Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Lamaran!


__ADS_3

Apa kamu tahu kalau kamu membuatku berada dalam kesusahan? Tikus tetap saja tikus. Dan apa kamu juga tahu kalau aku tidak suka pada pegawai yang korup? Bahkan jika kamu bersembunyi di dalam tanah sekalipun, aku pasti akan menemukan persembunyianmu! Cihhh!


Refal berdecih sembari membuang muka. Ia menatap tajam kearah sosok yang saat ini berdiri di depannya. Jika dia bisa, rasanya dia ingin mematahkan sosok tidak tau malu itu dengan kedua lengan kekarnya.


Bukankah kamu memiliki tiga anak? Dua diantaranya akan memasuki Universitas. Bayangkan perasaan mereka jika mereka tahu kalau Ayahnya hanya tikus rakus yang memakan uang rakyat! Dan buruknya, aku bukan orang yang mudah untuk di ajak kompromi dalam hal besar ini! Celoteh Refal dengan suara pelan, bibir tipisnya menyunggingkan senyuman, namun dadanya bergemuruh seolah ingin menelan hidup-hidup pria paruh baya yang berani mencuri dan mengatas namakan dirinya sebagai pemberi wewenang penuh.


Malam ini aku akan bertunangan dengan gadis tercantik dan terbaik di dunia, dan aku tidak ingin mengucapkan kata-kata kasar, apa lagi sampai mengeluarkan tenaga untuk menghajar pria rendahan sepertimu. Tunggu sampai aku selesai bertunangan dan menyelesaikan pernikahanku. Kita akan bicara lagi dengan emosi dan amarah yang berbeda. Celoteh Refal lagi. Kali ini ia bicara dengan nada suara lantang.


Tahan dia. Dan serahkan kasus ini pada pihak berwenang. Aku akan bicara dengannya lagi, nanti. Refal memerintah Asistennya sambil beranjak dari kursi kebesarannya. Dadanya sudah cukup berdebar karena urusan lamaran dan pernikahan. Kini ia malah terlibat dengan urusan yang membuat emosinya memuncak.


Tok.Tok.Tok.


Refal terkejut, kepalanya sontak menoleh ke arah daun pintu. Seketika ingatannya tentang pria paruh baya yang menerima sogokan dan mengatas namakan dirinya itu menghilang entah kemana.


"Apa kami boleh masuk?"


Tiga pria rupawan dengan tampilan layaknya mega bintang memasuki kamar tamu Mansion Wijaya. Wajah tampan mereka memamerkan kebingungan. Sangat bingung sampai tidak tahu harus menyapa dengan cara apa.


"Aku tahu apa yang kalian pikirkan! Perlakukan aku seperti anggota keluarga yang lain. Disini dan saat ini aku bukanlah seorang Gubernur, karena aku datang untuk meminang Kakak perempuan kalian." Ucap Refal begitu ketiga pria rupawan yang berstatus sebagai adik-adik Fazila berdiri di dekat ranjang kamar tamu tempat Refal menanti untuk di panggil oleh kedua belah pihak keluarga.


"Pak Gubernur beneran mencintai Kak Fazila? Saat kita bertemu sikap anda seolah tidak mengenal Kakak perempuan kami. Kami laki-laki, jadi sangat mudah bagi kami untuk membaca jalan pikiran laki-laki lain." Celoteh Umang dengan nada suara datar. Ia menatap wajah Refal dengan tatapan tak percaya. Dalam benaknya, ia berpikir tidak ada pria yang cocok untuk kakak perempuannya.

__ADS_1


"Ya... Kami berdua juga berpikir sama." Tunjuk Regan pada Fatih yang saat ini berdiri di dekatnya.


"Kakak perempuan kami sangat berharga dan dia sangat istimewa. Jika di lihat dari sudut pandang kami sebagai laki-laki, Pak Gubernur pasti sedang terburu-buru." Sambung Fatih tanpa melepas tatapan tajamnya dari sosok sang Gubernur. Padahal dua hari yang lalu saat ia berkunjung ke kantor Refal, dia tampak takut dan membatasi ucapannya agar terkesan santun.


"Jika Pak Gubernur berniat mendekati kakak kami hanya untuk hiburan atau sebagai pelampiasan saja, jangan coba-coba memikirkan itu, karena kami bertiga sudah cukup utuknya sebagai pelindung." Kali ini giliran Umang yang angkat suara. Dia sama ketusnya dengan kedua saudaranya yakni Fatih dan Regan. Jika hal itu menyangkut kakak perempuannya, mereka tidak akan mau mengalah.


"Kalian bertiga adik yang baik, sayangnya kalian tidak boleh menakutiku seperti itu. Bagaimana jika aku kabur dari tempat ini? Kalian tidak akan mendapatkan Kakak Ipar setampan dan sebaik diriku lagi.


Haha! Aku hanya bercanda. Nikmati waktu kalian tanpa beban!" Bukannya menanggapi ketiga adik Fazila dengan serius, Refal malah bercanda sambil tertawa pelan. Sejujurnya dia sedang berusaha terlihat baik-baik saja sehingga rasa gugupnya lekas menghilang.


"Kalian tidak perlu khawatir, aku pria yang menjunjung tinggi nilai hubungan. Tidak akan terjadi apa yang kalian pikirkan.


Di luar sana banyak laki-laki berbohong dan menawarkan kebahagiaan, aku berbeda, karena aku tidak menawarkan apa pun, aku akan melakukannya melalui tindakan, membuat Kakak kalian merasa nyaman kemudian membangun hubungan langkah demi langkah hanya untuk membuatnya merasa nyaman kemudian bahagia bersama hingga maut memisahkan." Refal berucap sembari menatap satu per satu adik Fazila. Entah Fatih, Regan maupun Umang bukanlah sosok yang mudah untuk di bujuk.


"Tidak Ummi, kami tidak melakukan apa pun. Kami hanya menyapa calon Kakak Ipar." Ucap Fatih cepat sebelum Umminya bicara ngelantur, memarahi mereka kemudian menarik telinganya.


"Baiklah Kakak Ipar, kami pergi dulu. Jaga dirimu!" Ujar Regan sambil buru-buru bangun dari ranjang yang ia duduki sejak tiga menit yang lalu.


Untuk sesaat, kamar tamu yang tadinya di penuhi oleh suara tegas ketiga adik Fazila itu kini berubah senyap setelah kedatangan Umminya. Baik Fatih, Umang dan Regan saling tatap dan memberikan isyarat agar segera keluar dari kamar tamu yang di huni oleh Refal itu.


"Apa anak-anak menyusahkan mu? Maafkan mereka, mereka hanya adik baik yang ingin melindungi kakak perempuannya." Ucap Bu Fatimah setelah ketiga putranya keluar dan menyisakan dirinya dan Refal di kamar tamu.

__ADS_1


"Mereka tidak mengatakan apa pun. Justru saya semakin menghormati Nona Fazila karena melihat kekompakan adik-adiknya."


"Ya sudah, ayo kita keluar. Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah."


Sejak Refal datang bersama rombongan keluarganya, ia diminta masuk ke kamar tamu karena ada hal penting yang harus didiskusikan dengan para tetua. Tak butuh waktu lama, hanya lima menit saja, kini Refal sudah di minta turun kembali dan bergabung bersama semua orang.


Di ruang tengah berkumpul puluhan orang dari kedua belah pihak keluarga sebagai saksi moment indah ini. Di sofa duduk Tuan dan Nyonya Shekar dengan senyum mengembang di wajahnya, mereka tampak bahagia, moment indah yang di nanti-nanti akhirnya datang juga.


"Kak Fazila... Dia bagaikan mentari, mentari yang selalu menghangatkan. Dia tidak bicara kecuali ucapannya benar, dia juga tidak marah kecuali marahnya memilik alasan yang benar.


Aku tidak pernah bertemu dengan gadis lain melebihi kebaikan Kak Fazila. Aku juga tidak pernah bertemu dengan gadis lain melebihi kecerdasan dan kebijaksanaan dirinya. Ummi, Abi, jika aku bertemu dengan gadis sebaik, sebijak dan secerdas Kakak, tolong izin aku untuk menikahinya...!" Ucap Fatih memecah keheningan.


Hahaha!


Ruang tamu yang tadinya senyap berubah riuh oleh tawa semua orang setelah mendengar guyonan Fatih.


"Hay Nak, jika kau ingin menikah maka carilah wanita yang kebaikannya seperti Pak Gubernur agar kalian berdua sepadan." Balas Oma Nani meledek cucu nakalnya. Fatih hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan Omanya.


"Baiklah. Sudah cukup bicaranya. Sekarang kita sambut bintang malam ini. Ini dia wanita tercantik di dunia, Meyda Noviana Fazila." Tunjuk Fatih kearah tangga.


Fazila berjalan pelan menuruni anak tangga di temani oleh Tante Sabina-nya. Wajah cantiknya membius semua orang, termasuk Refal. Hanya dengan make up tipis, wajah itu tetap memancarkan kecantikan yang sanggup memikat hati siapa saja.

__ADS_1


Subhanallah... Inikah Bidadari Surga itu? Cantik! Sangat cantik sampai aku tidak bisa mengedipkan mata. Batin Refal sembari tersenyum takjup. Menyadari Mama dan Papanya menatapnya, Refal jadi salah tingkah, tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengedikkan bahunya kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


...***...


__ADS_2