
Disebuah Masjit megah yang ada di pusat kota, berkumpul ribuah jama'ah untuk melaksanakan Shalat jumat. Saat ini semua jama'ah terlihat khusyuk, mereka sedang berzikir setelah Shalat di tunaikan. Sungguh, ini benar-benar pemandangan luar biasa, karena tak ada satu pun jama'ah yang bergerak dari posisi duduknya.
Di saat semua orang sedang khusyuk berzikir, sebagian jama'ah yang ada di saf bagian belakang malah mengaduh menahan sakit, maklum saja seorang pria tiba-tiba menerobos masuk dan membuat kekacauan hingga hal itu menyita perhatian sang Imam yang ada di posisi terdepan.
Untuk sementara doa di hentikan, dan sang Imam mulai berbicara melalui mikrofon agar tidak melakukan tindakan kekerasan, atau tepatnya sang Imam meminta jama'ah agar tidak memukuli sosok yang berhasil membuat kegaduhan. Ini benar-benar kejadian langka dimana sang Imam menunda doanya, dan mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi di tempat lain.
Sementara itu, di saf paling depan, duduk Refal di samping Tuan Alan. Mereka tidak berkomentar apa pun tentang kekacauan yang terjadi siang ini. Dari pada meributkan hal yang sudah di tangani, mereka lebih memilih untuk melanjutkan doa yang sempat tertunda.
Lima belas menit.
Iya, butuh lima belas menit agar zikir dan Doa usai, kini sosok pembuat onar pun di hadapkan di depan sang Imam dengan di saksikan oleh semua jamaah yang ingin menghajarnya karena telah melakukan penghinaan besar.
__ADS_1
"Dia terlihat muda, tapi ada apa dengannya? Kenapa mengganggu orang yang sedang beribadah? Aku rasa dia narapidana yang kabur dari penjara. Dasar tidak berguna. Dasar manusia hina." Sayup-sayup, Refal mendengar ucapan pria paruh baya yang duduk di belakangnya.
Refal tidak menyalahkan orang itu karena berkomentar apa pun yang di inginkan hatinya. Yang jadi masalahnya, kenapa dia tidak diam saja, bukankah diam lebih baik dari pada sekedar mengatakan omong-kosong tidak berguna?
"Kurangi keingintahuanmu terhadap kehidupan orang lain, niscaya gibahmu juga akan berkurang." Ujar Refal dengan suara lirih, ia hanya ingin mengingatkan dirinya sendiri kalau dia bukanlah sosok yang suka membicarakan orang.
Di saat orang lain sedang sibuk menatap ke arah sang Imam dan pria pengacau yang datang entah dari mana, Refal malah melanjutkan doanya. Memohon pada yang Kuasa agar segera menyadarkan Fazila-nya. Dan bagi Refal, hanya itu yang dia inginkan.
"Katakan siapa namamu? Dan kau berasal dari mana?" Sang Imam mulai membuka suara setelah semua jama'ah terdiam. Tidak ada balasan dari pria itu, yang terdengar hanya suara tangisan yang semakin menyayat hati.
"Apa Abi butuh sesuatu? Refal akan meminta Bima melakukannya. Refal harus kembali ke rumah sakit, kasihan Ummi sendirian di sana. Lagi pula, Refal tidak bisa meninggalkan Fazila terlalu lama."
__ADS_1
"Nak, Fazila tidak akan sendirian. Abi yakin Mama mu pasti sudah datang dan menemani Ummi. Apa kau tidak kasihan padanya?" Tuan Alan menunjuk kearah depan, tepatnya menunjuk pria di dekat sang Imam.
Refal menyipitkan mata berharap bisa mengenali sosok itu, baik Tuan Alan ataupun Refal tidak akan bisa melihat wajah histeris pria di dekapan sang Imam karena tubuh jangkung itu membelakangi mereka.
"Tunggulah sebentar lagi, Abi juga ingin mengetahui kenapa kekacuan ini bisa terjadi." Ucap Tuan Alan tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Refal. Bagai kerbau yang di cocok hidungnya, Refal hanya bisa mangut mendengar permintaan ayah mertuanya.
Huahhhh!
Suara teriakan dan isakan itu kembali terdengar, namun sekarang lebih menyayat hati di banding sebelumnya. Sepersekian detik kemudian pemilik tubuh kekar layaknya mega bintang itu berbalik menghadap ribuan jama'ah, matanya terlihat sembab.
Bagai di sambar petir di siang bolong, Refal dan Tuan Alan terlihat tegang. Mereka terlihat layu dengan tatapan kesedihan.
__ADS_1
Ya Rabb... Ada apa ini? Aku merasa seolah sedang menonton adegan menyedihkan dalam film, tapi sayangnya ini bukan film. Ini kenyataan! Refal bergumam di dalam hatinya sembari beranjak bangun dari posisi duduknya yang kemudian di ikuti oleh Tuan Alan yang berjalan di belakangnya.
...***...