Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Nona Sempurna!


__ADS_3

"Pak Gubernur, saya tahu anda tidak menyukai saya. Tapi saya mohon dengan sangat, izinkan saya bertemu dengan Nona Fazila. Hanya ini kesempatan yang saya punya." Matthew berucap sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. Wajah tampannya mengukir kesedihan. Biasanya ia tidak suka menerima penolakan, namun kali ini, ia berusaha berdamai dengan keadaan, terutama berusaha keras untuk bisa berlapang dada. Ia tahu, walaupun seribu kali Refal menolaknya ia tetap tidak punya hak untuk marah.


"Saya tahu saya tidak berhak berharap, tapi untuk kali ini saya benar-benar berharap anda akan mengizinkan saya bertemu dengannya. Sungguh, saya akan tiada dalam penyesalan jika saya tidak bertemu dan bicara dengan Nona Fazila." Matthew hampir saja bersujut di bawah kaki Refal, dengan cepat Refal memegang lengannya hingga pria rupawan itu kembali berdiri dengan tegap.


"Aku tidak tahu apa yang ingin kau bicarakan di depan istriku yang masih tidak sadarkan diri. Melihat usaha kerasmu di depanku, aku yakin kau tidak akan bertindak bodoh walau aku tidak disana sebagai mata-mata." Refal berucap sembari menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Baiklah. Aku mengizinkanmu. Kau bisa bertemu dengannya, ada Ummi disana, kau bisa bilang aku sudah mengizinkanmu bertemu dengan Fazila." Ucap Refal berbesar hati, walau ia tidak suka, ia yakin pria yang ada di depannya tidak akan melakukan tindakan bodoh.


Matthew tersenyum bangga sembari mengingat pembicaraannya dengan Refal sepuluh menit yang lalu. Dan disinilah ia sekarang, di dalam ruang inap Fazila sambil meneteskan air mata.


Bukankah Matthew terlalu cengeng? Kenapa ia mudah sekali meneteskan air mata? Dimulai dari bangun tidur, dan sekarang ia pun kembali meneteskan air mata. Jangan salahkan dia, di hatinya ada luka dan banyak tanda tanya yang membutuhkan jawaban.

__ADS_1


Akhirnya setelah usahanya meluluhkan Refal hingga bisa mendapatkan izin dari pria itu untuk bertemu Fazila, dengan bangga Matthew bisa membulatkan tekadnya. Satu hal yang Ia syukuri saat ini, ia bersyukur Ummi Fatimah meninggalkannya secara sukrela. Apa jadinya jika Ummi Fatimah melihatnya menangis? Ia benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu.


"Assalamu'alaikum Nona sempurna. Bagaimana kabarmu hari ini?" Matthew mulai membuka suara sambil menatap wajah pucat sang hafizah cantik. Matanya kembali berair saat ia menyadari sosok indah di depannya hanya bisa diam tanpa menghiraukan ucapannya.


"Terima kasih karena kau telah lahir kedunia ini, dan aku merasa bangga bisa mengenal Nona sempurna seperti Nona Fazila. Apa aku berlebihan?" Entah kenapa wajah tampan Matthew tiba-tiba mengukir senyuman. Senyuman bahagia karena ia bisa melupakan kepedihannya.


"Kau tahu aku sangat mencintaimu. Dan aku pun tahu cintaku padamu bukan sekedar ilusiku. Mencintaimu artinya bahagia, mencintaimu artinya menenangkan, mencintaimu artinya mendapatkan kebenaran, dan mencintaimu artinya Surga.


"Nona sempurna, kau tahu?" Matthew menjeda kalimatnya, rasanya ia ingin memegang jemari Fazila kemudian mencium kening wanita di depannya itu, wanita yang selalu mencuri ketenangan siang dan malamnya. Sekuat tenaga Matthew menghentikan dirinya untuk tidak melakukan hal hina itu. Dan seburuk-buruknya Matthew, ia tidak akan melakukan hal yang tidak di sukai Bidadari di hatinya.


"Sudah cukup aku mengungkapkan betapa besar cintaku padamu, aku janji tidak akan pernah mengatakannya lagi. Tapi dengan satu syarat..." Untuk sesaat, Matthew terdiam. Ia menarik nafas dalam kemudian pelan menghembuskannya dari bibir.

__ADS_1


"Syaratnya, kau harus bangun dari tidur panjangmu."


"Iya, aku tahu kau terlihat cantik saat kau tertidur, tapi maaf kau lebih cantik saat kau tersenyum." Matthew tertawa sambil memperbaiki selimut Fazila. Sedetik kemudian wajah tampannya memamerkan kesedihan. Cukup lama ia terdiam. Sampai akhirnya ia memutuskan akan mencium kening Fazila.


Deg.


Matthew menghentikan aksi tidak terpujinya saat bibirnya hampir saja menyentuh kening mulus Fazila. Ia mengingat dengan jelas betapa marahnya Fazila saat ia memeluknya dulu, kali ini Matthew tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, kesalahan yang akan menodai cintanya.


Nona sempurnaku, aku akan pergi, terima kasih untuk segalanya. Sungguh, aku akan mengenangmu dalam ingatanku, aku juga akan meminta pada Tuhan agar kau selalu berbahagia. Assalamu'alaikum Nona sempurnaku, jaga dirimu. Gumam Matthew sambil mengusap sudut mata dengan punggung tangannya, ia meninggalkan ruang inap Fazila menuju tempat yang sejak pagi ingin ia datangi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2