu alasannya.


"Baiklah sobat muda... Sekarang waktunya kita membaca pesan singkat yang kalian tujukan untuk Meyda, mari kita lihat berapa banyak pesan yang masuk... Waw, ini benar-benar menakjubkan. Hanya dalam tempo lima belas menit saja kalian telah membanjiri Meyda dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhasil membuat kalian berada dalam kegalauan tingkat tinggi."


Fazila tersenyum, Ia bahagia. Ternyata masih banyak yang menyukai acara yang di pandunya. Dan lebih menakjubkannya lagi, acara ini sebagian besar pendengarnya terdiri dari kalangan remaja. Itu artinya masih banyak remaja yang menyadari pentingnya menjauhkan diri dari pergaulan bebas.


"Baiklah... Ini dia pertanyaan terakhir yang akan Ku jawab, dan di sesi selanjutnya akan di gantikan oleh penyiar lain yang lebih berkompeten di banding Meyda." Ucap Fazila lagi, netranya menangkap kehadiran sosok yang sangat di rindukannya sejak pagi.


Ya, Refal sedang tersenyum ke arah Fazila sembari mengacungkan dua jempolnya. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari posisi ini? Sebelumnya, Fazila bahkan tidak pernah membayangkan akan di tunggu di depan pintu oleh seorang pria terbaik menurutnya, Refal Mahendra Shekar.

__ADS_1


"Tunggu di sana. Aku akan segera keluar." Ucap Fazila dengan bahasa isyarat. Tidak ada balasan dari Refal selain anggukan kepala pelan dan senyuman menawan yang memenuhi wajah tampannya.


Kak Meyda, saya sangat menyukai Kakak. Bisa di bilang nafas cinta Saya bermula semenjak Saya mendengarkan acara Cuap-cuap bareng Meyda.


Pertanyaan Saya... Bagaimana cara menjaga cinta dan rasa hormat pada kedua orang tua saya. Sejujurnya, kedua orang tua Saya menolak pria pilihan Saya. Padahal Saya sangat mencintai pria itu dengan sepenuh hati. Saya sangat putus asa. Dari Mega di tempat yang kurang bahagia.


Fazila terlihat menghela nafas kasar. Ia berpikir untuk sejenak, memikirkan jawaban apa yang harus Ia beri. Seandainya Refal ada disisinya sudah pasti Ia akan meminta saran darinya


Putus Asa? Apakah itu bisa dikatakan cinta jika perasaan itu hanya mendatangkan putus asa dan luka? Cinta tidak seperti itu. Fazila bergumam di dalam hati, Ia menatap Refal yang sedang melambaikan tangan namun otaknya berpikir semoga jawaban yang akan Ia beri bisa mendatangkan Cahaya bagi hati yang sedang tersesat dalam kegelapan perasaan yang membingungkan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2