Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Di Restoran!


__ADS_3

"Hahaha... Rupanya Mama masih marah padaku! Baiklah, aku terima itu. Dan Mama berhak melakukannya." Ujar Refal sembari menggenggam jemari lentik Mamanya.


"Bagaimana? Apa Mama suka gadis itu? Aku yakin Mama pasti kecewa sama seperti biasanya! Tidak apa-apa, suatu hari nanti Mama pasti akan menemukannya.


Mama tidak perlu repot-repot mencarikan Refal Gadis, Refal tahu tidak ada gadis yang lebih baik dari Hilya.


Refal janji, jika nanti Refal menemukan gadis yang setara dengan Refal dan dia baik seperti Hilya, Refal sendiri yang akan melamarnya." Sambung refal lagi, wajahnya masih di penuhi senyuman. Walau wajah tampannya masih terlihat memar, hal itu sama sekali tidak mengurangi pesona indahnya.


"Kau salah. Seratus persen salah. Mama sudah menemukan gadis itu dan dia seratus persen lebih baik dari gadis mana pun yang pernah Mama pertemukan dengan mu.


Mama yakin jika kau melihatnya kau akan mudah jatuh cinta. Dia cantik, dia cerdas, dia murni, dan dia baik hati. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, dia seratus persen tidak memiliki cacat apa pun.


Selama hidupnya dia tidak pernah pacaran, jika kau bersanding dengannya maka kau pria pertama dan juga terakhir untuknya. Bukankah itu luar biasa?" Nyonya Asa terlihat antusias.


Berbeda dengan Refal, dia terlihat tidak nyaman. Begitu mudahnya menyanjung seorang gadis di depannya, Mamanya sudah yakin dengan pilihannya, dan itu artinya Refal pun harus mengalah di depan kehendak kedua orang tuanya.


Menjadi seorang Gubernur, tak sekali pun Refal mengabaikan tugas-tugasnya. Begitu juga dengan kehidupan pribadinya, dia tidak pernah menentang kedua orang tuanya.


Saat ini rongga dada Refal di penuhi dengan ketidak nyamanan. Ingin menolak namun tidak kuasa, ingin bahagia pun tidak bisa.


"Walau Mama menyukai gadis itu, Mama janji Mama tidak akan memaksa mu.


Mama pergi kerumahnya hanya untuk bersilaturrahmi. Mereka orang baik, jika kau tidak berjodoh dengan putri rumah itu, Mama yakin bukan mereka yang akan menyesal, tapi kau dan Mama yang akan menyesal karena tidak mendapatkan gadis semurni dan sesempurna dirinya."


Untuk sesaat suasana di kamar Refal kembali hening, tidak terucap sepatah kata pun dari lisan Refal. Dan hal itu membuat Nyonya Asa yakin kalau putranya sedang memikirkan apa yang ia sampaikan.

__ADS_1


Sebenarnya Nyonya Asa sengaja mempermaikan pikiran Refal, ia hanya ingin memanasi putranya saja agar menyetujui permintaannya untuk menemui gadis yang sudah ia pilihkan untuknya.


Sungguh, tidak mudah menemukan gadis yang baik di zaman moderen ini. Beberapa gadis mungkin terlihat baik di depan, namun di belakang tak jarang ia mulai bersikap kasar.


Karena tidak ada tanggapan dari Refal, Nyonya Asa hanya bisa menghela nafas kasar. Ia sangat mengenal putra sulungnya, dan untuk saat ini tidak ada yang bisa Nyonya Asa lakukan selain menciptakan ber juta-juta kesengajaan sehingga semuanya tampak seperti kebetulan yang nyata.


Aku Mama, mu. Bahkan jika kau akan bersin aku sudah tahu lebih dulu. Jika kau keras kepala maka Mama juga bisa keras kepala. Lihat saja nanti. Nyonya Asa bergumam di dalam hatinya sembari menatap wajah tampan putra sulungnya. Baru kali ini Nyonya Asa menyadari ternyata putranya tidak mudah untuk di bujuk.


...***...


Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore saat Matthew menginjakkan kakinya di Restoran Hotel tempatnya menginap. Tatapan matanya sangat tajam, berusaha mencari meja yang kosong.


Entah kenapa sore ini pengunjung Restoran begitu membeludak. Dan hal itu membuat Matthew menghela nafas kasar.


"Selamat sore, Tuan. Ini daftar menu sore ini, silahkan pilih makanan apa pun yang Tuan inginkan. Tuan Alan sudah memerintahkan kami agar menjaga anda dengan baik." Ucap pelayan wanita yang berdiri di sisi kiri Matthew.


Tidak ada balasan dari Matthew selain memamerkan senyuman menawan dari bibir tipisnya.


Cessss!


Dada pelayan wanita itu berdebar sangat cepat, mendapat balasan manis dari sosok rupawan yang masih duduk di dekatnya itu membuatnya merasa bahagia luar biasa. Itu bisa di mengerti, siapa pun yang melihat pesona indah Matthew, pemuda tampan dari Pulau Dewata itu akan mudah meleleh dalam perasaan cinta. Lihat saja sekarang, dua gadis yang duduk di sisi kanan mejanya tak berhenti menatap wajah tampannya. Dan hal itu membuat Matthew merasa kurang nyaman.


"Aku mau ini dan ini." Tunjuk Matthew sambil menyodorkan menu makanan pada gadis muda itu.


Tidak perlu menunggu lama, lima menit kemudian pesanan Matthew sudah tersedia di atas meja makan. Tanpa ragu-ragu Matthew langsung menyodorkan lima lembar uang seratusan pada gadis muda yang sudah meladeninya dengan sikap ramah.

__ADS_1


"Tidak perlu Tuan. Ini sudah menjadi tugas saya."


"Tidak apa-apa, ambil saja. Saya ikhlas memberikannya. Jika Nona menolak, saya akan kesal, lalu membanting meja makan ini. Atau lebih buruk lagi, saya akan meminta Tuan Alan memecat anda karena menolak keiginan saya." Guyon Matthew sambil memamerkan senyuman menawannya. Karena tidak ingin berdebat lagi pelayan wanita itu terpaksa menerima apa yang di berikan Matthew padanya.


Jarak lima meja dari posisi duduk Matthew, duduk seorang gadis cantik bersama dua rekan Dosennya. Mereka terlihat menikmati makanannya, bahkan sejak datang, tepatnya lima menit yang lalu jarang terdengar percakapan dari meja itu. Mereka terlalu fokus pada menu makanan yang meramaikan meja makannya.


"Fazila, beneran kamu nggak mau makan? Makanannya enak-enak, lo." Ucap Rena, rekan Dosen Fazila di Universitas.


"Nggak, ahh. Males. Aku minum kopi aja." Balas Fazila singkat. Sedetik kemudian tangannya kembali meraih cangkir kopi yang ada di depannya.


"Zii... Lo tahu nggak..."


"Nggak." Balas Fazila menyela Rena yang saat ini sibuk mengunyah makanannya. Fazila kembali tersenyum kemudian memasukkan kue dengan garfu ke dalam mulutnya.


"Makan aja dulu. Ngobrolnya nanti aja." Sambung Fazila lagi setelah menelan sisa kue dari dalam mulutnya.


"Lo tahu nggak? Pemilik hotel ini sangat ramah dan baik hati. Dua hari yang lalu saudara gue di tabrak oleh staf hotel ini di halaman depan, tepatnya dekat air mancur." Rena kembali membuka suara.


"Gue yang saat itu menemani saudara gue karena ada wawancara kerja di tempat ini benar-benar terpukau.


Pasangan suami istri itu sangat baik. Dia memarahi anak buahnya karena menyetir kurang hati-hati. Dan kabarnya, pemilik hotel ini punya anak perempuan yang kecantikannya tidak bisa di bantahkan. Semua orang menerka kalau dia tinggal di Eropa dan tidak ingin kembali ke Indonesia. Tapi sayangnya, tak seorang pun pernah melihat wajah cantik putrinya." Tutup Rena dengan wajah sumringah.


Tidak ingin kembali ke Indonesia? Tak seorang pun pernah melihat wajah cantiknya? Mendengar ucapan Rena membuat Fazila ingin tertawa lepas. Entah dari mana dia mendengar kabar burung itu, padahal selama ini mereka selalu bergaul dengan baik, entah di luar kampus atau di dalam lingkungan kampus.


...***...

__ADS_1


__ADS_2