
Dari jarak lima meter Matthew masih mengekori mobil yang di kendarai Fazila dengan hati-hati agar si pengendara yang ada di depannya tidak mengetahui keberadaannya.
Matthew tertawa, Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaannya. Semua ini terasa bagai mimpi, jika ini mimpi Matthew benar-benar tidak ingin bangun lagi. Mimpi ini terlalu indah untuk di biarkan berlalu begitu saja. Setidaknya itu yang dia pikirkan.
"Nona pemarah, cukup lama Aku melihat mu di dalam mimpiku. Hari ini Kau hadir di depan Ku bagai mentari yang menghangatkan." Ujar Matthew tanpa bisa melepas senyuman dari wajah tampannya.
"Kamu pikir apa yang akan Aku lakukan jika melihat Mu ada di depanku? Haha." Matthew hanya bisa terkekeh. Sementara pandangannya menatap lurus ke depan.
"Rasanya Aku ingin memakan Mu. Sekarang juga!" Celoteh Matthew dengan tidak sabar. Ia terus saja mengekori mobil merah yang ada di depannya sampai memasuki area parkir Hotel.
Di dalam Mobil merah, Fazila dan dua rekan Dosen-nya keluar dengan santai tanpa berpikir ada orang aneh yang sedang mengikutinya, Ia berjalan pelan sambil tersenyum, sesekali Fazila mencubit lengan rekannya dengan gemas. Jujur, hal itu membuat Matthew yang berdiri tak jauh darinya seolah meleleh dalam perasaan penuh cinta.
Cinta? Kau tidak bisa mencegah hatimu untuk jatuh cinta pada siapa pun yang di inginkannya, namun Kau bisa mencegah dirimu untuk tidak melebur dalam perasaan yang akan membuatmu menderita.
"Kak Zii... Aku tidak pernah menyangka Kau bisa menikah dengan Pak Gubernur! Jika Aku tahu Aku akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan hati Pak Gubernur." Ujar rekan Fazila yang usianya setahun lebih muda di banding Fazila.
Tidak ada balasan dari Fazila selain senyuman menawan yang coba Ia tampakkan, Ia tahu rekannya hanya berniat untuk menggodanya karena itu Ia lebih memilih tidak menghiraukan ucapannya.
"Di mana acaranya? Kenapa kita harus datang ke tempat ini? Seharusnya Aku tidak perlu ikut, seharusnya Aku menitipkan kado ini saja tadi." Ucap Fazila menyesali keputusannya. Ia khawatir akan terlambat, karena sore ini Ia harus menyiapkan materi siaran terakhirnya.
"Ayo lah Kak Zii, jarang-jarang Lo kita bisa keluar seperti ini. Kita akan nikmati waktu ini tanpa ada gangguan dari siapa pun. Lagi pula Pak Gubernur tidak ada disini, Kau bisa melakukan apa pun tanpa takut mata elangnya akan menghakimi mu." Ujar rekan Fazila sambil menarik lengannya agar lebih mempercepat langkah menuju tempat acara, atau tepatnya Ia akan menghadiri pesta ulang tahun rekan dosennya.
__ADS_1
Satu jam berlalu akhirnya sosok yang Matthew tunggu datang juga. Sejak tadi dadanya berdebar sangat kencang, seolah jantungnya akan loncat keluar. Tidak bisa di bayangkan, sosok sempurna seperti Matthew duduk seorang diri menanti kedatangan gadis pujaannya. Dalam hati Ia berdoa semoga kesempatan ini tidak lolos dari tangannya, karena itulah Ia lebih memilih menunggu seperti orang bodoh.
"Apa Ku bilang, acara ini akan lebih berkesan dengan ke hadiran Kak Zii. Dan ternyata itu benar, kan?"
"Sudahlah, jangan terlalu menyanjung Ku. Bagaimana kalau Aku besar kepala lalu melupakan kalian semua? Aku lebih suka saat kalian memperlakukankan ku seperti biasa. Tanpa embel-embel istri seorang Gubernur." Ucap Fazila menegaskan. Dua rekan Fazila tampak menganggukkan kepala, setahu mereka Fazila memang seperti itu, tidak pernah menyombongkan latar belakang keluarganya, karena memang itulah kebenarannya.
"Pe-permisi A-apa kita bisa bi-bicara sebentar?"
Fazila dan kedua rekannya menghentikan langkah kaki mereka, kemudian menatap kearah sumber suara. Fazila menatap dari atas sampai ke bawah sosok yang berdiri di depannya, keningnya berkerut, menandakan kalau orang yang berdiri di depannya hanya orang asing. Orang asing.
"Iya, ada yang bisa Saya bantu?"
"No-nona, Saya ingin bicara dengan anda. Hanya dengan anda!" Ucap Matthew menegaskan. Tangannya menunjuk ke arah Fazila.
"Tempatnya, Saya yang tentukan. Mari ikut Saya." Ucap Fazila lagi sambil tersenyum tipis. Ia berjalan pelan di depan Matthew sambil menenteng bingkisan di tangan kanannya.
"Baiklah, lima menit anda di mulai dari sekarang." Ucap Fazila begitu ia duduk di bangku taman.
"Lima menit, itu sudah cukup untuk Ku."
"Syukurlah. Sekarang katakan, apa yang anda inginkan. Saya tidak punya bayak waktu, saya harus kembali ke kampus." Ujar Fazila sembari menatap lawan bicaranya. Sedetik kemudian Ia terlihat mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Semenit, dua menit, hingga menit ke empat berlalu masih belum ada yang terlontar dari bibir Matthew, pemuda tampan itu masih terlalu terkejut dengan kondisi ini. Karena tidak bisa menahan perasaan bahagianya, Ia sampai tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
"Mohon maaf, waktu anda tersisa tiga puluh detik lagi. Saya tidak punya waktu lagi, saya harus pergi." Untuk kesekian kalinya Fazila mengingatkan.
"Teman-temanku ada di sana." Kali ini Fazila menunjuk ke arah dua rekannya yang tak jauh dari tempat duduknya.
Sia-sia saja Aku membuang waktu Ku. Pria ini benar-benar aneh. Batin Fazila sembari bangun dari posisi duduknya.
" A-apa Kau ingat pristiwa di Restoran waktu itu? Kita juga bicara di parkiran tempo itu." Ucap Matthew memecah keheningan.
Fazila menghentikan langkahnya, Ia berbalik menghadap pria yang masih tidak Ia ketahui namanya.
"Restorant? Parkiran?" Memori Fazila seolah berkelana, sampai akhirnya Ia mengingat pristiwa dimana Ia di hadapkan dengan pria mesum beberapa bulan yang lalu.
"Aahh... Iya, Aku ingat." Ucap Fazila sambil tersenyum tipis.
"Apa anda ingin mengatakan apa Saya masih ingat dengan kejadian itu? Jika itu masalahnya, maka jawabannya saya sudah melupakannya. Berhubung anda mengatakannya, maka saya ucapkan terima kasih. Saya permisi." Ucap Fazila spontan. Selama lima menit ini Ia lebih banyak merunduk, jika ada yang bertanya kenapa Fazila lebih memilih bicara dengan pria asing itu di taman, maka jawabannya sangat sederhana, karena di taman banyak orang yang berlalu lalang sehingga fitnah sekecil apa pun akan lebih mudah untuk di tepis. Di samping itu, masih ada dua rekan Fazila yang saat ini menunggu tak jauh dari tempatnya berdiri, karena Fazila memintanya secara khusus untuk mengawasi gerak-gerik mereka.
Matthew?
Ia tertegun, tidak ada hal yang bisa Ia lakukan untuk mencegah kepergian gadis seindah purnama yang telah berhasil mencuri setiap malamnya. Mencoba bicara dengan gadisnya sama sekali tidak membantu, karena Ia laksana patung yang tidak bisa menggerakkan bibirnya. Benar-benar menyedihkan.
__ADS_1
...***...